Remah Harian

SADAR IDENTITAS

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Kamis, 30 Maret 2023, Kamis Pekan Prapaskah V
Bacaan: Kej. 17:3-9Mzm. 105:4-5,6-7,8-9Yoh. 8:51-59.

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.”

(Yoh 8: 58)

Identitas Yesus menjadi pokok permenungan dari Injil hari ini. Dalam Injil Yohanes bab 8 sendiri Yesus menyatakan 4 hal tentang dirinya. Pertama, Ia adalah terang dunia (Yoh 8: 12). Kedua, Ia mengatakan bahwa barang siapa memegang dan menghidupi Sabda-Nya akan hidup dalam kebenaran dan kebenaran itu memerdekakan (Yoh 8: 31-32). Ketiga, Ia berjanji bahwa mereka yang menuruti firman-Nya, tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya (Yoh 8: 51). Keempat, Ia memakai nama ilahi AKU dan menyatakan bahwa Ia ada sebelum Abraham (Yoh 8: 58). Dengan mengatakan “AKU” Yesus merujuk pada nama YAHWEH yang berarti “AKU ADALAH AKU”. Setiap orang saleh Yahudi tahu bahwa mereka tidak akan berani menyebut nama itu. Itu adalah nama Allah yang memperkenalkan diri di hadapan Musa di tengah-tengah semak terbakar menyala-nyala (Kel 3: 14). Dengan menyebut nama YAHWEH untuk diri-Nya sendiri Yesus dengan jelas menegaskan keilahian-Nya. Tentu itu merupakan pernyataan akan keilahian Yesus bahwa ia sama dengan Allah. Para pendengar-Nya mengerti apa yang dikatakan Yesus tetapi mereka tidak dapat menerima itu karena bagi mereka itu menghujat Allah. Hukumannya adalah dirajam sampai mati. “Siapa yang menghujat nama TUHAN, pastilah ia dihukum mati dan dilontari dengan batu oleh seluruh jemaah itu. Baik orang asing maupun orang Israel asli, bila ia menghujat nama TUHAN, haruslah dihukum mati,” (Im 24: 16).

Kita, yang mengaku sebagai pengikut Kristus, tidak ingin menjadi seperti umat Yahudi waktu itu yang menolak Yesus. Namun demikian, kita menolak Dia dalam berbagai bentuk. Seberapa besar kita menimba manfaat dari kehidupan-Nya dalam Sabda dan sakramen? Seberapa yakinkah kita dalam mempertahankan bahwa Kristus adalah Tuhan kita di hadapan banyak golongan lain yang mengatakan bahwa Kristus hanyalah seorang manusia? Seberapa cepat dan spontan kita berprasangka buruk terhadap sesama orang Kristen hanya karena mereka berbeda dengan kita? Kristus tidak dapat diterima oleh umat-Nya sendiri karena Dia tidak seperti yang mereka inginkan.

Yesus benar-benar sadar akan identitas-Nya. Apakah kita berani mengakui identitas kita sebagai pengikut Kristus di manapun dan dalam situasi apapun? Apakah kita juga sadar sungguh-sungguh akan identitas kita sebagai anak-anak Allah dan hidup sepadan dengan identitas kita itu?

Tuhan, bantu kami hidup sesuai dengan identitas kami sebagai murid-murid-Mu dan anak-anak Bapa-Mu. Amin.

Author

Write A Comment