Sabda Hidup
Rabu, 11 Januari 2023, Rabu Pekan Biasa I
Bacaan: Ibr. 2:14-18; Mzm. 105:1-2, 3-4, 6-7, 8-9; Mrk. 1:29-39.
Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus dengan Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia. Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.
(Mrk 1: 29 – 35)
Kabar Injil hari ini memberi gambaran hidup sehari-hari Yesus. Hari yang penuh kesibukan – dengan Allah dan manusia. Mulai dari sinagoga, mengajar, menyembuhkan orang-orang sakit, dan me time dalam doa. Ada tiga hal dapat kita pelajari dari gambaran keseharian Yesus ini.
Pertama, Tuhan tidak kenal lelah untuk berbuat baik. Walau hari itu adalah hari yang sangat sibuk dan melelahkan, tetapi Ia membuat hari-hari-Nya penuh makna dengan “sacrament of the moment”. Dia membutuhkan waktu istirahat dari semua pekerjaan. Dia hanya ingin sejenak “meninggalkan” orang banyak, untuk sendirian, untuk mendapatkan “me time” (tanpa white coffee…). Namun, keletihan dan kebutuhan untuk beristirahat tidak dapat menghentikan-Nya untuk berbuat baik. Ia menyembuhkan ibu mertua Petrus dan ketika matahari terbenam, dibawalah kepada-Nya semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu. Ia menyembuhkan mereka.
Kita perlu bertanya pada diri sendiri, apakah saya mudah lelah? Sering kali kita dengan mudah menunda-nunda untuk melakukan sesuatu. Bahkan perbuatan baik pun kita tunda untuk waktu yang lain. Kita berkata: “Besok saya akan berbuat baik.” Me time itu perlu, tetapi ada saat-saat dimana kita perlu berbuat baik dengan segera. Kehadiran kita, di manapun, hendaknya menjadi “sakramen,” tanda dan sarana keselamatan. Sacrament of the moment.
Kedua, Yesus berbuat baik bukan untuk show-off. Ia tidak perlu kerumunan orang banyak. Ia hanya bersama Petrus dan ibu mertuanya. Meski tanpa orang banyak yang memuji-Nya, Yesus berbuat baik bagi ibu mertua Petrus. Bagaimana dengan kita? Bukankah sering kali kita ingin agar kebaikan kita disaksikan oleh banyak orang? Bagi Tuhan, ada orang banyak atau tidak, ada yang menyaksikan atau tidak, ada yang memuji atau tidak, diappresiasi atau dicemooh, Ia tetap berbuat baik.
Ketiga, sesudah ibu mertua Petrus disembuhkan, ia dengan segera berdiri dan melayani Tuhan. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa kita disembuhkan untuk sesama. Kita diberkati untuk sesama, kita diberi rahmat untuk sesama, dan kita menerima segala kebaikan untuk sesama. Kita tidak pernah diberkati hanya untuk diri sendiri. Kita tidak pernah disembuhkan hanya untuk diri sendiri. Kita disembuhkan, kita diberkati, kita mendapat kemurahan, untuk hal yang penting ini: SESAMA.
Kita mohon berkat hari ini, agar kita tetap semangat melayani meski lelah, tetap melayani meski kita sedang membutuhkan “me time”. Kita juga mohon agar kita tetap semangat melayani meski tidak mendapat pujian banyak orang, tetap melayani walaupun hanya Tuhan saja yang tahu. Kita melayani karena kita telah terberkati.
The best way to find yourself is to lose yourself in the service of others.
Mahatma Gandhi
