Remah Harian

TAK AKAN DIAMPUNI?

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Sabtu, 21 Oktober 2023, Sabtu Pekan Biasa XXVIII
Bacaan: Rm. 4:13,16-18Mzm. 105:6-7,8-9,42-43Luk. 12:8-12

Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni.”

(Luk 12: 10)

Bayangkan saat kita mati Yesus datang menemui kita dan menunjukkan kepada kita sebuah video tentang seluruh hidup kita. Dalam video tersebut kita melihat semua hal baik yang telah kita lakukan.  Tetapi ada juga bagian-bagian yang kosong dalam rekaman video itu. Lalu kita bertanya kepada Tuhan, mengapa ada bagian yang kosong dalam rekaman hidup kita. Yesus berkata kepada bahwa bagian-bagian yang kosong itu adalah saat-saat ketika kita berdosa dan meminta belas kasih Allah. Ketika Allah mengampuni, Dia benar-benar menghapus dosa-dosa kita dan tidak mengingatnya.

Yesus dalam Injil hari ini berkata, “Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni,” (Luk 12: 10). Dosa apakah yang tidak dapat diampuni ini? Ini sangat sulit untuk dijawab. Karena kitab Samuel yang kedua memberikan contoh seseorang yang diampuni dari dosa kemalasan, hawa nafsu, perzinahan, skandal dan pembunuhan (pasal 11). Kita semua tahu bahwa Roh Kudus adalah Sang Penasihat yang selalu membisikkan ke dalam hati kita, “Kembalilah kepada Allah yang mengasihimu.” Jadi, menghujat Roh Kudus sama dengan berkata, “Allah tidak dapat mengampuni saya.” Dosa besar yang berupa keputusasaan dengan mengatakan bahwa Allah tidak dapat mengampuni kita menghalangi kita untuk memahami panggilan Roh Kudus untuk kembali kepada Allah. Ini sungguh merupakan penghujatan yang mendalam karena menyangkal inti dari keberadaan Allah: Kasih dan kerahiman-Nya.

Dalam hal ini kita dapat belajar dari St. Katarina dari Siena. Bagi St. Katarina, cinta Allah yang penuh belas kasih pada dasarnya mendefinisikan siapa Dia. Oleh sebab itu keputusasaan akan belas kasih-Nya adalah dosa yang tidak dapat diampuni. Itu adalah suatu pelanggaran karena menganggap dosa lebih besar daripada belas kasih Allah. Dalam tulisannya St. Katarina menyampaikan pesan-Nya: “Inilah dosa yang tidak akan pernah diampuni, sekarang dan selamanya: penolakan, penghinaan terhadap kerahiman-Ku. Karena hal ini lebih menyinggung perasaan-Ku daripada semua dosa lain yang telah mereka lakukan. Jadi keputusasaan Yudas lebih membuat-Ku marah dan merupakan penghinaan yang lebih besar bagi Putra-Ku daripada pengkhianatannya. Oleh karena itu, orang-orang seperti ini ditegur atas penilaian yang salah karena menganggap dosa-dosa mereka lebih besar daripada belas kasihan-Ku dan untuk itu mereka dihukum bersama iblis-iblis dan disiksa selama-lamanya bersama mereka.”

St. Katarina kemudian menjelaskan bahwa itu bukan berarti Tuhan akan menghancurkan mereka yang menolak belas kasih-Nya, tetapi merekalah yang menghancurkan diri mereka sendiri jika mereka tidak mau menerima dan menerima uluran belas kasih-Nya. Jika kita dengan keras kepala menghendakinya, kita dapat memisahkan diri kita dari-Nya selamanya.

Katekismus Gereja Katolik No. 1864 mengatakan:

“Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus”, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, tetapi bersalah karena berbuat dosa kekal” (Mrk 3:29). Kerahiman Allah tidak mengenal batas; tetapi siapa yang dengan sengaja tidak bersedia menerima kerahiman Allah melalui penyesalan, ia menolak pengampunan dosa-dosanya dan keselamatan yang ditawarkan oleh Roh Kudus.  Ketegaran hati semacam itu dapat menyebabkan sikap yang tidak bersedia bertobat sampai pada saat kematian dan dapat menyebabkan kemusnahan abadi.”

Allah itu penuh belas kasihan. Begitu besar belas kasih-Nya sehingga Dia tetap menunjukkan kasih-Nya kepada kita meskipun kita adalah orang-orang berdosa. Belas kasih-Nya tidak terbatas dan lebih besar daripada keberdosaan kita. Oleh karena itu, meneladan Tuhan kita Yesus Kristus kita berusaha untuk menjadi penuh belas kasih seperti Allah. Sebagaimana belas kasih Allah tercurah kepada kita, demikian pula kita harus mencurahkan berkat-berkat yang kita terima kepada orang lain. Tidak ada seorang pun dari kita yang dapat berbelas kasih seperti Allah. Kita, manusia yang malang ini, membutuhkan belas kasihan Allah dan orang lain juga membutuhkan belas kasih kita. Kita berusaha menampilkan wajah kerahiman Allah. Dengan itu kita memperluas iman kita ke luar kepada dan untuk orang lain.

Pada akhirnya marilah kita renungkan hal ini: “Kadang-kadang Allah menghancurkan hati kita untuk membuat kita utuh. Dia memberikan rasa sakit kepada kita agar kita dapat menjadi lebih kuat. Dia mengijinkan kegagalan kita alami agar kita menjadi rendah hati. Dia mengirimkan penyakit agar kita dapat merawat diri kita dengan lebih baik. Dan terkadang, Tuhan mengambil semuanya dari kita agar kita dapat belajar tentang nilai dari semua yang Dia berikan kepada kita, untuk percaya dan berpegang pada-Nya.”

Tuhan, terima kasih atas belas kasih, kerahiman, dan pengampunan-Mu. Bantulah aku untuk menampilkan wajah belas kasih dan kerahiman-Mu bagi sesama. Amin.

Author

Write A Comment