Sabda Hidup
Senin, 24 Juli 2023, Senin Pekan Biasa XVI
Bacaan: Kel. 14:5-18; MT Kel. 15:1-2,3-4,5-6; Mat. 12:38-42.
Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: “Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu.” Tetapi jawab-Nya kepada mereka: “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.”
(Mat 12: 38 – 39)
Tanda dalam bahasa Alkitabiah lebih menunjuk kepada mukjizat untuk membuktikan kebenaran kuasa pribadi tertentu. Mereka yang diminta memberi tanda adalah tokoh rohani yang memiliki misi keagamaan tertentu.
Dalam Injil hari ini, Yesus menanggapi permintaan para pemimpin agama Yahudi yang meminta-Nya memberikan tanda. Yesus mengatakan kepada mereka bahwa tanda yang akan diberikan kepada mereka adalah tanda-tanda nabi Yunus dan hikmat Salomo. Khotbah Yunus didengar oleh orang-orang Niniwe dan mereka mengubah cara hidup mereka. Hikmat Salomo jauh melampaui hikmat yang pernah ada. Keduanya merupakan tanda yang luar biasa dari kehadiran Allah. Sangat disayangkan bahwa mereka tidak mengenali Yesus, Mesias, Anak Allah. Yesus tidak hanya lebih besar dari Yunus dan Salomo, tetapi Dia adalah tanda Allah yang sempurna. Perkataan-Nya mengesahkan diri-Nya sendiri. Penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya berbicara sepenuhnya tentang identitas Yesus.
Dengan demikian, menghadapi tanda yang terbaik dan sempurna, dan masih meminta tanda yang lebih baik, adalah puncak dari kebutaan dan ketidaksetiaan. Ketika kita mencari tanda-tanda, apa yang sebenarnya kita butuhkan? Bagaimana kita melihat Allah menampakkan diri-Nya? Sayangnya, kita yakin bahwa Allah hanya dapat dilihat atas cara yang supernatural, yang tidak normal, transenden, di dalam roh. Memang, Allah itu supernatural tetapi Dia juga hadir dalam ciptaan-Nya dan dalam peristiwa-peristiwa hidup kita. Keagungan bintang-bintang, keindahan tubuh manusia, kapasitas pikiran manusia dan kompleksitas alam, semua itu adalah manifestasi, meski tidak sempurna, tetapi merupakan tanda-tanda yang baik dari kehadiran Allah. Dalam kekaguman kita, kita menghadapi kehadiran Allah yang luar biasa.
Sayangnya, kita sering kali lebih menyukai tanda-tanda yang tidak dapat diandalkan. Kita masih percaya takhayul dan tanda-tanda yang kita tentukan sendiri. Kita menjadi heboh ketika mendengar/membaca cerita tentang patung yang meneteskan air mata darah, gambar-gambar yang menangis. Kita lebih percaya ramalan bintang, horoskop, garis tangan, dsb. Ditambah lagi dengan penafsiran yang salah atau penjelasan yang dibuat demi kepentingan diri sendiri dari Kitab Suci. Tidak sedikit yang menjadi korban dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Kita masih ingat seorang yang bernama Thomas dari Surabaya yang mengaku mendapat penampakan Bunda Maria, tetapi akhirnya terbukti bahwa ia menipu untuk keuntungan diri sendiri.
Marilah kita mengenali tanda-tanda yang diberikan Tuhan dalam hidup kita. Marilah kita memeriksa hati kita dan melihat apakah kita mampu melihat kehadiran Tuhan dalam diri kita dan orang lain, karya tangan-Nya di balik peristiwa-peristiwa kecil dan besar dalam hidup kita, dan pemeliharaan-Nya dalam hidup kita, serta hikmat-Nya dalam Kitab Suci, Ajaran Gereja serta dalam liturgi. Marilah kita membuka telinga kita untuk mendengar pesan Tuhan yang diberikan kepada kita melalui orang lain dan melalui kesekitaran kita. Kita harus bisa membaca pesan Tuhan dan menyesuaikan hidup kita sesuai dengan itu.
Mari kita mencoba yang terbaik untuk membuka hati kita kepada Tuhan dan menerima Roh-Nya melalui partisipasi aktif kita dalam liturgi, ketimbang mencari tanda-tanda pada patung Bunda Maria yang menangis, salib yang berdarah, dan “penglihatan-penglihatan” lainnya. Terlebih lagi, kita sendiri harus menjadi tanda dan sarana cinta serta kerahiman-Nya bagi sesama! Kita sendiri menghadirkan Hati-Nya bagi sesama.
Tuhan, kiranya kami tidak melewatkan kesempatan untuk menjadi tanda kasih-Mu bagi semua orang yang kami jumpai. Amin.
