Remah Harian

TIDAK BOLEH MARAH?

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Kamis, 15 Juni 2023, Kamis Pekan Biasa X
Bacaan: 2Kor. 3:15-4:1,3-6Mzm. 85:9ab-10,11-12,13-14Mat. 5:20-26.

Orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.”

(Mat 5: 22)

Apakah kita tak boleh marah? Yesus marah ketika orang-orang mengubah bait Allah menjadi pasar. Yesus marah kepada para Ahli Taurat karena mereka lebih mengutamakan hukum daripada belas kasih. Yesus marah kepada para Farisi yang lebih menghargai hukum ketimbang orang yang lumpuh dan tak dapat berjalan. Bahkan Yesus menyebut para ahli Taurat dan Farisi keturunan ular beludak.

Ada yang bilang, seorang yang marah karena alasan yang tepat, terhadap orang yang tepat, dengan cara yang tepat, pada saat yang tepat, dan durasinya juga tepat, patut mendapat pujian.

Dalam Injil hari ini Yesus berkata, “Siapa yang marah harus dihukum.” Tentu Yesus tidak berbicara tentang kemarahan-Nya di bait Allah, atau kemarahan-Nya terhadap orang-orang Farisi dan ahli Taurat, tetapi kemarahan kita terhadap saudara-saudari kita yang sering kali muncul karena cinta diri, egoisme. Apalagi kemarahan yang dipelihara, dipupuk selama berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun….

Apa penawar kemarahan? Belas kasih, kebaikan hati, dan pengampunan yang berasal dari hati yang penuh kasih. Kita harus mengampuni dan berbelaskasih karena Allah telah mengampuni kita.

Ada tips untuk mengatasi kemarahan, yaitu 3K:

Pertama adalah Komunikasi. Jika ada kebencian, jika ada ganjalan, sakit hati, atau gejolak dalam hati, kita harus berbicara. Bicarakan perasaan anda dengan orang yang bersangkutan. Kita perlu membangun jembatan dan bukan dinding.

Kedua adalah Kompromi. Ini bukan berkompromi dengan kejahatan. Ini lebih merupakan untuk mencari titik temu, untuk mencari jalan tengah di mana satu pihak dapat melepaskan dan yang lain juga dapat melepaskan sehingga ditemukan titik temu, tanpa mengorbankan moralitas dan kebenaran. Ada hal-hal yang bisa kita lepaskan dan ada hal-hal yang harus kita pertahankan, tapi kita harus belajar melepaskan.

Ketiga adalah Kontemplasi. Bila kita sudah menemukan titik temu, marilah kita melihat arah yang sama dan membawanya dalam doa.

Tuhan, berikanlah aku cinta dan kasih karunia-Mu. Itu sudah cukup bagiku. Amin.

St. Ignasius Loyola
Author

Write A Comment