Sabda Hidup
Jumat, 18 Agustus 2023, Jumat Pekan Biasa XIX
Bacaan: Yos. 24:1-13; Mzm. 136:1-3,16-18,21-22,24; Mat. 19:3-12.
Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”
(Mat 19: 5 – 6).
Kita mendengar dalam perikope Injil kita hari ini kata-kata Kitab Suci yang paling tegas tentang perkawinan yang tak terceraikan. Hanya Allah yang boleh menceraikan – yakni hanya ketika pasangan dipanggil-Nya.
Akan tetapi perhatian saya tertuju pada reaksi para murid setelah mendengar Tuhan berkata bahwa tidaklah benar menceraikan perkawinan atau menikah lagi. Mereka berkata: “Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin,” (Mat 19: 10).
Mereka berkata demikian karena menikah itu terlalu beresiko. Bagaimana jika anda menikah dengan seseorang yang kemudian setelah bertahun-tahun anda sadari bahwa ternyata ia bukan pasangan yang tepat untuk anda? Apa yang akan terjadi pada anda? Anda akan menanggung ketidakbahagiaan sepanjang sisa hidup anda. Oleh sebab itu, terlalu berisiko untuk menikah. Berbahaya! Dapat menyebabkan penderitaan seumur hidup. Bahkan anda dapat kehilangan hidup anda!
Akan tetapi, sahabat-sahabat, bukan hanya mereka yang menikah menghadapi risiko. Para imam, biarawan-biarawati pun menghadapi risiko. Ketika kami berbicara tentang hidup selibat banyak orang muda berkata: “Wah… kalau begitu saya tidak akan menjadi seorang imam.” Selibat pun berisiko. Anda dapat menghadapi kesepian. Belum tentu ada jaminan keamanan di masa tua. Anda akan berhadapan dengan macam-macam kekhawatiran dan kecemasan.
Ada juga yang berkata, “Lebih baik tetap single. Lihat kami…jojoba…jomblo-jomblo bahagia!”
Sahabat-sahabat, baik menikah maupun tetap single, kita menghadapi banyak risiko. Kita tidak dapat menghindari risiko dalam hidup sebab tidak ada keputusan dan pilihan hidup yang sempurna.
Yang penting dan utama, bukan soal risiko. Yang utama adalah Allah yang menyertai kita menghadapi risiko apapun. Ia tidak pernah menjanjikan hidup yang bebas dari risiko. Ia tak pernah menjanjikan hidup yang bebas dari masalah. Ia tak pernah menjanjikan hidup yang enak dan nyaman selamanya. Ia hanya berjanji bahwa Ia menyertai kita sampai akhir jaman.
Banyak dari kita takut mengambil risiko dan karenanya tak berani membuat komitmen. Nah itulah masalahnya! Bukan takut ambil risiko tetapi tidak mau membuat komitmen. Mari mohon terang dan bimbingan Roh-Nya agar kita berani berkomitmen, apapun pilihan hidup kita. Sebab kita tahu bahwa Ia setia.
Tuhan, bantulah kami untuk setia. Amin.
