Remah Harian

SENTUHAN YANG MENYEMBUHKAN DAN MENGUBAH

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Jumat, 30 Juni 2023, Jumat Pekan Biasa XII
Bacaan: Kej. 17:1,9-10,15-22Mzm. 128:1-2,3,4-5Mat. 8:1-4.

Datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya.

. (Mat 8: 2 – 3)

Kusta adalah penyakit yang ditakuti di dunia kuno karena tidak dapat disembuhkan dan sangat menular. Bahkan banyak penyakit kulit dan infeksi seperti kurap disalahartikan sebagai kusta.  Hukum Yahudi melarang menyentuh orang kusta (Imamat 5:3) dan mengasingkan orang kusta dari masyarakat umum: “Orang yang sakit kusta harus berpakaian yang cabik-cabik, rambutnya terurai dan lagi ia harus menutupi mukanya sambil berseru-seru: Najis! Najis! Ia harus tinggal seorang diri di luar perkemahan” (Imamat 13:45). Orang kusta dianggap seperti mayat hidup. Selain itu, hukum Taurat menjelaskan lebih lanjut bahwa seorang penderita kusta harus menjaga jarak dua meter dari orang lain, dan jika orang lain berada pada posisi angin bertiup dari arah penderita kusta, maka jaraknya harus lima puluh meter.

Pada saat itu tidak ada penderita kusta yang akan berani mendekati seorang rabi. Tetapi karena iman dan kepercayaannya, si kusta dalam Injil hari ini, mendekati Yesus, yang juga seorang rabi, untuk meminta pertolongan. Dia berseru: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku,” (Mat 8: 2). Dan Yesus menyembuhkan orang kusta itu dengan menjamahnya. Menyentuh seorang penderita kusta dipandang dengan penuh ketakutan dan kebencian oleh para tabib dan pemuka agama pada zaman Yesus. Tetapi jamahan Yesus menyembuhkan penyakit orang kusta itu dan juga menyembuhkannya dari keterasingan, kesepian, keputusasaan, dan keyakinannya bahwa ia dikutuk oleh Allah. Dalam pandangan hukum Taurat, mereka telah bertukar tempat: orang kusta menjadi tahir dan Yesus menjadi najis.

Dosa, yang merupakan penyakit rohani, kadang-kadang dibandingkan dengan kusta yang mereka percayai sebagai akibat dari dosa besar yang telah dilakukan oleh orang kusta tersebut. Maka secara rohani, kita semua adalah penderita kusta dan perlu disembuhkan oleh Kristus. Tak seorang pun dari kita yang tidak berdosa. Dosa adalah penyakit yang mengerikan. Dosa mempengaruhi jiwa kita seperti kusta mempengaruhi tubuh kita. Tanpa Yesus, dosa juga tidak dapat disembuhkan karena kita tidak dapat mengampuni diri kita sendiri, seberapapun besarnya penyesalan kita. Jika kita dibiarkan sendiri, kita akan terus jatuh dari satu dosa ke dosa yang lain dan semakin berdosa dan semakin sengsara. Tak jarang kita justru menikmati melakukannya dari waktu ke waktu. Dosa begitu mengerikan sehingga Yesus rela mati bagi kita di kayu salib daripada membiarkan kita hidup dalam cengkeraman dosa. Oleh karena itu, kita harus mengakui dosa-dosa kita, menerimanya, dan mengubah diri.

Orang kusta itu disembuhkan ketika Yesus menjamahnya. Dengan cara yang sama, Tuhan menjamah hidup kita dengan berbagai cara ketika Dia menyatakan berkat-berkat-Nya yang Dia sediakan bagi kita. Ia menjamah kita atas pelbagai cara. Sebuah panggilan telepon, surat, atau sapaan orang lain dapat menjadi cara Tuhan menjamah kita. Tuhan menjamah kehidupan kita sehari-hari. Maukah kita dengan terbuka menanggapinya? Ketika kita menanggapi jamahan Tuhan dalam hidup kita, kita disembuhkan, diberi pengharapan dan kehidupan baru. Kita dibebaskan dari beban berat sehingga dapat berdiri tegak dan menemukan kehidupan baru di dalam Kristus.

Tetapi ketika Tuhan menyentuh hidup kita, tak jarang Ia mengguncangkan segalanya. Kehidupan, komunitas, Gereja, dan rumah kita tidak akan tetap sama ketika Tuhan memasuki hati dan kehidupan kita. Maukah kita membuka diri terhadap sentuhan Tuhan yang mengubah itu? Dapatkah kita melihat kasih karunia, pengharapan dan cinta yang Tuhan berikan kepada kita masing-masing ketika Dia mengguncang gereja-gereja kita, komunitas kita, dan kehidupan kita?

Kita semua membutuhkan kesembuhan – fisik, emosional, mental dan spiritual. Kapan terakhir kali Anda pergi ke dokter? Kapan terakhir kali Anda mencari kesembuah dengan mengaku dosa?

Yesus, karena dosa-dosaku, aku telah menjadi penderita kusta. Kiranya aku dapat menemukan diriku di dalam Engkau saja dan menghabiskan sisa hidupku untuk melayani Engkau dengan penuh kasih. Amin.

Author

Write A Comment