Sabda Hidup
Jumat, 12 Mei 2023, Jumat Pekan Paskah V
Bacaan: Kis. 15:22-31; Mzm. 57:8-9,10-12; Yoh. 15:12-17.
“Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.”
(Yoh 15: 12)
Mengenai pernyataan Tuhan, “saling mengasihi,” saya menawarkan tiga hal untuk direnungkan. Pertama, ini adalah sebuah perintah. Yesus dengan jelas mengatakan, “Inilah perintah-Ku.” Ini bukan sebuah undangan, permintaan atau pilihan. Ini adalah sebuah perintah. Sebuah perintah menuntut ketaatan total. Kita tidak memiliki pilihan lain kecuali mengikuti perintah-Nya untuk saling mengasihi. Seorang Kristen yang berkata, “Saya tidak bisa mengasihi orang itu. Saya hanya akan mengasihi orang yang lainnya,” berarti ia sedang melawan dirinya sendiri. Sabda Yesus adalah sebuah perintah. Itu bukan sebuah pilihan, permintaan atau opsi. Ini adalah sebuah kewajiban.
Kedua, Tuhan berkata kepada kita, “Supaya kamu saling mengasihi.” Ia tidak berkata, “Kamu saling mengasihi ketika kamu masih muda atau ketika kamu masih sehat.” Ia tidak berkata, “Supaya kamu saling mengasihi ketika dia masih cantik atau masing ganteng.” Dia tidak berkata, “Kamu saling mengasihi ketika kamu tidak marah lagi.” Atau, “Saling mengasihi ketika yang lain tidak lagi menyinggung perasaanmu.” Tuhan hanya berkata, “Saling mengasihi” tanpa syarat atau batasan apa pun.
Faktanya adalah, saudara-saudariku yang terkasih, kita adalah orang-orang yang suka menunda-nunda. Kita lebih suka saling mengasihi minggu depan atau bulan depan. Namun Tuhan berkata bahwa waktu terbaik untuk mengasihi bukanlah kemarin, bukan juga besok. Cara terbaik untuk mengasihi sesuai dengan perintah Tuhan, “Supaya kamu saling mengasihi,” adalah mengasihi sekarang juga. Jika kita gagal mengasihi satu sama lain saat ini, ada kemungkinan besar kita akan gagal mengasihi satu sama lain besok atau di waktu yang akan datang.
Ketiga, Tuhan berkata, “Supaya kamu saling mengasihi seperti Aku telah mengasihi kamu.” Tuhan tidak berkata, “Supaya kamu saling mengasihi seperti mereka telah mengasihi kamu.” Standar kita bukanlah kasih yang telah kita terima. Standar kita dalam mengasihi bukanlah kasih yang kita lihat pada orang lain. Standar kita dalam mengasihi adalah kasih yang kita alami dari Tuhan sendiri.
Jika standar kita dalam mengasihi adalah kasih yang kita terima dari orang lain, sudah pasti kasih kita tidak sempurna dan tidak murni. Standar kasih kita seharusnya adalah standar kasih Tuhan.
Hari ini dalam keseharaian kita, marilah kita mengingat ketiga hal ini. Saling mengasihi adalah wajib. Saling mengasihi tidak memiliki syarat. Marilah kita ingatkan diri kita sendiri bahwa teladan kita untuk mengasihi satu sama lain bukanlah kasih yang kita lihat pada orang lain, tetapi kasih yang telah Allah anugerahkan kepada kita.
Tuhan, bantulah kami saling mengasihi seperti Engkau telah mengasihi kami – hingga akhir. Amin.
