Sabda Hidup
Kamis, 26 Oktober 2023, Kamis Pekan Biasa XXIX
Bacaan: Rm. 6:19-23; Mzm. 1:1-2,3,4,6; Luk. 12:49-53.
Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!”
(Luk 12: 49)
Dalam Injil hari ini, kita mendapati beberapa pernyataan Yesus yang tampaknya aneh:
1) “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!” Dalam pemikiran Yahudi, api hampir selalu menjadi simbol penghakiman. Jadi, dengan demikian, Yesus menyatakan kedatangan kerajaan-Nya sebagai waktu penghakiman. Selain itu, Yesus menegaskan bahwa sabda-Nya membakar segala sesuatu, melalap segala sesuatu menjadi arang, dan membersihkan segala sesuatu sehingga sesuatu yang baru dapat tumbuh. Injil adalah Api yang memberikan terang dan panas, menghangatkan hati umat Allah, dan membuat hati mereka menyala-nyala. Dengan mengajarkan Injil di dalam kuasa Roh Kudus, Yesus membersihkan pikiran dan hati mereka yang percaya kepada-Nya. “Baptisan” dan “api” digunakan bersama-sama ketika Yohanes menyatakan bahwa Yesus akan membaptis dengan Roh Kudus dan api (3:16b).
2) “Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung!” Kata kerja Yunani “baptizein” berarti mencelupkan. Dalam bentuk pasif, kata ini berarti ditenggelamkan. Seringkali kata ini digunakan secara metaforis. Sebagai contoh, kata ini digunakan untuk menggambarkan sebuah kapal yang tenggelam di bawah ombak. Itulah cara yang digunakan Yesus di sini, yang berarti bahwa ia harus mengalami pengalaman yang mengerikan yang harus dilaluinya; dan hidupnya penuh dengan ketegangan sampai ia dapat melaluinya dan tampil dengan penuh kemenangan. Salib selalu ada di depan mata-Nya, demikian juga kematian-Nya untuk memberikan tebusan bagi banyak orang.
3) “Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.” Bagaimana ini bisa terjadi? Yesus adalah Raja Damai. Bala tentara surgawi bermadah pada malam kelahiran-Nya, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk 2:14). Nabi Yesaya (Yes. 9:5) menyebut Mesias sebagai “Raja Damai”. Namun kedatangan Yesus pasti akan membawa perpecahan; dan pada kenyataannya memang demikian. Itulah salah satu alasan utama mengapa orang Romawi membenci Kekristenan – memecah belah keluarga-keluarga: mereka yang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dan mereka yang membenci Yesus dan ajaran-ajarannya. Inti dari Kekristenan adalah bahwa kesetiaan kepada Kristus harus didahulukan di atas kesetiaan yang paling berharga di dunia ini dan hal ini menyebabkan perpecahan di dalam keluarga.
Apa pewartaannya bagi kita? Kita harus berani memegang keyakinan Kristiani kita, berpegang teguh terhadap apa yang kita yakini, berdasarkan firman Tuhan dalam Kitab Suci seperti yang diajarkan oleh Gereja yang didirikan oleh Yesus, dan diekspresikan dalam apa yang kita praktikkan. Apakah sabda-Nya membakar hati anda? Apa tanggapan anda jika iman anda membawa konsekuensi penderitaan? Bila anda ditolak karena keyakinan iman anda?
Tuhan, berilah aku anugerah untuk tetap mengarahkan diri kepada-Mu dan kehendak-Mu serta memilih Engkau di atas segala sesuatu dalam hidup ini. Ketika imanku ditantang, beri aku keberanian dan kekuatan untuk tetap teguh dalam kasih-Mu. Amin.
