Remah Mingguan

YA ALLAH, KASIHANILAH AKU ORANG BERDOSA

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Minggu, 23 Oktober 2022, Minggu Biasa XXX Tahun C, Minggu Misi Sedunia ke-96
Bacaan: Sir. 35:12-14,16-18Mzm. 34:2-3,17-18,19,232Tim. 4:6-8,16-18Luk. 18:9-14.

“Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.”

Luk 18: 13

Suatu ketika seorang wartawan bertanya kepada St. Teresa dari Calcutta, apakah ia pernah tergoda untuk merasa bangga. Ibu Teresa menjawabnya sambil tersenyum, “Bangga tentang apa?” Wartawan itu menjawab, “Mengapa? Tentu saja bangga tentang hal-hal luar biasa yang telah anda lakukan terhadap mereka yang termiskin di antara orang miskin!” Lalu Ibu Teresa menjawab, “Saya tidak pernah tahu kalau saya telah melakukan sesuatu, karena Tuhanlah yang telah bekerja dalam dan melalui para suster serta para relawan.”

Sungguh, kerendahan hati yang sejati menjadi faktor pembeda antara seorang kudus dan seorang pendosa. Jika kita menyombongkan diri karena talenta, karena keluarga kita, reputasi kita, pencapaian kita dalam hidup, Injil hari ini jadi pengingat, agar kita menanggalkan kesombongan itu dan berlaku sungguh-sungguh rendah hati.

Kerendahan hati itulah yang menjadi pesan sabda Tuhan hari ini. Kerendahan hati yang sejati dan pertobatan atas dosa-dosa kita harus menjadi tanda nyata doa-doa kita.

Bacaan pertama dari Putra Sirakh, merupakan pasangan yang tepat bagi perumpamaan yang dikisahkan dalam Injil. Dalam gambaran yang sangat menonjol dari Putra Sirakh, dikatakan, “Doa orang miskin menembusi awan.” Doa seperti itu didengarkan karena datang dari hati orang-orang yang tahu bagaimana sungguh-sungguh membutuhkan Allah. Meskipun bagi Allah tidak ada favoritisme dan menjawab semua doa, mereka yang tertindas, para yatim piatu, para janda, dan mereka yang paling tidak dapat membantu diri mereka sendiri mendapat perhatian istimewa. Itu pula yang digemakan dalam Mazmur tanggapan hari ini. “Orang yang tertindas berseru, dan Tuhan mendengarkan.”

Dalam bacaan kedua, Paulus yang adalah mantan orang Farisi, seperti pemungut cukai dalam Injil, dengan rendah hati mengakui bahwa pekerjaan-pekerjaannya terpenuhi karena rahmat Allah. Untuk itu ia bersyukur karena ia telah dimampukan untuk “mengakhiri pertandingan dengan baik – ia telah mencapai garis akhir sambil tetap menjaga iman dan mewartakannya.

Dalam Injil hari ini, Yesus menceriterakan sebuah perunmpamaan tentang seorang Farisi dan seorang pemungut cukai. Yesus mengingatkan bahwa Allah mendengar doa mereka yang mendekatkan dirinya kepada-Nya dengan rendah hati dan hati penuh penyesalan. Allah tidak mendengar doa orang Farisi itu karena ia mengangkat dirinya sendiri. Memang dalam doa itu ia mengatakan bahwa ia tidak berbuat jahat seperti orang lain. Ia mengatakan kepada Allah bahwa ia bebas dari dosa dan secara detil ia melaksanakan apa yang ditetapkan oleh hukum. Tetapi ia tidak dibenarkan oleh Allah karena ia meninggikan dirinya sendiri. Sedangkan doa pemungut cukai, “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini,” dibenarkan karena ia merendahkan dirinya, mengakui keberdosaannya dan memohon belas-kasih Allah.

Sahabat-sahabat, saya tergelitik untuk bertanya: apakah orang Farisi yang dikisahkan oleh Yesus dalam Injil hari ini sungguh-sungguh buruk? Kita masih dapat belajar daripadanya bagaimana menjalankan perintah-perintah Tuhan. Ia bukan perampok, bukan pezinah, bukan orang lalim, rajin berpuasa, dan taat memberikan derma. Dalam hal-hal tersebut layaklah ia diacungi jempol. Tetapi ia pantas dicela karena kesombongannya dan karena merasa diri paling benar.

Di pihak lain, para pemungut cukai pada masa Yesus biasa dicela karena penyelewengan mereka dalam menarik pajak. Mereka tidak jujur dan korup dan dengan demikian tidak menaati perintah Allah. Dalam hal ini pemungut cukai itu tak patut dicontoh.

Akan tetapi, kita patut mencontoh pemungut cukai dalam Injil hari ini, dalam kerendahan hatinya. Ia mengakui keberdosaannya, mengakui bahwa ia bukanlah apa-apa di hadapan Allah. Maka layaklah ia dibenarkan oleh Allah.

Dengan demikian, si Farisi tidak sepenuhnya tercela dan si pemungut cukai juga tidak sepenuhnya dapat diteladani.

Tak seorangpun pendosa yang tak layak untuk diampuni. Demikian juga tak seorangpun begitu sempurna sehingga tak perlu lagi didoakan. Kita semua perlu mawas diri dan masih perlu didoakan karena kita semua adalah pendosa. Ada kebaikan dalam diri setiap orang, ada dosa pula dalam diri kita masing-masing. Kita hargai kebaikan dalam diri orang lain, dan kita perlu saling koreksi untuk menjadi lebih baik. Kita boleh bersyukur untuk apa yang baik dalam diri kita masing-masing, tetapi perlu juga mawas diri dan dengan jujur serta rendah hati mengakui kekurangan kita. Mari berdoa setiap hari: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.”

Hari Minggu Misi Sedunia ke-96

Hari ini, Minggu Biasa XXX, bersama seluruh Gereja universal kita juga merayakan Hari Minggu Misi Sedunia ke-96. Pada kesempatan Minggu Misi ini, bersama seluruh umat beriman, kita diundang untuk memperbarui iman, semangat serta komitmen misioner kita, dalam menjalankan tugas perutusan yang Tuhan percayakan kepada kita masing- masing.

Tema Hari Minggu Misi Sedunia 2022, “Kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku” (Kis. 1:8). Sebelum Tuhan Yesus naik ke surga, Ia berpesan kepada para murid-Nya: “Tetapi kamu akan menerima kuasa kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Kudi Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (1:8).

Pada Minggu Misi ini, Paus Fransiskus mengajak kita untuk menjadi saksi Kristus. Beliau mengingatkan kita, bahwa: “Setiap orang yang telah dibaptis dipanggil pada misi”. Kita diajak bersama-sama membangun Gereja yang misioner, bergerak keluar untuk memberikan kesaksian cinta kasih Allah kepada seluruh umat manusia. Misi dipercayakan kepada “Gereja”, mari kita ikut ambil bagian, bersama-sama dalam persekutuan komunitas gerejawi.

Paus Fransiskus menyapa umat dalam salah satu audiensinya.

Dalam pesannya Paus Fransiskus menjabarkan kutipan dari Kisah Para Rasul 1: 8, “Tetapi kamu akan menerima kuasa kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi”  yang menjadi tema Minggu Misi ini.

1. “Kamu akan menjadi saksi-Ku” – Panggilan setiap orang Kristiani untuk menjadi saksi Kristus

Ini adalah poin utama, inti pengajaran Yesus kepada para murid, alasan mereka diutus ke dunia. Para murid harus menjadi saksi-saksi Yesus, berkat Roh Kudus yang akan mereka terima. Setiap orang Kristiani dipanggil untuk menjadi seorang misionaris dan saksi Kristus. Dan Gereja, komunitas murid-murid Kristus, tidak memiliki misi lain selain mewartakan Injil ke seluruh dunia dengan bersaksi tentang Kristus. Mewartakan Injil adalah identitas Gereja.

Namun, misi itu dilaksanakan secara bersama-sama, bukan secara individual, melainkan dalam persekutuan komunitas gerejani.

Inti dari misi ini adalah untuk bersaksi tentang Kristus, yaitu hidup, sengsara, kematian, dan kebangkitan- Nya demi cinta kepada Bapa dan umat manusia.  Pada uraian akhir, saksi sejati adalah “martir”, orang yang memberikan hidupnya bagi Kristus, membalas pemberian yang telah Ia berikan kepada kita, yaitu Dirinya sendiri.

2. “Sampai ke ujung bumi” Relevansi abadi dari misi evangelisasi universal

Dalam meminta para murid untuk menjadi saksi-Nya, Tuhan yang bangkit juga memberitahu ke mana mereka akan dikirim, “… ke Yerusalem dan seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kis. 1:8). Di sini kita bisa melihat dengan jelas karakter universal misi para murid.

Para murid dikirim bukan untuk mengkristenkan orang (proselitisme), melainkan untuk mewartakan; orang Kristiani tidak melakukan kristenisasi.

Kata-kata “sampai ke ujung bumi” seharusnya menantang para murid Yesus dalam setiap zaman dan mendorong mereka untuk dapat melampaui tempat-tempat yang sudah dikenal dalam memberikan kesaksian tentang Dia. Untuk semua kemudahan perjalanan modern, masih ada wilayah- wilayah geografis di mana saksi misioner Kristus belum sampai untuk membawa Kabar Baik tentang kasih-Nya.

3. “Kamu akan menerima kuasa Roh Kudus” – Semoga kita selalu dikuatkan dan dibimbing oleh Roh.

Ketika Kristus yang bangkit mengutus para murid untuk menjadi saksi-Nya, Dia juga menjanjikan kepada mereka rahmat yang dibutuhkan untuk tanggung jawab besar ini: “Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu; dan kamu akan menjadi saksi-Ku” (Kis. 1:8).

Sama seperti, “tidak seorang pun yang dapat mengaku ‘Yesus adalah Tuhan’, selain daripada Roh Kudus” (1 Kor. 12:3), demikian pula tidak ada orang Kristiani yang dapat memberikan kesaksian penuh dan tulus tentang Kristus Tuhan tanpa ilham dan bantuan Roh.

Oleh sebab itu doa menjadi hal yang mendasar dalam hidup misioner. “Izinkan saya menekankan sekali lagi bahwa doa memainkan peran mendasar dalam kehidupan misionaris, karena doa memungkinkan kita untuk disegarkan dan dikuatkan oleh Roh sebagai sumber ilahi yang tak habis-habisnya dari energi baru dan sukacita dalam membagikan kehidupan Kristus kepada orang lain.”

Roh adalah pelaku utama yang sejati dari misi. Dialah yang memberi kita kata yang tepat, pada waktu yang tepat, dan dengan cara yang benar.

Paus menutup pesannya dengan mengatakan bahwa ia “terus memimpikan Gereja yang sepenuhnya misioner, dan era baru aktivitas misioner di antara komunitas Kristiani. Saya mengulangi keinginan besar Musa bagi umat Allah dalam perjalanan mereka, “Ah, kalau seluruh umat Tuhan menjadi nabi!” (Bil. 11:29). Sesungguhnya, kita semua di dalam Gereja telah menjadi diri kita karena rahmat pembaptisan: para nabi, saksi, misionaris Tuhan, oleh kuasa Roh Kudus, sampai ke ujung bumi!”

Author

Write A Comment