Sabda Hidup
Sabtu, 24 Februari 2024, Sabtu Pekan Prapaskah I
Bacaan: Ul. 26:16-19; Mzm. 119:1-2,4-5,7-8; Mat. 5:43-48.
Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”
MAT 5: 43 – 44
Tidak ada bagian lain dalam Kitab Suci Perjanjian Baru yang mengandung ekspresi etika kristiani yang begitu padat tentang hubungan pribadi. Sabda Tuhan ini sulit, tetapi bagian ini menggambarkan kekristenan yang esensial dalam tindakan.
Dalam kehidupan modern masa kini, ada istilah “racial profiling” yang dalam bahasa Indonesia kita bisa terjemahkan sebagai “profil rasial” atau “profil etnis” . Hal ini menunjuk pada kecurigaan atau bahkan diskriminasi terhadap orang-orang dari latar belakang etnis atau ras tertentu yang semata-mata didasarkan pada penampilan. Hal ini sudah cukup lama dan terus menjadi persoalan bagi masyarakat saat ini. Diskriminasi berdasarkan gender, etnis, dan agama dengan mudah mempengaruhi pandangan kita terhadap orang-orang di sekitar kita. Diskriminasi terhadap orang-orang berdasarkan status ekonomi dan sosial merajalela bahkan di dalam komunitas-komunitas Gereja saat ini.
Injil hari ini secara langsung membahas masalah ini. Hukum Musa memerintahkan untuk mengasihi sesama manusia, namun perintah itu menyiratkan kebencian terhadap orang-orang asing dan orang kafir. Yesus mengundang murid-murid-Nya untuk melihat lebih jauh dan mengasihi semua orang, mengasihi tanpa batas.
Paus Fransiskus menjelaskan apa yang membuat seorang Kristen berbeda dari yang lain. Dia berkata, “Misteri kehidupan Kristen adalah mengasihi musuh-musuh kita dan berdoa bagi para penganiaya kita. Pengampunan, doa, dan kasih bagi mereka yang berusaha menghancurkan kita adalah jalan yang telah Yesus tunjukkan kepada kita. Tantangan dari kehidupan Kristen adalah memohon kepada Tuhan untuk memberkati musuh-musuh kita dan mengasihi mereka.” Ini adalah ungkapan yang bagus, tetapi seberapa jauh hal itu dapat kita lakukan? Berapa banyak keluarga kita di mana tidak ada lagi kasih di antara saudara kandung, pasangan, atau anak-anak dan orang tua mereka?
Kita boleh berbangga karena tidak memiliki musuh. Tetapi pikirkanlah saat-saat ketika kita mendiskriminasi saudara-saudari kita karena status sosial-ekonomi atau keyakinan agama mereka atau kita sendiri mengalami diskriminasi dan ditolak karena alasan yang sama.
Kasus-kasus penolakan dan pelabelan orang sebagai “jahat”, “bodoh”, atau “tidak berguna” bukanlah hal yang kristiani karena mereka adalah anak-anak Allah sama seperti kita! Kebencian, gosip dan tindakan kekerasan sama sekali tidak kristiani. Penolakan dan penyangkalan terhadap mereka yang tidak setuju dengan ideologi, proyek pribadi, atau karena beda pilihan, bertentangan dengan prinsip-prinsip hidup Yesus. Jangan karena pada saat pemilu berbeda pilihan kemudian saling membenci. Dia mengajar kita untuk mengasihi, mengasihi tanpa syarat dan batasan. Untuk mengasihi bahkan musuh-musuh kita.
Yesus menetapkan “standar yang sangat tinggi” bagi mereka yang ingin menjadi murid-Nya. Seandainya dunia mendengarkan dan melaksanakan sabda Kristus, maka tidak akan pernah terdengar adanya peperangan, pembunuhan dan pertikaian. Krisis pengungsi dan orang-orang yang terlantar tidak akan pernah terjadi di tengah-tengah kita. Jutaan orang mengungsi dan menjadi sasaran pelecehan dan penyiksaan di masa krisis ini. Dapatkah kita sedikit lebih berbelas kasih dan berempati kepada orang-orang di jalanan, para pengemis yang mengetuk kaca mobil kita, para gelandangan, dan keluarga-keluarga yang berpenghasilan rendah…? Mari kita terus berdoa bagi saudara-saudari kita di Ukraina dan Rusia, bagi mereka yang berada di Palestina dan Israel, bagi mereka yang berada di pegunungan Papua dan juga para pengungsi serta orang-orang yang menderita di seluruh dunia di masa Prapaskah ini.
Kasihilah musuh-musuhmu dan berdoalah bahkan untuk mereka yang menyakitimu. Ini bukanlah tugas yang mudah, tetapi sesuatu yang harus menjadi ciri khas kita sebagai orang Kristen. Kita telah berulang kali menyakiti hati Allah dan Dia mengampuni. Kita harus melakukan hal yang sama satu terhadap yang lain.
Tuhan, ajarilah kami mengasihi seperti Engkau mengasihi. Amin
