Sabda Hidup
Rabu, 16 Juli 2025, Rabu Pekan Biasa XV
Bacaan: Kel. 3:1-6.9-12; Mzm. 103:1-2,3-4,6-7; Mat. 11:25-27.
“Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.”
(Mat 11: 25).
Injil hari ini mengajak kita untuk berhenti sejenak dan memuji: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena Engkau menyembunyikan semuanya itu bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi menyatakannya kepada orang kecil.” Betapa indahnya doa dari hati Yesus! Ia bersukacita karena Allah memilih untuk menyatakan kasih-Nya, bukan kepada orang yang sombong dan sok berkuasa, melainkan kepada orang yang rendah hati, yang miskin di hadapan Allah, mereka yang berhati seperti anak kecil.
Apa yang dimaksud dengan “semuanya itu” yang Yesus sebutkan? Itu adalah mukjizat-mukjizat yang tersembunyi yang seringkali luput dari perhatian: orang buta yang melihat, orang kusta yang ditahirkan, orang miskin yang diangkat. Ini bukan sekadar tanda fisik, melainkan tanda Allah yang menyembuhkan, yang memerdekakan, yang mengasihi tanpa syarat. Namun, tidak semua orang melihat. Dalam bacaan Injil kemarin, di kota-kota seperti Khorazin dan Kapernaum, orang-orang menyaksikan mukjizat namun tidak peduli, tidak berubah, tidak bertobat. Mengapa? Karena hati mereka penuh dengan diri mereka sendiri—tidak ada ruang bagi Allah.
Saat ini, kita dikelilingi oleh kebisingan dan pelbagai macam kesibukan, tetapi Yesus mengajak kita untuk berhenti sejenak. Apakah kita masih tahu bagaimana caranya untuk takjub dan bersyukur? Bisakah kita menjadi “anak-anak kecil” yang menyadari keajaiban dari sebuah kebaikan hati, kesempatan kedua, kehadiran Allah yang “tersamar” dalam diri orang miskin, orang sakit, dan orang terlantar?
Mari kita belajar melihat untuk takjub, bersyukur dengan sungguh-sungguh, bersaksi dengan berani, dan melayani dengan rendah hati. Semoga kita juga menjadi anak-anak kecil—yang terbuka hati dan pikirannya, bebas dari kesombongan, dan siap untuk mencerminkan kasih Allah di dunia kita.
Marilah kita memohon kepada bunda Maria, yang memuji Allah dengan hati yang tulus, untuk mengajar kita memuliakan Bapa setiap hari dan sekali lagi mengagumi kebaikan-Nya.
Tuhan, semoga kami selalu terinspirasi oleh rasa hormat dan kekaguman yang mendalam kepada-Mu, dan dipenuhi rasa syukur atas pemeliharaan-Mu yang penuh kasih. Amin.
