Sabda Hidup
Senin, 20 Februari 2023, Senin Pekan Biasa VII
Bacaan: Sir. 1:1-10; Mzm. 93:1ab,1c-2,5; Mrk. 9:14-29.
“Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!”
(Mrk 9: 23)
Perikope Injil hari ini berkisah tentang pengusiran roh jahat dan penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus setelah Ia bersama Petrus, Yakobus dan Yohanes turun dari gunung di mana Ia menampakkan kemuliaan-Nya.
Para murid yang lain sedang mempersoalkan ketidakmampuan mereka mengusir roh jahat dari seorang anak yang sakit ayan. Ayah anak itu mengeluh kepada Yesus atas ketidakmampuan para murid-Nya. Mereka gagal karena: 1) meski kepada mereka telah diberikan kuasa untuk menyembuhkan, mereka gagal menerapkannya dengan doa seperti yang dilakukan oleh Yesus; 2) mereka tidak memiliki iman yang kuat pada kuasa Tuhan; 3) seperti yang dikatakan oleh Yesus, mengusir roh jahat, tidak hanya memerlukan kuasa penyembuhan, tetapi juga hidup doa yang dalam dan puasa.
Yesus menyembuhkan anak yang sakit ayan itu dengan menuntut iman dari ayah anak itu. “Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” Segera ayah anak itu berteriak: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” (Mrk 9: 23 – 24)
Mukjizat Tuhan tetap terjadi dalam hidup kita sehari-hari, asalkan kita berdoa dengan penuh iman. Yang diperlukan adalah doa yang sepenuh hati. Doa setengah hati, bukanlah sebuah doa. St. Agustinus dalam komentarnya terhadap perikope ini mengingatkan bahwa doa dan iman itu berjalan bersama: “Di mana tidak ada iman, doa binasa. Sebab, siapakah yang berdoa untuk sesuatu yang tidak ia percaya?… Jadi agar kita dapat berdoa, marilah kita percaya, dan marilah kita berdoa agar iman yang sama yang kita doakan ini tidak goyah.”Selain itu, doa adalah iman; iman adalah sebuah komitmen; komitmen dibuat sepenuh hati, jika tidak itu bukan komitmen.
Yesuspun sampai saat ini menawarkan kebebasan bagi kita, kebebasan dari dosa, kebiasaan-kebiasaan jahat dan kelekatan. Mari kita percayakan diri pada-Nya dan kita percayakan saudara-saudari kita yang mencari-Nya dengan iman, kita percayakan pada belas-kasih-Nya.
Sebab, tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya.
* * *
Ada sebuah cerita dari India. Seorang suci yang tinggal di dekat sungai heran mendengar cerita dari murid-muridnya bahwa gadis pengembala yang setiap hari mengantar susu untuk mereka dari seberang sungai, menyeberangi sungai itu dengan berjalan di atas air. Oleh sebab itu ia memanggil gadis itu dan bertanya kepadanya, apakah benar ia menyeberang sungai dengan berjalan di atas air. “Tentu saja benar, Bapa,” jawab gadis itu.
Kemudian ia bertanya, “Apakah kira-kira saya dapat melakukannya juga?”
“Tentu saja dapat!” jawab gadis itu. “Yang harus Bapa lakukan adalah menyebut nama Tuhan terus menerus seperti yang saya lakukan sambil menyeberang, dan Bapa akan menyeberangi sungai ini dengan selamat dengan berjalan di atas air.”
Akhirnya orang suci itu memutuskan untuk mencobanya. Mereka mulai menyeberangi sungai. Gadis itu berjalan di depan dan orang suci itu di belakangnya. Ia mulai berjalan di belakang gadis itu, sambil dengan penuh iman mengucap nama Tuhan. Tetapi kemudian, ia mulai khawatir kalau-kalau jubah kuningnya akan menjadi basah. Ia menggapai ke bawah dan menarik jubahnya ke atas. Kemudian, mulailah perlahan-lahan ia tenggelam. Setiap langkah, makin dalam ia tenggelam. Gadis itu menoleh ke belakang dan melihat hal itu sambil tertawa.
“Bukan begitu, Bapa! Bukan begitu! Dengan nama Tuhan di bibir anda dan ujung jubah anda di tangan kanan…. itu bukan cara menyeberang sungai yang benar!”
Dan orang suci itu tak pernah berhasil sampai di seberang, dengan berjalan di atas air.
Tuhan Yesus, tolonglah aku yang kurang percaya! Tambahkan iman dan kepercayaanku pada kuasa penyelamatan-Mu. Beri aku keyakinan dan ketekunan, terutama dalam doa. Dan bantu aku untuk membawa kasih penyembuhan dan kebenaran-Mu kepada semua orang yang aku jumpai.
