Sabda Hidup
Jumat, 21 Juli 2023, Jumat Pekan Biasa XV
Bacaan: Kel. 11:10-12:14; Mzm. 116:12-13,15-16bc,17-18; Mat. 12:1-8.
Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan.”
(Mat 12: 7)
Sabat adalah hari yang dikhususkan oleh bangsa Yahudi untuk memuliakan Allah. Allah sendiri memerintahkan bangsa Yahudi untuk menghindari pekerjaan-pekerjaan tertentu agar mereka dengan leluasa memberikan waktu bagi Allah. Seiring dengan perjalanan waktu, para rabi membuat perintah Allah itu semakin complicated: pada masa Yesus ada daftar 39 macam pekerjaan yang dilarang untuk dilakukan pada hari Sabat.
Orang-orang Farisi menilai bahwa murid-murid Yesus melanggar hukum hari Sabat. Dalam penafsiran mereka, memetik bulir gandum itu sama dengan memanen, mengupas dengan menggisarnya di telapak tangan sama dengan menggiling. Itu semua adalah pekerjaan yang dilarang pada hari Sabat.
Akan tetapi Yesus membantah tuduhan mereka dengan empat argumen: contoh dari apa yang dilakukan Daud, apa yang dilakukan para imam, pemahaman yang benar akan belas kasih Allah dan kuasa Yesus sendiri atas hari Sabat.
Mari kita perhatikan poin ketiga dari argumen Yesus: pemahaman yang benar akan belas kasih Allah. Yesus mengutip nabi Hosea (Hos 6: 6): “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan,” tetapi dibahasakan secara berbeda: “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan.” Itu tentu saja bukan berarti bahwa Allah tidak menginginkan kurban atau persembahan kita. Yesus mau menegaskan bahwa persembahan harus datang dari hati, sebab kasih (yang datang dari hati) harus menjadi dasar dari segala yang kita lakukan.
Suatu ketika Paus Fransiskus mengingatkan bahwa ada orang-orang yang berusaha untuk menetapkan “sakramen kedelapan” dalam pelayanan pastoral, yaitu ketika mereka mementingkan protokol dan aturan, ketimbang memenuhi kebutuhan rohani umat. Hendaknya kita ingat bahwa keselamatan jiwa-jiwa menjadi lebih utama dari segala aturan.
Allah lebih menghendaki belas kasihan ketimbang pesembahan. Keduanya adalah hal yang baik jika kita tempatkan dalam perspektif yang tepat. Persembaan dan belas kasih dapat menjadi hal yang buruk jika kita terapkan secara tidak tepat tetapi menjadi hal yang baik jika kita lakukan seperti apa yang dilakukan oleh Yesus. Keduanya adalah hal yang baik jika kita mengedepankan kurban dan belas kasih bagi sesama. Kurban dan belas kasih menjadi hal yang buruk jika kita mengedepankan belas kasih untuk diri sendiri dan mengorbankan orang lain.
Seorang rahib sedang tenggelam dalam kontemplasi. Dia begitu gembira karena Tuhan menampakkan diri kepadanya. Tetapi pada saat yang sama, bel biara berbunyi, tanda baginya bahwa saat itu adalah waktunya untuk memberi makan orang-orang miskin yang datang ke biara mereka. Sejenak ia bimbang, mau menghentikan kontemplasinya dan memberi makan orang-orang miskin, atau ia melanjutkan doanya dan membiarkan orang-orang miskin di luar pintu biara menunggu. Akhirnya, ia putuskan untuk bangkit berdiri, membuka pintu biaranya, menjumpai orang-orang miskin dan melayani mereka dengan sepenuh hati. Setelah selesai melayani orang-orang miskin, ia masuk kembali ke ruang doa, dan lihatlah, Tuhan masih menunggu di sana…..
Semoga persembahan kita, ibadah kita, praktek-praktek kesalehan kita, sejalan dengan belas kasih kita.
Terima kasih, Yesus, karena telah menunjukkan belas kasihan-Mu kepada kami. Semoga kami belajar untuk meneruskannya kepada saudara-saudari kami yang membutuhkan. Amin.
