Sabda Hidup
Jumat, 8 Desember 2023, Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda
Bacaan: Kej. 3:9-15,20; Mzm. 98:1,2-3ab,3bc-4; Ef. 1:3-6,11-12; Luk. 1:26-38.
Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”
(Luk 1: 28)
Hari ini kita merayakan Hari Raya Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa. Beberapa orang berpikir bahwa umat Katolik memberi terlalu banyak penghormatan kepada manusia, seperti kepada Maria. Mereka berpikir kita terlalu memuliakannya dan menjadikannya seorang dewi. Apalagi orang Jawa biasa menyanyi: “Ndherek Dewi Maria…” Terlebih lagi ketika kita merayakan pesta Maria Dikandung Tanpa Noda, karena surat pertama Yohanes dengan jelas mengatakan, “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa,maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita… Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa,maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.” (1 Yoh 1: 8, 10) Bagaimana kita dapat mengatakan bahwa Maria dikandung tanpa dosa?
Sebenarnya, dalam perayaan ini, penghormatan kita tidak kita tujukan kepada Maria, tetapi terutama kepada Allah yang telah memberinya rahmat kekudusan sejak konsepsinya untuk mempersiapkannya sebagai Bunda Juru Selamat. Allah telah menguduskan Maria pada saat pembuahannya sebagai “persiapan” baginya untuk melahirkan Kristus. Dengan kata lain, dia juga telah ditebus, namun penebusannya selesai pada saat pembuahannya, dan bukan dalam Pembaptisan seperti kita.
Memang, penting bagi kita untuk menyadari bahwa kekudusan adalah karunia Allah. Kekudusan bukan karena perbuatan baik kita. Mengapa seringkali ada orang-orang yang merasa paling benar dan menghakimi orang lain yang lemah imannya atau menjalani kehidupan yang tidak layak disebut Katolik, adalah karena mereka berpikir bahwa kekudusan diperoleh melalui disiplin mereka sendiri, melalui perbuatan baik mereka, ketekunan dan upaya untuk menjalani kehidupan suci belaka. Sebaliknya, tanpa rahmat Tuhan, kita akan tergabung dalam barisan orang berdosa. Tetapi jika kita menyadari bahwa kekudusan adalah anugerah Allah, maka ketika kita “lebih baik” daripada umat Katolik lainnya atau menjalani kehidupan yang saleh dan suci, kita akan tetap rendah hati dan bersyukur kepada Allah atas rahmat yang telah kita terima. Karena tanpa Dia, kita tidak dapat melakukan apa-apa karena Dia adalah pokok anggur dan kita adalah ranting-rantingnya.
Karunia ini menjadi milik kita hanya jika kita rendah hati seperti Maria. Tanpa kerendahan hati Maria, tidak akan ada pertumbuhan dalam kekudusan. Memang, ketika malaikat itu menyapanya, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau,” dia sangat terganggu dengan kata-kata ini dan bertanya pada diri sendiri apa arti ucapan ini. Dia terkejut ketika dikabarkan kepadanya bahwa dia penuh rahmat. Memang, kerendahan hatinya paling nampak setelah malaikat meninggalkannya. Ia lupakan dirinya dan status barunya sebagai bunda Allah, dan segera memikirkan Elizabeth yang pada masa kehamilannya amat membutuhkan bantuan. Dan ketika dia disambut oleh Elizabeth sebagai “ibu dari Tuhanku” dia memuliakan Tuhan dalam Magnificat dengan mengatakan, ” “Jiwaku memuliakan Tuhan,dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus,” (Luk 1: 46-49). Maria tidak memuji dirinya sendiri. Allahlah yang kudus dan yang memberkatinya dengan kekudusan dan rahmat. Itulah sebabnya Tuhan berfirman, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga,” (Mat 5: 3).
Apa yang telah diberikan kepadanya juga diberikan kepada kita. Kita juga dipanggil untuk kekudusan dan menjadi putra dan putri Allah. Mari kita belajar untuk menjadi rendah hati seperti Maria, sepenuhnya bergantung pada rahmat dan belas kasih Allah. Mari kita bekerja sama dengan rahmat dan belas kasih-Nya.
Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin.
