Sabda Hidup
Senin, 28 Agustus 2023, Peringatan Wajib St. Agustinus, Uskup dan Pujangga Gereja
Bacaan: 1Tes. 1:2b-5,8b-10; Mzm. 149:1-2,3-4,5-6a,9b; Mat. 23:13-22
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik!”
(Mat 23: 13)
Seorang gadis kecil bertanya kepada ayahnya, “Ayah, kenapa sih kita harus berpakaian yang paling bagus dan duduk di bangku paling depan waktu kita ke gereja pada hari Minggu?” Ayahnya menjawab, “Nak, sangatlah penting waktu kita ke gereja, kita dilihat oleh banyak orang, kita harus memberi kesan yang baik bagi mereka, sehingga nanti saat pemilu tahun depan, mereka ingat kita….”
Tak jarang kita harus memeriksa diri kita sendiri. Orang Katolik macam apakah saya ini? Apa motif dan maksud utama saya memenuhi kewajiban saya sebagai seorang Katolik? Apakah saya seorang Katolik di kulit saja? Apakah yang saya katakan dan kerjakan konsisten dengan apa yang saya yakini dan imani sebagai seorang Katolik?
Dalam Injil hari ini Yesus yang biasanya lemah lembut, mengecam dengan keras orang-orang Farisi dan para ahli Taurat karena kemunafikan mereka. Mungkin kita adalah orang-orang Katolik yang saleh, melakukan semua kewajiban sebagai orang Katolik seperti rajin mengikuti Ekaristi, bukan hanya setiap hari Minggu tetapi setiap hari, secara teratur mengaku dosa, memberikan sumbangan yang tidak sedikit untuk Gereja, menjadi anggota kelompok-kelompok kategorial Gereja. Akan tetapi, celakalah kita, jika praktek-praktek kesalehan itu hanya untuk memuaskan diri kita sendiri – dan demi motif yang tidak tulus – dan tidak disertai dengan bakti yang tulus kepada Tuhan. Orang bilang, “lurus-lurus mata kail.”
Semoga kita tidak tidak hanya terobsesi untuk “mempercantik penampilan luaran kita sebagai orang Katolik.” Tindakan-tindakan lahiriah tentu penting, tetapi kehidupan batin sebagai murid Kristus yang sejati juga sangat penting.
Hari ini kita peringati St. Agustinus. Suatu kali ia berkata, “There can only be two basic loves… the love of God unto the forgetfulness of self, or the love of self unto the forgetfulness and denial of God.” Cinta itu pada dasarnya hanya ada dua… Cinta kepada Allah hingga melupakan diri, atau cinta pada diri sendiri hingga melupakan dan menyangkal Allah.
Mari bertanya sekali lagi: apa motif saya untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban agama saya? Apa motif dan tujuan saya berbuat baik? Apakah saya melakukan semuanya itu karena cinta saya pada Tuhan atau untuk kepentingan-kepentingan pribadi? Apakah saya punya integritas?
Seorang uskup bersahabat dengan seorang pejabat terhormat. Suatu kali pejabat itu berkata kepada Uskup: “Saya tidak pernah ke gereja. Mungkin Bapak Uskup sudah memperhatikan itu?” “Ya, tentu saja saya perhatikan,” jawab Uskup dengan sangat sedih. “Saya tuh setiap kali ke gereja hati saya resah dan gelisah… Ada banyak orang munafik di dalam sana maka saya tidak pernah ke gereja,” kata pejabat itu. Bapak Uskup menjawab: “Jangan khawatir, mari datanglah ke gereja, masih ada tempat untuk seorang munafik lagi….”
Perbaruilah dalam diri kami ya Tuhan, semangat yang Engkau anugerahkan kepada Uskup Santo Agustinus, agar dengan semangat yang sama, kami haus akan Dikau, satu-satunya sumber kebijaksanaan sejati, dan dengan tulus mencari Engkau, sumber kasih surgawi. Amin
