Sabda Hidup
Senin 16 Januari 2023, Senin Pekan Biasa II
Bacaan: Ibr. 5:1-10; Mzm. 110:1,2,3,4; Mrk. 2:18-22.
Tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya.
(Mrk 2: 21)
Kita sudah sering mendengar perumpamaan tersebut berulang kali. Saking seringnya sehingga acap kali lewat begitu saja. Apa makna perumpaan tersebut?
Perumpamaan tersebut diikuti dengan perumpamaan tentang menyimpan anggur yang baru dalam kantong kulit yang lama. Tak seorangpun akan melakukan itu sebab anggur itu akan mengoyakkan kantong yang lama. Anggur baru harus dituang dalam kantong kulit yang baru.
Kedua perumpamaan itu berbicara tentang kebenaran yang sama. Keduanya hendak mengatakan bahwa jika kita ingin menerima warta Injil-Nya yang baru dan mengubahkan, maka kita harus pertama-tama menjadi ciptaan yang baru. Hidup kita yang lama yang terkungkung dalam dosa tidak dapat menampung rahmat atau anugerah yang baru. Oleh sebab itu, untuk sepenuhnya menerima warta Yesus, kita pertama-tama harus diciptakan kembali menjadi baru.
Ingat sabda-Nya dalam Kitab Suci: “Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.” (Mrk 4: 25). Sabda ini mengajarkan hal yang serupa. Ketika kita dipenuhi dengan rahmat baru, kita semaki dirahmati.
Apakah “anggur baru” dan “tambalan baru” yang ingin diberikan oleh Yesus kepada anda? Jika anda mau agar hidup anda diperbarui, anda akan menemukan bahwa rahmat yang lebih banyak akan dicurahkan kepada anda sehingga anda akan mendapatkan lebih banyak lagi. Kelimpahan akan diberikan ketika kelimpahan itu sudah diterima. Itu adalah cara kerja rahmat. Namun jika sikap lama tetap bercokol dalam diri kita, maka rahmat itu tidak bekerja.
Tuhan meminta kita untuk meninggalkan struktur-struktur yang sudah usang: itu tidak berguna lagi! Dan menggunakan kantong kulit baru, yaitu Injil. Injil itu adalah kebaruan!. Hanya dengan hati yang gembira dan diperbarui kita mampu menghayati Injil sepenuhnya.
Kasih Tuhan adalah rahmat tetapi juga menuntut kita, memanggil kita untuk terus memperbarui hidup kita sehingga kita benar-benar dapat dibentuk oleh kasih-Nya.
