Remah Harian

SUARAKAN KEBENARAN

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Jumat, 3 Februari 2023, Jumat Pekan Biasa IV
Bacaan: Ibr 13:1-8Mzm. 27:1,3,5,8b-9abcMrk. 6:14-29.

Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai isteri. Karena Yohanes pernah menegor Herodes: “Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!”

(Mrk 6: 17).

Injil hari ini mengetengahkan adegan terakhir dari sebuah tragedi dengan tiga tokoh utama: Herodes, Herodias dan Yohanes Pembaptis.

Herodes adalah raja boneka yang pencemburu, lemah, dengan hati nurani dikejar-kejar rasa bersalah. Ia takut kepada Yohanes yang oleh banyak orang dianggap nabi, karena Yohanes telah menegurnya di hadapan umum karena menceraikan istri sahnya tanpa alasan yang memadai dan kemudian menikahi saudara iparnya Herodias, sehingga melakukan pelanggaran ganda terhadap Hukum Musa.

Herodias adalah seorang perempuan yang tidak bermoral dan serakah, ternoda oleh kesalahan tiga kali lipat dan dikritik secara terbuka oleh Yoanes: 1) Dia adalah perempuan yang tidak setia dengan moral yang longgar; 2) Dia adalah wanita yang serakah dan pendendam; 3) Dia adalah seorang ibu jahat yang “memperalat” putri remajanya untuk tujuan jahat pembunuhan dan balas dendam dengan menyuruhnya menari di depan umum di istana kerajaan melawan etiket kerajaan saat itu.

Yohanes Pembaptis adalah seorang pengkhotbah yang berapi-api dan perintis jalan bagi Sang Juruselamat yang dinantikan. Dia juga seorang nabi yang dipenuhi Roh dengan keberanian dan keyakinan akan kebenaran sehingga berani mengkritik dan menegur seorang raja dan isterinya yang sombong di depan umum.

Selalu ada resiko yang harus dihadapi ketika kita berdiri menentang kejahatan. Bahkan dalam keluarga sendiri pun, ketika salah seorang mulai “bermain api”, maka yang lain tidak boleh tinggal diam. Tetapi keberanian seperti ini terkadang harus dibayar dengan harga yang mahal. Mungkin akan ada konflik, mungkin akan tercipta kerenggangan. Walau demikian, kita tetap harus bersuara menentang kuasa kejahatan.

Yohanes Pembaptis membayar harga yang sangat mahal ketika berbicara menentang sesuatu yang tidak benar; dia dipenggal kepalanya karena menyuarakan kebenaran. Kita pun mesti menyuarakan kebenaran walau kita tidak sempurna. Jika untuk berbicara tentang kebenaran kita harus menjadi sempurna terlebih dahulu, siapa yang akan menyuarakan kebenaran? Pengikut Yesus yang sejati adalah mereka yang tidak takut untuk menyuarakan kebenaran tanpa peduli apa konsekuensinya.

Satu-satunya hal yang diperlukan agar kejahatan menang adalah orang baik tidak melakukan apa-apa.

Beranikah kita memperjuangkan kebenaran?

Author

Write A Comment