Remah Harian

TIDAK ADA YANG HILANG

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Kamis, 2 November 2023, Peringatan Arwah Semua Orang Beriman
Bacaan: 2Mak. 12:43-46Mzm. 130:1-2,3-4,5-6a,6-7,81Kor. 15:20-24a.25-28Yoh. 6:37-40.

Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.”

(Yoh 6: 38 – 40)

Kemarin, 1 November, kita rayakan Hari Raya Semua Orang Kudus. Dan hari ini kita rayakan Peringatan Arwah Semua Orang Beriman. Hari Raya Peringatan Arwah Semua Orang Beriman adalah hari yang istimewa dan dikhususkan untuk mengenangkan dan berdoa bagi mereka yang kita kasihi dan telah pergi untuk kehidupan kekal serta mereka yang sedang dalam masa pemurnian. Mengapa kita berdoa bagi mereka yang sudah meninggal?

Saat kita merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus, kita yang masih berziarah di dunia (Gereja yang masih berziarah) merayakan kesatuan dengan para kudus yang telah mulia dalam surga (Gereja yang menang). Hari ini kita merayakan kesatuan kita dengan mereka yang masih di Api Penyucian, penderitaan sementara bagi jiwa-jiwa mereka yang telah meninggal, tetapi belum penuh bersatu dengan Tuhan dalam kemuliaan surga (Gereja yang menderita). Api penyucian merupakan tempat pemurnian jiwa-jiwa yang sedang menuju surga. Mereka sebenarnya pantas untuk masuk surga, membutuhkan pemurnian terlebih dahulu sebelum siap masuk surga.

Kita dapat merunut tradisi mendoakan saudara-saudari kita yang sudah meninggal hingga ke tradisi awal Gereja.

  1. Umat Yahudi percaya bahwa ada tempat perhambaan sementara di mana jiwa-jiwa mereka yang sudah meninggal akan menerima pembebeasan mereka yang terakhir. Kitab Talmud menyatakan bahwa doa-doa bagi orang meninggal akan membantu untuk mereka untuk mendapatkan pahala dan berkat yang lebih besar. Doa bagi jiwa-jiwa mereka yang sudah meninggal dipertahankan oleh orang-orang Yahudi Orthodox hingga kini. Mereka mendaraskan sebuah dia yang dikenal dengan “Kidung Ratapan” (Mourner’s Kaddish) selama 11 bulan setelah kematian seorang yang dikasihi agar ia boleh dimurnikan.
  2. Yesus tidak menentang kepercayaan ini. Manfaat dari doa bagi mereka yang telah meninggal dimasukkan oleh Gereja perdana dalam ajaran dan praktiknya. Bukti menunjukkan bahwa kepercayaan itu berasal dari abad pertama Gereja. “Ingatlah kami yang telah pergi mendahului Engkau, dalam doa-doa Anda,” adalah permohonan yang sering ditemukan tertulis di dinding katakombe Romawi.
  3. Liturgi-liturgi Misa dalam pelbagai ritus yang berasal dari abad-abad awal Gereja mencakup juga “Doa-doa bagi orang meninggal.”
  4. Para Bapa Gereja pun mendorong praktek tersebut. Tertulianus misalnya (160 – 240 M) menulis tentang Misa-misa peringatan bagi orang meninggal dan menasihati para janda untuk berdoa bagi suami-suami mereka. St. Agustinus (354 – 430 M) menulis bahwa ia biasa mendoakan ibunya yang sudah meninggal, mengingat pesannya: “Saat aku meninggal, kuburkan aku di mana saja engkau inginkan, tetapi ingatlah untuk berdoa untukku di altar” (Pengakuan Agustinus, Buku 9, Bab 11, Bagian 27).

Menurut Kitab Wahyu 21: 27, “tidak akan masuk ke dalam (surga) sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atau dusta.” Kitab Amsal mengatakan, bahkan orang benar jatuh (dalam dosa) tujuh kali sehari. Menghukum jiwa-jiwa dengan dosa-dosa ringan dalam neraka akan bertentangan dengan kerahiman Allah, oleh karenanya mereka masuk dalam suatu tempat atau kondisi pemurnian, yang disebut api penyucian, yang menggabungkan keadilan Allah dengan kerahiman-Nya. Ajaran ini juga terdapat dalam ajaran tentang Persekutuan para Kudus.

Dasar-dasar biblis

  1. Kitab Kedua Makabe (12: 46) adalah teks utama dari Kitab Suci yang menginkorporasikan kepercayaan Yahudi tentang perlunya doa dan kurban bagi orang meninggal. Kitab 2 Makabe 12: 39 – 46 menggambarkan bagaimana Yudas, panglima waktu itu memerintahkan, “Kemudian dikumpulkannya uang di tengah-tengah pasukan. Lebih kurang dua ribu dirham perak dikirimkannya ke Yerusalem untuk mempersembahkan korban penghapus dosa. Ini sungguh suatu perbuatan yang sangat baik dan tepat, oleh karena Yudas memikirkan kebangkitan,” (2 Makabe 12: 43). Lebih lanjut dikatakan, “jika tidak menaruh harapan bahwa orang-orang yang gugur itu akan bangkit, niscaya percuma dan hampalah mendoakan orang-orang mati,” (2 Makabe 12: 44).
  2. St. Paulus mewarisi kepercayaan itu. Pada saat kematian salah satu yang mengasihi dan melayaninya, Onesiforus, ia berdoa, “Kiranya Tuhan menunjukkan rahmat-Nya kepadanya pada hari-Nya.” (2 Tim 1: 18). Teks Kitab suci lainnya yang penting dalam hal ini adalah Mat 12: 32, 1 Kor 3: 15, Zak 13: 19, Sir 7: 33.

Ajaran Gereja

Gereja mengajarkan bahwa jiwa-jiwa orang benar yang telah meninggal dunia tetapi mempunyai dosa ringan tetap untuk sementara waktu berada di api penyucian, di mana mereka menderita hukuman yang mungkin disebabkan oleh pelanggaran mereka. Bahkan jika pengampunan telah diperoleh atas dosa-dosa tersebut, pelunasan harus diberikan kepada Tuhan, Pencipta kita, di dunia ini atau di akhirat; karena kesucian-Nya telah dihina oleh keinginan pribadi manusia. Ini adalah dogma iman kita bahwa jiwa-jiwa yang menderita dibebaskan dengan perantaraan para kudus di surga dan dengan doa-doa umat beriman di bumi ini. Karena itu, mendoakan orang yang telah meninggal merupakan tindakan amal dan kesalehan.

Beberapa teolog modern berpendapat bahwa Api Penyucian adalah perjumpaan yang intens dan mengubahkan dengan Yesus Kristus dan api cinta-Nya. Mereka juga berbicara tentang Api Penyucian sebagai pemurnian “instan” segera setelah kematian, intensitasnya bervariasi dari satu jiwa ke jiwa lainnya, tergantung pada keadaan masing-masing individu.

Bagaimana kita membantu jiwa-jiwa mereka yang sudah meninggal? Katekismus Gereja Katolik menganjurkan doa-doa bagi orang meninggal dalam hubungan dengan Kurban Ekaristi dan juga mendorong dilakukannya amal, indulgensi serta pertobatan yang dilakukan atas nama mereka yang sudah meninggal.

Sudah sejak zaman dahulu Gereja menghargai peringatan akan orang-orang mati dan mempersembahkan doa-doa, terutama kurban Ekaristi untuk mereka, supaya mereka disucikan dan dapat memandang Allah dalam kebahagiaan. Gereja juga menganjurkan amal, indulgensi, dan karya penitensi demi orang-orang mati.”

(KGK 1032).

Peringatan Arwah Semua Orang Beriman ini adalah hari yang sangat penting dan istimewa. Hari ini kita berdoa dengan sungguh-sungguh untuk semua orang beriman yang telah meninggal, terutama untuk anggota keluarga kita sendiri, berdoa untuk mereka yang telah meninggal tetapi yang menjalani kehidupan dengan semua kerapuhan manusiawi. Kita tahu bahwa satu-satunya cara kita untuk membantu mereka adalah melalui doa-doa kita sehingga, setelah disucikan dari dosa-dosa mereka, mereka dapat mencapai istirahat kekal dan menikmati hadirat Tuhan.

Allah mengasihi kita. Karena kasih-Nya itu Ia menghendaki “supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada Kristus jangan ada yang hilang, tetapi supaya dibangkitkan pada akhir zaman,” (Yoh 6: 39). Kita tahu bahwa kasih kita kepada Allah tidak sempurna. Maka kita saling mendoakan agar kelak kita boleh bersatu dengan-Nya dan dengan saudara-saudara yang telah meninggal dan telah berbahagia bersama-Nya.

Author

Write A Comment