Remah Harian

SIKAP TERHADAP HARTA KEKAYAAN

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Sabtu 11 November 2023, Peringatan Wajib St. Martinus dari Tours
Bacaan: Rm. 16:3-9,16,22-27Mzm. 145:2-3,4-5,10-11Luk. 16:9-15

(Luk 16: 9)

Perikope Injil hari ini adalah kelanjutan dari perikope Injil kemarin, Perumpamaan tentang Bendahara yang Tidak Jujur. Apa yang Yesus bicarakan dalam Injil hari ini tentang “mengikat persahabatan menggunakan Mamon yang tidak jujur” mengundang tanda tanya. Rupanya, dalam praktik riba ini, pemberi pinjaman membebankan bunganya sendiri dan perantaranya (dalam hal ini si bendaharawan) membebankan bunga tambahan. Praktek riba adalah sebuah praktik yang dikecam tetapi masih saja terjadi. Malahan sekarang terkenal istilah “pinjam dulu seratus”! Hamba (bendahara) yang yang tidak jujur itu, rupanya menghapus bunga tambahan yang ia berikan, sehingga orang yang berhutang akan menjadi temannya. Dia menjalin pertemanan dengan menggunakan uang yang tidak jujur. Kelak, setelah ia dipecat dan membutuhkan bantuan, dia akan memiliki beberapa teman untuk membantunya.

Ini adalah sebuah permulaan. Dia melakukan hal kecil untuk membantu orang lain – dengan memotong hutang kepada tuannya serta menghapus komisi (yang seharusnya ia dapat) kepada seseorang yang kesulitan membayar hutang. Kemudian hal kecil itu bisa berkembang – ketika dia membutuhkan bantuan, dia sekarang memiliki teman baru untuk membantunya. Dan begitu dia menunjukkan belas kasihnya dengan tindakan kecil, dia menunjukkan bahwa dia dapat dipercaya dengan lebih banyak hal. Dia menggunakan uang yang tidak jujur ini untuk keuntungan yang baik, menunjukkan bahwa dia mungkin bisa melakukan sesuatu yang lebih besar dan lebih baik. Ia menunjukkan bahwa ia dapat melakukan sesuatu yang layak bahkan dengan uang orang lain yang tidak jujur. Mungkin dia bisa melakukan yang lebih baik lagi dengan uangnya sendiri yang jujur. Ini seperti memberikan kepada seorang anak seekor ikan hias lebih dahulu, untuk melihat bagaimana perkembangannya, sebelum memberikan kepadanya seekor anjing untuk dipelihara. Jika Anda tidak bisa dipercaya dalam hal-hal kecil, Anda tidak boleh diberi tanggung jawab yang lebih besar.

Namun kita tidak boleh melupakan fakta bahwa bendaharawan itu dalam melakukan tindakannya tidak benar-benar memperhatikan kepentingan tuannya. Dan jika tuannya yang sudah mendengar bahwa ia bertindak tidak jujur, pekerjaannya sendiri mungkin akan terancam. Itulah sebabnya dia membuat kesepakatan dengan orang-orang yang berhutang kepada tuannya ini sejak awal – dia akan membutuhkan teman jika dia dipecat.

Tapi sekarang kita lihat bagian selanjutnya. Yesus mengatakan bahwa seorang hamba tidak dapat mengabdi dua tuan. Bendahara itu seharusnya dapat melayani tuannya dengan baik dan memastikan semua uangnya dibayar kembali dengan bunga yang sesuai, apa pun yang terjadi. Atau di pihak lain, dia dapat menjadi orang yang sungguh berbelas kasih dan melakukan hal itu dengan jujur (bukan dengan bertindak curang mempergunakan uang tuannya).

Menjadi permenungan kita: bagaimana kita mempergunakan apa saja yang kita terima dari Tuhan? Bagaimana sikap kita terhadap harta kekayaan duniawi? Mengenai sikap yang pantas terhadap barang milik dan penggunaannya, maka orang yang benar diwajibkan untuk bersikap setia (Luk 16:11). Orang Kristen tidak boleh berpegang erat kepada barang milik mereka sebagai kekayaan atau jaminan pribadi, tetapi mereka harus menyerahkan kekayaan mereka dan menempatkan semua sumber penghasilan mereka ke dalam tangan Tuhan untuk dipergunakan di dalam Kerajaan-Nya, untuk memajukan maksud Kristus di bumi, dan bagi keselamatan dan keperluan orang lain.

Demikian, mereka yang memiliki kekayaan dan harta bendawi harus memandang diri mereka sebagai pengurus barang milik Allah (Luk 12:31-48), serta harus bersikap dermawan, siap sedia untuk membagikan kepada orang lain dan kaya dalam kebajikan (Ef 4:28; 1Tim 6:17-19). Mari kita menyelidiki hati dan keinginan kita sendiri: Apakah saya seorang yang serakah? Apakah saya seorang yang mementingkan diri sendiri? Apakah saya menginginkan harta berlimpah-limpah? Apakah saya sangat mendambakan kehormatan, martabat, dan kuasa yang sering diperoleh karena memiliki kekayaan besar?

Hari ini kita peringati St. Martinus dari Tours. Ada kisah menarik tentang orang kudus ini. Ketika ia masih seorang serdadu, dalam suatu perjalanan dinas ke kota Amiens, pada musim dingin tahun itu, Martinus berpapasan dengan seorang pengemis malang yang sedang kedinginan di pintu gerbang kota. Pengemis itu mengulurkan tangannya meminta sesuatu dari padanya. Kasihan ia tidak membawa uang sesen pun pada waktu itu. Apa yang dilakukannya? Tergerak oleh belaskasihannya yang besar pada pengemis malang itu, ia segera menghunus pedangnya dan membelah mantelnya yang indah itu: sebagian untuk dia dan sebagian diberikan kepada pengemis itu. Ketika memasuki kota Amiens, banyak orang menertawakan dia karena mantelnya yang aneh itu.

Pada malam itu juga, Yesus bersama sejumlah malaekat Allah menampakkan diri kepadanya. Dalam penglihatan itu Martinus melihat Yesus mengenakan mantel setengah potong yang sama dengan bagian mantel yang diberikan kepada pengemis malang tadi. Kepada para malaekat itu Yesus berkata: “Martinus, seorang katekumen memberikan Aku mantel ini.” 

Apa yang harus saya korbankan untuk Tuhan? Kepada siapa anda menghamba, Tuhan atau uang?

Tuhan, berilah aku hikmat untuk tetap menjadi hamba yang bertanggung jawab dan dapat dipercaya.

Author

Write A Comment