Remah Harian

TINGGALAH DALAM KASIH-KU

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Kamis, 11 Mei 2023, Kamis Pekan Paskah V
Bacaan: Bacaan hari ini: Kis. 15:7-21; Mzm. 96:1-2a,2b-3,10; Yoh. 15:9-11.

“Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.”

(Yoh 15: 9 – 10)

Injil hari ini adalah kelanjutan dari pengajarannya yang disampaikan dalam perumpamaan tentang Pokok Anggur yang Benar. Di sini Ia memberikan penjelasan lebih lanjut tentang apa artinya menjadi ranting pada pokok anggur. Ia berkata, “Tinggalah di dalam kasih-Ku. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.” Kasih mengalir dari Bapa kepada Putera, dan dari Putera kepada kita masing-masing. Kasih adalah pokok anggur yang mempersatukan! Jika kita tetap tinggal di dalam Dia, kita akan berbuah.

Menarik untuk memperhatikan apa yang tidak dikatakan Yesus tentang kehidupan ranting-ranting. Dia tidak mengatakan bahwa kita harus menaati perintah-perintah-Nya terlebih dahulu, baru kita akan dikasihi. Dia tidak mengatakan bahwa kita harus menghasilkan banyak buah untuk memenuhi syarat sebagai ranting pada pokok anggur. Fokus Yesus di sini bukanlah pada buahnya, tetapi pada kehidupan batin dari seluruh tanaman. Jika kasih dari pokok anggur mengalir dengan bebas melalui ranting-rantingnya, maka ranting-ranting itu akan menghasilkan banyak buah. Yesus adalah pokok anggur yang berbuah! Jika kita tetap tinggal di dalam Dia, kita akan berbuah.

Beberapa buah dari kasih dapat kita lihat dalam berbagai perbuatan baik yang dilakukan oleh orang-orang Kristen di mana-mana, dalam membina keluarga, merawat orang sakit, mengajar di sekolah-sekolah, bekerja di rumah sakit, mengembangkan seni, melayani orang miskin, terlibat dalam pelayanan publik, dan membangun budaya yang lebih kristiani – semua ini mengalir secara alamiah dari hidup di dalam kasih-Nya. KasihNya lah yang menghasilkan buah, bukan aktivitas kita. Inilah yang dapat kita lihat. Ada banyak lagi buah yang tidak dapat kita lihat: pengampunan, kesabaran, pengorbanan, pemulihan, kemurahan hati – panen yang melimpah yang hanya akan kita ketahui di surga.

Pada gereja perdana, kontroversi mengenai sunat mengancam untuk mengalihkan perhatian para murid Yesus dari kehidupan batin yang penuh kasih dan mengikat mereka pada serangkaian praktik-praktik lahiriah. Pertanyaannya adalah: apa yang harus dilakukan seseorang untuk menjadi seorang Kristen? Apakah harus menjadi orang Yahudi terlebih dahulu? Apakah seseorang harus mengikuti aturan-aturan tertentu tentang makanan dan melakukan ritual-ritual penyucian tertentu untuk menjadi seorang Kristen?

Persoalan-persoalan ini secara resmi diselesaikan di Yerusalem oleh Gereja perdana. Dibimbing oleh Roh Kudus, para Rasul menjelaskan bahwa kristianitas tidak didasarkan pada kepatuhan terhadap aturan-aturan eksternal seperti itu, tetapi lebih pada iman kepada Yesus Kristus. Kesimpulan ini, seperti yang dikatakan Petrus, didasarkan pada apa yang telah Allah nyatakan. “Tuhan mengaruniakan Roh Kudus juga kepada mereka sama seperti kepada kita, dan Ia sama sekali tidak mengadakan perbedaan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman,” (Kis 15: 8 – 9). Jika Tuhan tidak mengharuskan mereka untuk disunat, apakah hak Gereja untuk membebankan hal tersebut? Petrus melanjutkan dengan mengatakan, “kita percaya, bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga,” (Kis 15: 11).

Dalam “Konsili Yerusalem” ini, iman Kristen diproklamasikan dengan cara yang jelas dan sederhana. Namun, banyak orang, termasuk banyak orang Kristen, masih cenderung menganggap agama sebagai “banyak aturan”. Jika Anda mengikuti semua aturan, maka Anda adalah orang Kristen yang baik. Jika Anda tidak mengikuti semua aturan itu, maka Anda bukanlah orang Kristen yang baik. Dan jika Anda melanggar terlalu banyak aturan, Anda akan masuk neraka. Cara berpikir seperti ini meniadakan kekayaan iman kita, mencabik-cabiknya, dan mencoba mengganti beberapa bagian dengan keseluruhannya. Ini merupakan bentuk agama yang menyedihkan. Namun, kita biasanya tertarik dan senang untuk pegang kendali. Kita bangga dengan tindakan-tindakan luar kita yang baik. Kita tidak suka mengakui bahwa kita tidak dapat menyelamatkan diri kita sendiri, bahwa kita bergantung pada Tuhan. Mengakui bahwa kita diselamatkan oleh iman perlu kerendahan hati.

Ketika Yesus mengundang kita, “Tinggalah di dalam kasih-Ku,” Dia mengundang kita untuk membiarkan kasih-Nya tetap tinggal dan memerintah di dalam diri kita. Ini adalah undangan untuk hidup “dari dalam ke luar.” Kita bukan orang Kristen karena kita mengikuti perintah-perintah; kita mengikuti perintah-perintah karena kita adalah orang Kristen, karena kita adalah pengikut Yesus. Jika kita memiliki kasih-Nya di dalam diri kita, maka kita akan menghasilkan banyak buah.

Tuhan, aku mengasihi-Mu dan aku tahu bahwa Engkau mengasihiku. Tolonglah aku untuk terbuka terhadap kasih-Mu. Tolonglah aku untuk membiarkan kasih itu meresap ke dalam diriku sehingga kasih itu juga dapat meluap dari hatiku kepada sesama.

Author

Write A Comment