Remah Harian

WHERE DO WE GO FROM HERE?

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Sabtu, 19 Februari 2022, Sabtu Pekan Biasa VI
Bacaan: Yak. 3:1-10Mzm. 12:2-3,4-5,7-8Mrk. 9:2-13.

“Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka, dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu. Maka nampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus. Kata Petrus kepada Yesus: “Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.”

(Mrk 9: 2 – 5)

Pada tahun 1996 dirilis sebuah film musikal “Evita” yang mengisahkan hidup Eva Perón, dari awal perjuangan hidupnya melawan kemiskinan dan perlahan meniti tangga keberhasilan dalam panggung politik, dari kehidupan di tengah sampah menjadi kaya dan akhirnya menikah dengan presiden Argentina, Juan Perón, dan meninggal dalam usia muda, baru 33 tahun. Film tersebut dibintangi oleh Madonna sebagai Eva dn Jonathan Pryce sebagai Juan Perón serta Antonio Banderas sebagai Che.

Salah satu lagu dalam film musikal Evita tersebut berjudul “You Must Love Me”. Eva Perón menyanyikan lagu ini yang atas salah satu cara merangkum apa yang ingin ia katakan: Where do we go from here? This isn’t where we intended to be. We had it all. You believed in me, I believe in you. Ke mana kita pergi dari sini? Ini bukan tempat yang kita maksudkan. Kita memiliki semuanya. Engkau percaya padaku, aku percaya padamu. Pertanyaan inilah yang mengusik saat merenungkan narasi Injil hari ini: WHERE DO WE GO FROM HERE? Ke mana kita pergi dari sini?

Kita telah mendengarkan kisah tentang transfigurasi, kisah Yesus yang berubah rupa dalam kemuliaan-Nya, berulang kali. Banyak para ahli Kitab Suci yang menekankan arti penting pengalaman transfigurasi ini; ada yang menekankan kehadiran Musa yang memberikan hukum bagi bangsa pilihan Allah, ada yang memperhatikan kehadiran Elia, nabi terbesar di antara para nabi. Ada juga yang berpusat pada Sabda Bapa yang berkata, “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia!” Tentu saja kita dapat memusatkan permenungan kita pada peristiwa-peristiwa tersebut. Akan tetapi satu hal yang jelas dalam kisah ini adalah bahwa Yesus, Petrus, Yakobus dan Yohanes tidak tinggal lama di puncak gunung. Para rasul mungkin juga bertanya-tanya, “What’s next? Apa yang harus kita buat setelah pengalaman yang luar biasa ini? Where do we go from here? Lalu ke mana kita pergi dari sini?”

Dalam kehidupan kita, tentu kita pernah mempunyai pengalaman “transfigurasi” masing-masing. Saat kita mengalami Tuhan hadir dalam kemuliaan-Nya dalam hidup kita. Tak jarang kita, ketika kita merasakan pengalaman rohani seperti itu, kita tergoda untuk tetap tinggal dalam zona nyaman dan berkata seperti Petrus: “Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Tetapi kita juga sadar bahwa, hal yang baik pun tidak kekal. Pada akhirnya, kita harus “turun gunung”. Meski pengalaman perjumpaan dengan Tuhan itu tidak kita alami setiap saat, tetapi kita dapat belajar dari pengalaman tersebut.

Godaan yang dialami oleh Petrus adalah godaan yang sering memerangkap kita, godaan untuk mencari kenyamanan dalam hidup beragama, namun menghindari tanggungjawab kita untuk mencari dan menghidupi kebersamaan kita dengan dan untuk sesama.

Sembah bakti kita tidak benar-benar Kristiani jika itu justru memisahkan kita dan menjauhkan kita dari perhatian dan pelayanan bagi mereka yang membutuhkan. Kita diajak agar tidak hanya tinggal di puncak gunung, tetapi turun gunung, untuk menjadi lebih peka, menjumpai Yesus dalam diri sesama kita, tetutama yang membutuhkan perhatian kita.

Author

Write A Comment