Sabda Hidup
Rabu, 7 Juni 2023, Rabu Pekan Biasa IX
Bacaan: Tb. 3:1-11a,13,16-17; Mzm. 25:2-4a,4b-5ab,6-7bc,8-9; Mrk. 12:18-27.
Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Sebab apabila orang bangkit dari antara orang mati, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga.”
(Mrk 12: 24 – 25)
Serombongan para frater, tentu saja ganteng-ganteng, mengenakan jubah putih mereka, melewati segerombolan anak-anak muda. Terdengar bisik-bisik di antara orang-orang muda itu, “Ishhh ganteng-ganteng kenapa jadi frater sih? Jangan-jangan mereka ini adalah orang-orang yang patah hati…. Orang-orang yang gagal dalam cinta…”
Banyak yang masih bertanya-tanya mengapa para imam dan biarawan-biarawati tidak menikah. Mengapa mereka selibat? Jangan-jangan memang karena patah hati atau gagal dalam cinta.
Tradisi Gereja Latin telah sejak lama mensyaratkan imam agar tidak menikah (hidup selibat). Ini disebabkan karena untuk menjadi imam dibutuhkan perhatian yang tidak terbagi (Bdk. 1Kor 7), agar ia dapat memberikan perhatian sepenuhnya kepada Tuhan dan Gereja-Nya.
Kristus menghendaki hidup selibat ini sebagai suatu pilihan bagi orang-orang yang ingin memberikan seluruh hidupnya bagi Kerajaan Allah (lih. Luk 18:29-30; Mat 19:29; Luk 14:26). Yesus berkata, “… Ada orang yang membuat dirinya demikian [selibat] karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Surga” (Mat 19:12). Hidup selibat untuk Kerajaan Allah juga dicontohkan olehNya sendiri. Mereka yang hidup selibat menerapkan dengan sepenuhnya apa yang disebutkan dalam surat Rasul Yohanes, mereka “hidup sama seperti Kristus telah hidup” (1Yoh 2:6). Rasul Paulus pun mengajarkan hidup selibat untuk Kerajaan Allah dengan berkata, “Orang yang tidak beristri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, bagaimana Tuhan berkenan kepadanya. Orang yang beristri memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan istrinya, dan dengan demikian perhatiannya terbagi-bagi. Perempuan yang tidak bersuami dan anak-anak gadis memusatkan perhatian mereka pada perkara Tuhan, supaya tubuh dan jiwa mereka kudus. Tetapi perempuan yang bersuami memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan suaminya” (1Kor 7:32-34).
Injil hari ini memberi suatu perspektif lain dari hidup selibat: “Sebab apabila orang bangkit dari antara orang mati, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga,” (Mrk 12: 25). Hidup selibat adalah tanda kebangkitan; itu adalah tanda bahwa hidup kita tidak berakhir pada kematian, tetapi kehidupan baru. Oleh karena itu, para imam dan religius menjadi pengingat tentang masa depan bagi kita yang sering kali tenggelam dalam kesibukan saat ini.
Pernikahan pun indah. Itu adalah sebuah sakramen – dan bisa dikatakan, sebuah ikon dari kehidupan batin Tritunggal. Namun, hal itu hanya dapat membawa kebahagiaan yang relatif. Tujuannya yang lebih transenden adalah untuk saling menyempurnakan dan menghantar pada kebahagiaan di hadapan Tuhan.
Jadi, kita semua, baik selibat ataupun menikah, dengan sikap dan perbuatan kita menjadi pengingat yang nyata bahwa Allah yang kita imani “bukanlah Allah bagi orang mati, melainkan Allah orang-orang yang hidup…” Bagaimanapun juga, kita semua adalah anak-anak Kebangkitan.
Ya Yesus, semoga kami tidak hanya tenggelam dalam kehidupan yang sementara ini, tetapi selalu mengarahkan diri dan saling membantu menuju pada kebahagiaan kekal. Amin.
