Remah Harian

TIDAK MENGHAKIMI

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Senin, 26 Juni 2023, Senin Pekan Biasa XII
Bacaan: Kej. 12:1-9Mzm. 33:12-13,18-19,20,22Mat. 7:1-5.

Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.”

(Mat 7: 1)

Menurut cerita Aesop (620 – 560 SM), setiap manusia lahir di dunia dengan dua kantong tergantung di lehernya, satu di depan dan satu di belakang. Kedua kantong itu penuh dengan kesalahan-kesalahan. Tetapi kantong yang berada di depan penuh dengan kesalahan sesama; sedangkan yang berada di belakang penuh dengan kesalahan sendiri. Itulah sebabnya, manusia buta dengan kesalahan-kesalahan sendiri tetapi selalu melihat kesalahan orang lain.  Dengan kata lain, setiap orang mempunyai kecenderungan untuk menghakimi orang lain atau ingin mengkritik, tetapi tidak ingin dihakimi atas cara yang sama.

Dalam Injil hari ini, Yesus memperingatkan murid-murid-Nya untuk tidak menghakimi orang lain. Dia pasti telah mengamati orang-orang Farisi yang sering merasa paling benar dan tak henti-hentinya mengkritik orang lain, padahal mereka sendiri bersalah atas apa yang mereka tuduhkan kepada orang lain. Memang, bagaimana mungkin seseorang dapat membuat penilaian yang jelas dan baik jika mereka sendiri tidak melihat, atau lebih buruk lagi, menyangkal cacat mereka sendiri. Selumbar di mata orang lain terlihat jelas sedangkan balok di mata sendiri tidak kelihatan. Gajah di pelupuk mata tidak terlihat, semut di seberang lautan nampak jelas. Bagi Yesus, itu adalah puncak kemunafikan dan kurangnya kasih.

Yesus tidak bermaksud agar kita membutakan mata, menulikan telinga, kelu lidah, mati rasa, dan tidak peduli dengan ketidakberesan, pelecehan, amoralitas, dan perbuatan dosa di sekitar kita. Jika demikian kita melakukan dosa pembiaran. Kita akan menjadi sesama yang buruk dan tidak bertanggung jawab. Yesus mengajarkan koreksi persaudaraan. Penting bagi kita untuk memberitahu orang lain tentang perilaku mereka yang tidak kristiani. Kita harus mengampuni, namun itu kita kita melakukan untuk menunjukkan niat kita yang benar dan jujur, bukan untuk mengabaikan kesalahannya. Namun, kita harus berhati-hati ketika kita memberikan kritik dan koreksi. Kritik dan koreksi haruslah bersifat membangun. Artinya, kritik tersebut dilakukan atas dasar kasih dan bukan untuk menghancurkan. Saya percaya, inilah perbedaan antara menghakimi dan peduli.

Lebih jauh lagi, menghakimi berarti secara permanen menempatkan seseorang pada sikap tertentu yang tidak diinginkan. Hal ini sama saja dengan memenjarakan dia atas sikap tersebut. Setiap orang memiliki kemungkinan untuk bertobat dan bertobat. Pribadi manusia penuh dengan kemungkinan. Karena itu, tidak ada orang yang dapat menghakimi orang lain. Hanya Allah yang dapat melakukannya.

Perlakukanlah orang lain selalu dengan kasih. Berikanlah kasih itu setiap saat. Terkadang, kritik mungkin menyakitkan. Kita hanya berharap bahwa orang tersebut akan terbuka dan menerima dengan positif apa yang dikatakan kepada mereka. Tuhan memperlakukan kita dengan cara ini. Dia tidak pernah menghakimi kita. Dia mengasihi kita. Marilah kita menimba manfaat dari kasih itu. Dan marilah kita membagikan kasih itu kepada orang lain dengan tidak menghakimi.

Tuhan, penuhilah hatiku dengan belas kasih.  Tolonglah aku untuk menyingkirkan kecenderungan untuk menghakimi dan menggantinya dengan kasih-Mu. Amin.

Author

Write A Comment