Sabda Hidup
Selasa, 24 Januari 2023, Peringatan wajib St. Fransiskus de Sales
Bacaan: Ibr. 10:1-10 ; Mzm. 40:2,4ab,7-8a,10,11; Mrk. 3:31-35
“Inilah Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku. Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”
(Mrk 3: 34 – 35)
Dalam kutipan Injil hari ini nampak seakan-akan Yesus tidak memperdulikan permintaan Ibu dan kerabat-Nya yang telah melakukan perjalanan yang jauh, sekitar 20 mil, untuk menemui-Nya. Walau demikian semua orang tahu, kita, maupun orang-orang di sekeliling-Nya waktu itu, bahwa Ia mengasihi ibu-Nya, memperhatikan dan menjaganya selama bertahun-tahun, sebelum Ia memulai pelayanan publik-Nya. Lagi pula, apa yang dikatakan-Nya: “Ini Ibuku, ini saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku,” sebenarnya adalah penegasan bagi ibu-Nya yang selalu mendengarkan dan melakukan Sabda Allah dengan taat setia.Yesus juga menyatakan, “Berbahagialah mereka yang mendengarkan dan melaksanakannya,” seperti yang dilakukan oleh ibu-Nya (Lumen Gentium, 58).
Kesempatan itu juga digunakan oleh Yesus untuk mengajar suatu hal yang baru tentang relasi atau hubungan dengan Allah. Menjadi murid Yesus pertama-tama dan yang paling utama adalah relasi kasih dan kesatuan dengan Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus, serta dengan semua orang yang menjadi milik Allah sebagai anak-anak-Nya. Ia menetapkan suatu tatanan hubungan baru, relasi atau hubungan yang sejati bukanlah sekadar hubungan darah dan daging. Karena rahmat kemurahan hati-Nya Allah telah mengangkat kita sebagai anak-anak-Nya. Anugerah itu hendaknya memampukan kita untuk mengenali semua yang menjadi milik Kristus sebagai saudara-saudari kita.
Pengangkatan kita sebagai anak-anak Allah mengubah semua relasi kita dan menuntut suatu tatanan kesetiaan yang baru kepada Allah dan kerajaan-Nya. “Barangsiapa melakukan kehendak Bapa,” artinya, siapa saja yang taat kepada-Nya, adalah saudara dan saudari Kristus, sebab ia seperti Kristus melakukan kehendak Bapa. Tetapi barangsiapa yang tidak hanya melaksanakan kehendak-Nya, tetapi juga mempertobatkan orang lain, melahirkan Kristus di dalam mereka, dan dengan demikian menjadi seperti Bunda Kristus.
Sahabat-sahabat, mari kita ingat bahwa dengan Pembaptisan kita telah menjadi anak-anak Allah, saudara dan saudari Kristus, dan menjadi warga Keluarga Allah Tritunggal. Maka, kita wajib memperlakukan sesama dengan hormat dan kasih, dan membagikan kasih kita dengan mereka baik dalam karya pelayanan fisik maupun karya pelayanan belas kasih.
Kita ini adalah juga murid-murid-Nya, yang wajib mendengarkan dan melaksanakan Sabda-Nya.
St. Fransiskus dari Sales, Uskup dan Pujangga Gereja
Hari ini kita peringati St. Fransiskus dari Sales. Fransiskus lahir di Spanyol pada tanggal 21 Agustus 1567. Semenjak kecil ia sudah menunjukkan bakat-bakat yang luar biasa. Hal ini kemudian terlihat dalam hasil studinya di sekolah. Pendidikan Filsafat dan sastra di Universitas Paris diselesaikannya dengan gemilang. Setelah itu, ia melanjutkan studi di bidang hukum di Universitas Padua hingga meraih gelar Doktor.
Tuhan mempunyai rencana khusus atas dirinya. Fransiskus sendiri telah merasakan panggilan Allah ini. Setelah lama mempertimbangkan panggilan itu, ia memutuskan untuk mengikuti suara Tuhan. Orang tuanya tidak setuju dengan keputusan hatinya. Tetapi merekapun tidak berdaya untuk membatalkan rencana Allah atas diri anaknya itu. Fransiskus kemudian ditabhiskan menjadi imam.
Sebagai imam, ia dengan penuh semangat membaktikan dirinya bagi kepentingan gereja dan perkembangan iman. Ia bekerja di Chablais, kota Calvinis. Disana ia dengan gigih menegakkan ajaran iman yang benar. Tampaknya ia tidak berhasil. Karyanya menemui banyak rintangan, sedang hidupnya sendiripun senantiasa terancam. Meskipun demikian, ia tidak gentar menghadapi ancaman-ancaman itu. Ia coba menggunakan cara-cara lain untuk menyebarkan ajaran iman yang benar. Ia menulis ajaran-ajaran iman pada pamflet-pamflet dan meletakkannya pada tiang-tiang dan dinding-dinding diseluruh kota. Cara ini membawa hasil yang gemilang. Dalam waktu singkat, sebanyak 25.000-30.000 warga kota Calvinis bertobat dan kembali kepada ajaran iman yang benar. Hasil ini dilaporkannya kepada Sri Paus di Roma. Melihat keberhasilan karyanya, pada tahun 1597 Fransiskus ditabhiskan menjadi Uskup.
Sebagai Uskup, Fransiskus menaruh perhatian besar pada perkembangan iman umatnya. Ia dikenal sebagai seorang Uskup yang bijaksana, ramah dan sangat menyayangi umatnya. Sifatnya inilah yang membuatnya mampu mempertobatkan banyak orang. Tentang sifatnya, Fransiskus berkata: Jika ada sesuatu yang mulia dari kelemah lembutan dan kerendahan hati, tentunya Tuhan sudah mengajarkan hal itu kepada kita. Tetapi Tuhan justru mengajarkan kepada kita kedua hal ini, yakni kelembutan dan kerendahan hati. Bersama dengan Santa Yohanna Fransiska de Chantal, ia mendirikan tarekat Suster-suster Visitasi.
Pada tahun 1662 Fransiskus meninggal di Lyon, Prancis. Banyak sekali hal yang ditinggalkannya kepada Gereja, terutama tulisan-tulisannya yang mendalam tentang iman Katolik. Salah satu warisannya ialah pentingnya memanfaatkan surat kabar untuk menyebarkan ajaran iman dan kebenaran. Fransiskus adalah orang Kudus yang merintis penggunaan surat kabar sebagai pewartaan iman. Karena itu, pada tahun 1887 ia digelari sebagai Pujangga Gereja dan pelindung para penulis dan pers Katolik oleh Sri Paus Pius IX.
