Remah Harian

YANG TERBESAR

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Selasa, 21 Februari 2023, Selasa Pekan Biasa VII
Bacaan: Sir 2:1-11Mzm. 37:3-4,18-19,27-28,39-40Mrk. 9:30-37.

“Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.”

(Mrk 9: 35)

Obet dan Tinus adiknya senang sekali siang itu. Dong pu bapa pulang dari kota bawa kue. Obet dan Tinus mulai bertengkar, siapa yang harus lebih dulu dapat kue. Mama yang lihat dong dua bertengkar melihat kesempatan untuk mengajarkan pesan moral: “Obet, Tinus, kalau Tuhan Yesus ada di sini, dia pasti akan bilang, biarlah saudaraku mendapat kue lebih dahulu.” Mendengar itu Obet bilang de pu adik: “Tinus, ko jadi Tuhan Yesus sudah!”

Sudah cukup lama para rasul mengikuti Yesus tetapi Injil hari ini menunjukkan kepada kita betapa mereka masih terpusat pada diri sendiri. Mereka bersaing satu sama lain untuk menjadi yang paling penting dan terbesar di antara mereka. Mereka ingin menjadi yang ‘nomor satu’. Ini adalah masalah mendasar bagi mereka, juga bagi kita yang sering terjebak dalam persaingan, pertengkaran, dan kecemburuan karena ingin menjadi yang terbesar.

“Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya,” (Mrk 9: 35)

Yesus tidak menentang siapa pun yang melakukan sesuatu yang hebat sehingga ia dikenal, populer dan penting. Dia tidak menentang orang tua yang mendorong anak-anak mereka untuk memiliki impian, cita-cita dan visi bagi hidup mereka sendiri.

Apa yang ditentang adalah ketika keinginan menjadi yang terbesar, yang nomor satu, masuk ke dalam kepala kita kemudian merusak kita, mendorong kita untuk mengisolasi diri dari orang lain, untuk membuat diri kita benar-benar bebas dari Tuhan. Apalagi kemudian mendorong kita memperkaya diri kita sendiri tetapi lupa untuk berbagi berkat dengan orang lain atau mengabaikan kebutuhan orang miskin, tersingkir dan kurang beruntung.

Kita bisa menjadi hebat dan menjadi semakin “besar” jika kita belajar melayani orang lain. Seperti Yesus, Anak Allah, Dia yang terbesar, namun rendah hati, melayani, mengasihi dan memberikan hidup-Nya bagi kita.

Seorang murid bertanya kepada seorang Rabbi: “Mengapa dahulu, seperti dikisahkan dalam Kitab Suci, ada banyak orang yang melihat Tuhan dari muka ke muka dan sekarang tak ada lagi?”

Rabbi itu menjawab: “Karena sekarang tak ada lagi orang yang mau menunduk serendah-rendahnya.

Tuhan Yesus, dengan salib-Mu, Engkau telah menebus dunia dan menyatakan kemuliaan dan kemenangan-Mu atas dosa dan kematian. Semoga kami tidak pernah gagal untuk melihat kemuliaan dan kemenangan-Mu di kayu salib. Bantu kami untuk menyelaraskan hidup-ku dengan kehendak-Mu dan mengikuti jalan kekudusan-Mu.

Author

Write A Comment