Sabda Hidup
Rabu, 12 Juli 2023, Rabu Pekan Biasa XIV
Bacaan: Kej. 41:55-57; 42:5-7a,17-24a; Mzm. 33:2-3,10-11,18-19; Mat. 10:1-7.
Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan. Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat.”
(Mat 10: 1. 5 – 7)
Gambar di atas merupakan hasil rekayasa artificial inteligence, kecerdasan buatan, tentang selfie Yesus bersama dengan murid-murid-Nya. Ada banyak situs AI di mana anda dapat memberikan perintah untuk menciptakan gambar apa saja, termasuk membuat foto selfie Yesus bersama murid-murid-Nya.
Kisah dalam dalam Injil hari ini tentu bukan tentang Yesus yang sedang selfie-selfie, tetapi tentang Yesus yang mendelegasikan mandat ilahi yang Ia terima dari Bapa kepada murid-murid-Nya. Mandat yang sama, kita terima saat ini. Menyatakan kedatangan Kerajaan Allah adalah tanggungjawab bersama. Tak seorangpun dari kita dipanggil hanya menjadi penonton. Kita masing-masing adalah bagian yang essensial dari rencana ilahi itu. St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus menyatakan hal itu dengan jelas: “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh,” (Ef 2: 19 – 22). Sayangnya sering kali kita memelihara mentalitas penonton. Kelesuan dan kemalasan membuat kita hanya menunggu seorang penyelamat datang untuk menyelamatkan kita. Seakan-akan kita menantikan datangnya Superman atau Spiderman atau superhero lainnya, kita cenderung meletakkan tanggungjawab pada pundak orang lain.
Kalau tidak melempar tanggungjawab, banyak juga yang berkutat dengan rasa tidak layak. Kesadaran akan ketidaklayakan itu tentu dirasakan oleh semua. Kita semua merasa tidak layak untuk menjadi alat Tuhan. Walau demikian, seperti dalam Injil hari ini, Tuhan memanggil juga mereka yang tidak layak. Ia memanggil Petrus dan Andreas yang barangkali kurang berpendidikan. Ia memanggil Matius yang disingkirkan dan dijauhi orang karena pekerjaannya sebagai pemungut cukai. Bukan tidak mungkin ia mengambil keuntungan secara tidak jujur melalui pekerjaannya. Ia memanggil Thomas yang peragu, Simon orang Zelot yang ultra nasionalis. Bahkan Ia memanggil Yudas Iskariot yang akan mengkhianati Dia. Meski tidak layak, penuh kekurangan Yesus memanggil mereka.
Atas cara yang sama, meski keberdosaan dan ketidaklayakan kita, Yesus juga memanggil kita menjadi murid-murid-Nya. Ia memanggil kita bukan tanpa alasan tetapi Ia memilih kita karena Ia mengenal kita masing-masing. Oleh sebab itu, tidak perlu kita takut dan khawatir jika Ia menghendaki kita untuk melakukan lebih dari sekadar menghadiri misa! Biarlah Ia memakai kita untuk kemuliaan Kerajaan-Nya!
Sahabat-sahabat, ingatlah selalu, kita di sini bukan untuk menjadi penonton. Kita dipanggil untuk menegakkan Kerajaan Allah dalam situasi apapun dan dimanapun kita berada. Kita adalah bagian tak terpisahkan dari rencana Allah. Tidak ada yang dipanggil untuk menjadi penonton saja. Keselamatan tersedia, tetapi kita juga harus berusaha. Yesus mengingatkan kita dan ingin kita mengingatkan orang lain bahwa, “Kerajaan surga sudah dekat”. Adalah tugas kita untuk mewujudkannya dalam kehidupan dan situasi kita masing-masing.
“Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Mat 10: 7).
Ya Tuhan, bimbinglah pikiran, perkataan, dan perbuatanku sehingga aku dapat memberitakan kerajaan-Mu dengan caraku sendiri, meski sangat sederhana. Amin.
