Sabda Hidup
Selasa, 5 September 2023, Selasa Pekan Biasa XXII
Bacaan: 1Tes. 5:1-6,9-11; Mzm. 27:1,4,13-14; Luk.
Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.”
(Luk 4: 34)
Ketika kita mendengar kata “Allah”, berbagai gambaran muncul di benak kita. Bagi sebagian orang, ketika kita berbicara tentang Allah, gambaran yang terlintas di benak mereka adalah seorang lelaki tua berjanggut putih panjang yang sedang duduk di kursi. Bagi sebagian orang, ketika kita berbicara tentang Allah, gambaran yang muncul di benak mereka adalah seorang lelaki yang mengenakan jubah emas, mahkota di kepalanya, dan tongkat di tangannya. Ada juga orang-orang, mungkin orang-orang Eropa, yang ketika kita berbicara tentang Tuhan, mereka teringat akan lukisan-lukisan di Vatikan, terutama karya-karya Michelangelo. Gambaran Allah bagi mereka adalah seorang lelaki berotot, menyentuh tangan manusia, menciptakan alam semesta dari ketiadaan.
Kita memiliki beragam gambaran tentang Allah. Semua gambaran kita tentang Allah adalah gambaran yang menggambarkan Dia sebagai Allah yang Berkuasa, Allah yang Perkasa dan Allah yang Kuat. Hari ini dalam Injil, bahkan roh jahat menyebut Yesus Kristus dengan suatu sebutan lain – Yang Kudus dari Allah. Apa tanggapan Yesus ketika Dia disebut Yang Kudus, Yang Baik dan Yang Mahabesar? Ia berkata kepada roh jahat itu, “Diam!” Mengapa Tuhan menyuruh roh jahat itu diam? Karena suatu alasan, Tuhan tidak datang ke dunia ini untuk menunjukkan kuasa-Nya. Dia tidak datang untuk menyombongkan kekuatan-Nya atau untuk mengatakan kepada semua orang, “Ini lho, Aku yang amat kudus dan kamu tidak kudus.” Dia tidak datang ke sini untuk memamerkan kuasa, kekuatan dan kekudusan-Nya. Tuhan tidak datang ke sini untuk menjadi sukses. Tuhan menjadi Yesus Kristus yang setia kepada kehendak Bapa. Tuhan tidak datang ke sini untuk mendapatkan pujian. Bahkan Tuhan datang ke dunia ini sebagai seorang yang tak diperhitungkan. Ia lahir di Betlehem. Ia dibesarkan di Nazaret, sebuah kota yang tidak terkenal. Jika Dia ingin menjadi orang besar dan terkenal, Dia seharusnya tumbuh di Yerusalem. Dia memilih untuk menjadi bukan siapa-siapa, untuk memberikan makna dan tujuan bagi kita yang bukan siapa-siapa. Tuhan tidak datang ke sini untuk menghilangkan penderitaan kita. Tuhan datang ke sini untuk menanggung penderitaan kita. Tuhan tidak datang ke sini untuk menjadi tampan. Tuhan datang ke sini untuk menanggung keburukan penderitaan manusiawi kita.
Dalam Ekaristi, Tuhan datang kembali kepada kita dalam rupa roti dan anggur, tanda-tanda sakramental. Saya ingin mengingatkan kita akan satu kebenaran bahwa Tuhan datang kepada kita bukan dalam rupa sebuah kue, yang manis dan lezat dan menggugah selera. Tuhan akan datang kepada kita dalam rupa hosti – tepung murni, tanpa garam, tanpa gula atau ragi yang ditambahkan ke dalamnya, hanya air dan tepung, amat sederhana. Darah-Nya diberikan kepada kita tidak dalam wujud sampanye yang mahal, atau seperti brendi atau wiski. Tetapi Tuhan datang kepada kita dalam rupa anggur yang sederhana.
Sementara Tuhan mendorong kita untuk tidak menghindar dari rasa sakit, Tuhan datang kepada kita untuk memeluk rasa sakit. Tuhan datang kepada kita untuk memeluk kelemahan manusiawi kita. Janganlah kita takut akan rasa sakit saat mengusahakan kebaruan. Janganlah kita takut menjadi lemah. Janganlah kita takut menjadi sakit. Dalam kelemahan kita, keringkihan kita, ketidakberdayaan kita, kuasa Tuhan semakin bersinar melalui kita.
Hari ini adalah peringatan fakultatif St. Teresa dari Kalkuta. Seorang yang nampak ringkih, lemah. Namun melalui St. Teresa, Allah bekerja luar biasa. Dalam keringkihannya, dalam kelemahannya, kuasa Allah menjadi nyata. Dalam kesahajaannya, Allah yang berbelaskasih menyentuh kehidupan mereka yang terpinggirkan.
Tuhan, bantulah aku, agar dalam kelemahan dan keringkihanku, Engkau menyapa, menyentuh, menjamah kehidupan sesamaku. Amin.
