Sabda Hidup
Minggu, 1 Oktober 2023, Minggu Biasa XXVI Tahun A
Bacaan: Yeh. 18:25-28; Mzm. 25:4bc-5,6-7,8-9; Flp. 2:1-11 (Flp. 2:1-5); Mat. 21:28-32.
Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Jawab mereka: “Yang terakhir.” Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.”
(Mat 21: 28 – 31)
Ada legenda Jepang kuno yang bercerita tentang seorang pria yang meninggal dan kemudian naik ke surga. Di surga ia melihat taman yang indah dan rumah-rumah mewah yang berkilauan. Tapi kemudian pria itu sampai di sebuah ruangan yang dilapisi sebuah rak. Di rak tersebut terdapat tumpukan telinga manusia! Malaikat yang mengantar orang itu menjelaskan bahwa telinga-telinga ini adalah telinga-telinga semua orang di bumi yang setiap minggu mendengarkan firman Allah, namun tidak pernah bertindak berdasarkan firman itu. Ibadah mereka tidak pernah berbuah tindakan nyata. Jadi, ketika orang-orang itu meninggal, hanya telinga mereka yang sampai di surga.
Injil hari ini mengisahkan perumpamaan tentang sikap kontras dari dua orang anak. Anak pertama berkata ‘tidak’ tapi setelah dia sadar, dia melakukan perintah ayahnya. Anak kedua berkata ‘Ya’ tapi kemudian, dia tidak melakukan apapun.
Pertanyaannya adalah: siapakah yang lebih baik diantara kedua anak ini? Apakah yang mengatakan ‘tidak’ tapi pada akhirnya dia memenuhi keinginan ayahnya? Atau yang berkata ‘ya’ tapi pada akhirnya tidak melakukan apapun? Kebanyakan dari kita akan mengatakan bahwa anak yang berkata ‘tidak’ tapi pada akhirnya dia memenuhi keinginan ayahnya lebih baik di antara kedua anak itu.
Bagaimanakah jika ada pilihan-pilihan seperti berikut ini, mana yang lebih baik? Siapa yang lebih baik, suami yang kasar dan tidak sopan tetapi bukan pemabuk, atau suami pemabuk yang sangat baik saat ia sadar? Mana yang lebih baik, istri yang suka ngomel yang mengatur rumah secara efisien atau istri yang berantakan tetapi sangat penyayang? Mana yang lebih baik, guru yang populer tetapi tidak berpegang pada rencana pembelajaran atau guru yang keras dan galak namun mengajar dengan baik dan banyak hal yang dipelajari oleh siswa? Seorang Katolik yang rajin ke gereja namun bertindak sebagai seorang diktator di rumah, atau seorang Katolik yang malas ke gereja tetapi dekat dengan anak-anaknya? Mana yang lebih baik, pasangan yang menikah di gereja tetapi rumah tangganya dipenuhi pertengkaran, atau pasangan yang hidup bersama tanpa sakramen pernikahan tapi bahagia? Seorang Kristen yang saleh yang selalu berdoa tapi tidak pantas dalam gaya hidupnya, atau orang yang tidak berdoa tapi sangat sopan dan ramah? Dan masih banyak lagi pilihan-pilihan lainnya.
Mungkin kita mencoba membuat pilihan tapi harus kita akui bahwa tidak satu pun dari pilihan-pilihan itu ideal. Saya dapat katakan bahwa yang satu tidak lebih baik dari yang lain, seperti dalam kasus kedua anak laki-laki dalam perumpamaan Injil, keduanya menyakiti hati ayahnya, yang satu pada awal dan yang lainnya pada akhirnya. Keduanya bisa menjadi anak laki-laki yang lebih baik dengan mengatakan “Ya” sepenuh hati serta melakukan perintah ayahnya, bukan sebaliknya mengatakan ‘tidak’ kemudian berubah menjadi ‘ya’ dan ‘ya’ namun pada akhirnya berubah menjadi ‘tidak ‘. Orang Kristen sejati harus lebih baik dari keduanya. Apa yang dia katakan, dia lakukan. Harus ada konsistensi dalam kata-kata dan tindakannya. Ada konsistensi antara pengakuan iman dan perilakunya. Apa yang diajarkannya itulah yang dia lakukan.
Suatu hari Bapak Uskup sedang memeriksa kelayakan para calon krisma di sebuah paroki.
“Dengan tanda apakah orang bisa mengenali anda sebagai seorang Katolik?” tanyanya.
Tidak ada jawaban.
Uskup mengulangi pertanyaannya. Belum juga ada jawaban.
Lalu ia mengulangi pertanyaan itu sekali lagi sambil membuat tanda salib, untuk menunjukkan bahwa tanda untuk mengenali seorang katolik adalah tanda salib.
Namun, tiba-tiba salah satu calon menjawab dengan lantang: “Cinta!” katanya.
Uskup agak kecewa. Hampir saja ia berkata: “Salah!” tetapi tepat waktu itu ia dapat menguasai dirinya. Bukankah cinta juga merupakan tanda nyata seorang Katolik?
Iman, agama, bukan hanya ajaran dan aturan yang harus diikuti. Tetapi harus nyata dalam tindakan sehari-hari. “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat 7: 21).
Apakah saya mengatakan ya kepada Allah dalam kata-kata tetapi tidak melakukan kehendak-Nya dalam tindakan nyata? Apakah saya terlalu yakin akan kebenaran saya sendiri untuk mengakui bahwa saya adalah orang berdosa? Apakah saya seorang Kristen pada hari Minggu tetapi tidak pada hari Senin dan sepanjang minggu?
Tuhan, bantulah saya menjadi seorang yang konsekuen dan konsisten dalam iman. Amin.
