Remah Harian

KEMURAHAN HATI BERAWAL DARI RUMAH

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Senin, 22 November 2021, Senin Pekan Biasa XXXIV, Peringatan St. Cecilia
Bacaan: Dan. 1:1-6,8-20; MT Dan. 3:52-56;Luk. 21:1-4

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.”

(Luk 21: 3 – 4)

Sekali lagi kepada kita dihadapkan kisah tentang persembahan seorang janda miskin untuk refleksi kita. Beberapa minggu yang lalu, kita telah merenungkannya dalam liturgi hari Minggu Biasa XXXII. Pujian Yesus terhadap persembahan janda miskin itu menjadi kontras praktek korupsi para pemimpin agama, sebab janda miskin itu memberikan apa yang dibutuhkan untuk hidupnya dalam sistem yang korup (https://heypasjon.com/persembahan-tulus-di-sarang-perampok/).

Janda, yatim piatu, para pengungsi, dan orang asing adalah orang-orang termiskin di Israel. Janda dalam Injil hari ini mempersembahkan seluruh miliknya yang dibutuhkan untuk kehidupannya karena ia mempercayakan dirinya kepada Allah. Ia memberikan semuanya, sebab baginyua, Allah lebih dari segalanya. Maka Injil hari ini mengundang kita untuk bermurah hati. Kemurahan hati terhadap para miskin, kepada mereka yang berkebutuhan, bagi mereka yang diterlantarkan.

Itulah sebabnya, ketika Gereja mendorong umat untuk bermurah hati, Gereja sendiri tak boleh lalai untuk bermurah hati bagi mereka yang berkebutuhan. Sangat disayangkan, jika ada yang berperilaku seperti para pemimpin agama pada masa Yesus. Misalnya “derma” untuk pelayanan penguburan, perkawinan, baptis, komuni pertama, dan lain-lainnya justru menjauhkan umat dari sakramen-sakramen Gereja. Jika Gereja sungguh-sungguh menjadi tanda kehadiran Allah di tengah-tengah umat-Nya, tentu Gereja tidak hanya peduli pada kebutuhan rohani saja, tetapi juga kebutuhan jasmani, terutama mereka yang miskin dan terlantar.

Kemurahan hati berawal dari rumah kita. Perhatian bagi mereka yang berkebutuhan – para lansia dan mereka yang sakit di rumah-rumah kita tak boleh terlewatkan selagi kita mengulurkan tangan membantu orang lain atau bahkan memberikan persembahan yang besar nilainya. Bisa saja terjadi bahwa orang tua kita yang sudah lanjut dan sakit-sakitan, tinggal dalam penderitaan, sementara anak-anak mereka terkenal dengan karya-karya amal di Gereja dan masyarakat.

Kemurahan hati adalah bagian hidup kita sehari-hari. Seberapa murah hatikah saya terhadap mereka yang berkebutuhan? Dapatkah saya membantu lebih lagi? Sering kali kita berpikir, “Saya kan tidak super kaya…. Biarlah saya memperhatikan kebutuhan saya lebih dulu sebelum bermurah hati….” Paus Fransiskus pernah berkata: “Coba tengok kamar dan lemari anda. Berapa pasang sepatu yang ana miliki? Satu, dua, tiga, empat, limabelas, duapuluh… mungkin terlalu banyak… Jika anda punya banyak pasang sepatu… sumbangkan sebagian. Berapa banyak pakaian yang tidak saya pakai atau hanya saya pakai sekali setahun? Inilah salah satu cara kita untuk bermurah hati, memberikan apa yang saya miliki, berbagi.”

Kita tidak perlu menjadi kaya raya lebih dulu untuk berbagi.

Author

Write A Comment