Sabda Hidup
Minggu, 2 Oktober 2022, Minggu Biasa XXVII Tahun C
Bacaan: Hab. 1:2-3; 2:2-4; Mzm. 95:1-2,6-7,8-9; 2Tim. 1:6-8,13-14; Luk. 17:5-10.
“Tambahkanlah iman kami!”
(Luk 17: 5)
Bacaan-bacaan Minggu Biasa XXVII ini berbicara tentang iman. Dalam bacaan pertama kita dihantar masuk dalam permenungan kita melalui pergulatan Nabi Habakuk. Habakuk adalah nabi “kecil” dalam Perjanjian Lama. Ia hidup pada saat jatuhnya Yerusalem tahun 586 SM dan mendorong umat Yahudi untuk bertahan dalam iman selama malapetaka tersebut. Baginya uman adalah kepercayaan yang teguh pada kuasa penyelamatan Allah. Dua bab pertama Kitab Nabi Habakuk ditulis dalam bentuk dialog antara nabi dengan Allah. Nabi Habakkuk berulang kali mengeluh kepada Allah dan setiap kali sang Nabi mengeluh, Allah menjawabnya. Dalam bacaan pertama hari Minggu Biasa XXVII ini kita dengar keluhannya, “Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: “Penindasan!” tetapi tidak Kautolong?”
Sekitar tahun 600 SM Umat Allah ternyata tidak setia dan karenanya mereka dihukum. Allah mengijinkan bangsa kafir, Babilon, menduduki Yerusalem. Apa yang membuat Nabi Habakuk tertekan adalah bahwa hukuman itu jatuh melalui tangan bangsa kafir yang sangat brutal dan agresif. Baginya nampak bahwa yang buruk dihukum dengan yang lebih buruk lagi, seakan-akan Allah “mendukung” ketidakadilan dan kekejaman. Maka ia berseru, “Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi.”
Barangkali Habakuk menampilkan banyak wajah kita dalam situasi ketika semuanya nampak hancur, ketika kita merasa bahwa Allah begitu jauh dan seakan tidak peduli tentang permasalahan kita.
Misalnya kita bertanya, mengapa Allah mengijinkan malapetaka menimpa mereka yang luluh lantak karena tanah longsor, banjir bandang atau gempa bumi? Atau kita bertanya, mengapa orang-orang jahat terus menebar ketakutan dan penderitaan dengan penculikan, perampokan, pemerkosaan dan pembunuhan keji?
Dan jawaban Allah adalah, “Bersabarlah. Apa yang kuminta padamu adalah iman. Percaya.” Seperti yang dikatakannya kepada Habakuk, “Apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh.” Bacaan pertama kita ditutup dengan pernyataan: “Orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya.” Orang benar akan hidup oleh imannya. [Hab 2: 4; Bdk Rom 1: 17; Gal 3: 11; Ibr 10: 38]. Itu berarti bahwa orang benar adalah seorang yang teguh dalam kesetiaannya, meski di tengah kekejaman dan kehancuran. Kesetiaannya itu akan menjamin hidupnya. Iman di sini bukan berarti sekadar menerima ajaran-ajaran, tetapi mempercayakan diri, dengan kepercayaan yang teguh akan belas kasih Allah. Orang benar hidup karena ia tetap setia dalam relasinya dengan Allah. Kata “iman” [Ibr: emunah] menunjuk pada Iman yang hidup, iman yang diekspresikan dalam tindakan (Yak 2: 17, 26). Oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa iman tanpa perbuatan sungguh mati. Iman adalah kesetiaan dan kepercayaan yang nyata, keteguhan dalam pencobaan dan kesulitan sehari-hari.
Dalam Injil kita dengar permohonan para rasul: “Tambahkanlah iman kami.” Para rasul yang diutus oleh Yesus rupanya menghadapi tuntutan berat karya mereka dan merasa “lelah” karena tanggapan dingin umat. Yesus menjawab, “Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.” Itu tidak berarti bahwa secara harafiah iman akan memberi kita kekuatan untuk memindahkan pohon ke dalam laut, tetapi iman akan memampukan kita untuk menghadapi kesulitan-kesulitan, hambatan-hambatan dan realitas yang keras dalam hidup kita.

Ada seorang imam yang menggambarkan iman itu seperti kacamata “RayBan”. Ketika anda keluar di siang hari bolong, sinar mathari begitu terang dan anda tidak dapat melihat sekeliling dengan jelas karena silau. Tetapi ketika anda memakai kacamata “RayBan” anda tidak silau lagi dan dapat melihat dengan lebih jelas. Dengan kacamata iman anda melihat realitas hidup secara lebih jelas.
Akan tetapi, iman atau mempercayakan diri kepada Tuhan saja tidaklah cukup. Sebanyak apapun bantuan Tuhan kita minta, sebanyak itu pula kita berusaha dari pihak kita.
Seorang datang meminta berkat untuk mobilnya yang baru. Saya bilang, “Berkat saya ini hanya berlaku untuk kecepatan maksimal 90km/jam. Lebih dari itu menjadi tanggungjawabmu sendiri.” Tentu saja saya hanya bergurau, tetapi ada benarnya juga lho! Beneran, meskipun saya siram mobil itu dengan air berkat satu drum, jika anda sembrono mengemudikan mobil – berkat saya tidak akan membantu! Barangkali sopirnya yang perlu disiram air berkat hehe….
Itu juga benar untuk situasi masyarakat atau negara kita. Ada yang bilang masyarakat kita adalah masyarakat religius [baca: beragama]. Tetapi sesaleh apapun kita berdoa jika masing-masing hanya memperhatikan kepentingan sendiri, saling menghujat, saling menjegal, saling menjatuhkan, maka kita tidak akan maju-maju.
Semoga Tuhan senantiasa menambahkan iman kita. Tapi ingat, yang lebih penting adalah KUALITAS iman kita bukan kuantitas. Sementara para Rasul meminta agar kuantitas Iman mereka ditambahkan, Yesus mengingatkan bahwa KUALITAS Iman seseorang lebih penting daripada kuantitas. Iman yang mendalam, meski kecil (sedikit) dapat mencapai hal-hal besar jika yang kecil itu ditempatkan pada Tuhan yang besar, perkasa, dan mahakuasa. Menggunakan perumpamaan tuan-hamba, Yesus juga mengajarkan, bahwa agar Iman menjadi efektif harus disertai dengan kepercayaan, ketaatan, dan komitmen total — penyerahan aktif kepada Tuhan dengan kesediaan untuk melakukan apa pun yang Ia perintahkan.
Mari kita bersyukur kepada Tuhan atas pemeliharaan-Nya yang tiada henti. Sebagian besar dari kita cenderung melupakan pemeliharaan Tuhan itu ketika urusan duniawi kita berjalan dengan baik. Kita berdoa kepada-Nya hanya ketika masalah mendatangi kita. Kita juga perlu bertumbuh dalam Iman dengan menggunakan sarana yang telah diberikan Kristus kepada kita melalui Gereja-Nya. Kita memupuk Iman kita melalui doa, pendalaman Kitab Suci, partisipasi dalam Ekaristi dan menjalani disiplin hidup rohani.
