Remah Harian

TANDA NABI YUNUS

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Senin, 19 Juli 2021, Senin Pekan Biasa XVI

“Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: “Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu.” Tetapi jawab-Nya kepada mereka: “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.”

(Mat 12: 38 – 39)

Kita sedang mengalami gelombang kedua pandemi Covid-19. Selain karena virus Corona Varian Delta merajalela, gelombang kedua itu juga disebabkan oleh sikap dari banyak orang yang “keras kepala” terhadap banyak usaha dari banyak pihak untuk menegakkan disiplin protokol kesehatan dan banyak usaha membatasi mobilitas banyak orang. Orang Jawa bilang “ndableg.” Kepala batu. Hanya mengikuti kehendak dan pemikiran sendiri. “Gue bodo amat!” kata mereka.

Dalam Injil hari ini, meskipun telah melihat mukjizat yang dilakukan Yesus di tengah-tengah mereka, para ahli Taurat dan orang Farisi tetap bersikeras meminta tanda kepada-Nya jika Dia adalah Mesias. Mereka ini adalah orang-orang yang ber-kepala-batu. Mereka selalu menuntut ‘tanda-tanda’ dari utusan Allah untuk membuktikan apa yang mereka wartakan. Untuk menjawab mereka, Yesus menunjuk pada sosok Yunus, yang warta pertobatannya ditanggapi secara positif oleh orang-orang Niniwe. Yunus yang ditelan dan tinggal di perut ikan selama tiga hari tiga malam dan dimuntahkan kembali di tempat yang sama di Niniwe, adalah tanda dari wafat dan kebangkitan-Nya. Wafat dan kebangkitan-Nya mendatangkan pertobatan bagi banyak orang. Dia menawarkan kita kebebasan dari dosa jika kita mendengarkan Dia.

Bertobat berarti berbalik. Dalam Perjanjian Baru pertobatan berarti berbalik dari dosa. Kita dipanggil oleh Tuhan untuk berbalik dari dosa. Allah memberitakan kepada manusia, bahwa di mana-mana semua mereka harus bertobat (Kis 17:30). Dia sabar terhadap kita karena Dia tidak ingin seorang pun binasa, tetapi supaya semua orang dapat datang kepada pertobatan (2 Pet. 3:9). Apakah kita menganggap remeh kekayaan kemurahan-Nya, kelapangan hati-Nya, dan kesabaran-Nya, dengan tidak mengetahui bahwa kebaikan Allah bertujuan untuk membawa kamu kepada pertobatan? (Rm. 2:4). Pertobatan adalah aspek fundamental dari kehidupan Kristiani.

Pertanyaannya, sampai kapan kita perlu bertobat? Sampai kapan kita perlu membaharui diri? Setiap saat! Kita selalu membutuhkan awal yang baru. Kita harus selalu bertobat. Cardinal Francis Xavier Nguyen Van Thuan dalam bukunya, The Road of Hope: A Gospel from Prison, berkata: “Janganlah merasa puas jika anda hari ini tidak selangkah lebih maju dari kemarin dalam persatuan anda dengan Tuhan. Anda lebih kurang merasa pasti, bahwa saat anda mandeg, anda mulai melangkah mundur dan akan jatuh dalam kebiasaan-kebiasan lama anda.”

Bagaimanakah kita menanggapi warta keselamatan Tuhan? Bagaimana kita menanggapi mukjizat-mukjizat Tuhan dalam kehidupan sehari-hari? Apakah saya juga “kepala batu” terhadap tanda-tanda dari Tuhan?

Bacaan hari ini: Kel. 14:5-18; MT Kel. 15:1-2,3-4,5-6; Mat. 12:38-42.

Author

Write A Comment