Sabda Hidup
Selasa 17 Januari 2023, Selasa Pekan Biasa 2, Peringatan St. Antonius
Bacaan: Ibr. 6:10-20; Mzm. 111:1-2,4-5,9,10c; Mrk. 2:23-28
“Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.”
(Mrk 2: 27 – 28)
Sabda Tuhan diucapkan sebagai tanggapan atas beberapa orang Farisi yang mengkritik murid-murid Yesus yang memetik bulir gandum pada hari Sabat ketika mereka berjalan di ladang gandum. Mereka lapar dan melakukan sesuatu yang wajar bagi mereka. Namun, orang-orang Farisi menggunakannya sebagai kesempatan untuk mengkritik bahwa dengan memetik bulir gandum, para murid melanggar hukum Sabat.
Dari sudut akal sehat, ini konyol. Akankah Tuhan kita yang Mahakasih “tersinggung” karena para murid memetik bulir gandum untuk dimakan saat mereka berjalan di ladang? Orang yang skrupel mungkin akan berpikir demikian, tetapi orang ber-akal-sehat pasti akan melihat hal itu sebagai sesuatu yang wajar, di mana hukum dibuat untuk manusia, bukan manusia untuk hukum.
Pernyataan Yesus tentang hal itu langsung pada intinya: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat.” Dengan kata lain, maksud diadakannya hari Sabat bukan untuk membebankan hukum atas kita; tetapi untuk membebaskan kita untuk istirahat dan beribadah. Hari Sabat adalah anugerah dari Allah.
Hal ini menghantar kita pada implikasinya saat kita melihat bagaimana kita merayakan hari Sabat. Hari Sabat kita adalah hari Minggu dan itu adalah hari untuk istirahat dan beribadah. Tidak jarang kita justru menghayatinya sebagai beban. Hari Minggu diberikan kepada kita bukan sebagai undangan untuk mengikuti hukum atau aturan secara skrupel dan legalistik. Sebaliknya hari Minggu diberikan kepada kita sebagai undangan untuk hidup dalam rahmat.
Apakah itu kemudian berarti bahwa kita tidak perlu menghadiri Misa pada hari Minggu dan menggunakannya untuk istirahat saja? Tentu tidak. Perintah Tuhan dan Perintah Gereja jelas. Perintah ketiga dari 10 perintah Allah berbunyi: “Kuduskanlah hari Tuhan,” dan perintah kedua dari 5 perintah Gereja berbunyi: “Ikutilah perayaan Ekaristi pada hari Minggu dan pada hari raya yang diwajibkan; dan janganlah melakukan pekerjaan yang dilarang pada hari itu.” Pertanyaan yang sesungguhnya menunjuk pada cara kita memandang perintah untuk menguduskan hari Tuhan. Ketimbang memandangnya sebagai tuntutan aturan, lebih baik kita menghidupinya sebagai undangan pada rahmat, yang diberikan kepada kita untuk kesejahteraan dan kebahagiaan kita sendiri. Perintah itu ada karena kita membutuhkan “hari Sabat”. Kita butuh Misa Hari Minggu dan juga butuh istirahat.
Renungkan hari ini, bagaimana kita merayakan Hari Tuhan. Apakah anda menghayatinya sebagai undangan dari Tuhan untuk diperbaharui dan disegarkan oleh rahmat-Nya? Atau anda memandangnya sekadar sebagai kewajiban yang harus dipenuhi?
St. Antonius, Abas

Hari ini kita peringati St. Antonius yang hidup dari tahun 250 dan meninggal tahun 356. Antonius seorang pemuda dari Mesir. Antonius seorang pemuda yang kaya raya, karena mendapatkan harta dari orang tuanya, yang meninggal pada saat Antonius berumur 20 tahun.
Antonius membagi semua hartanya kepada oran-orang Miskin. kemudian ia hidup lebih dekat dengan Tuhan dengan bertapa, berdoa dan bermatiraga. Antonius bermaksdu mengarahkan seluruh perhatiannya pada usaha menjalin hubungan mesra dengan Allah melaului doa-doa, meditasi dan bertapa.
Semua ini menjadikan Antonius kepada suatu tingkat hidup spritualitas rohani yang tinggi dan menjadikan dia seorang pendoa yang handal. Banyak sekali orang-orang pada waktu itu mendatanginya dengan berbagai macam permasalahan hidupnya. Kepada orang-orang tersebut Antonius senantiasa memberikan nasehatinya, dimana salah satu nasehatnya dan mendapat peneguhan iman: “kamu mengetahui pandangan-pandangan Setan yang menyesatkan. Kamu mengetahui kekuatan dan kelemahan setan, menghadapi semua itu, Percayakanlah kepercayaanmu kepada Yesus Kristus. Percayalah bahwa akhirnya kamu akan menang atas segala kejahatan”
“Saya tidak takut kepadamu; engkau (godaan) tidak akan memisahkan daku dari cinta kasih Yesus Kristus” demikianlah karena kebenaran menjadi semboyan akan godaan dinyatakan.
Antonius tidak hanya memusatkan perhatian kepada kontemplasi dan meditasi saja, akan tetapi juga pada pembelaan iman Katolik. Antonius juga tercatat dua kali pergi ke Alexandria untuk menghibur dan meneguhkan saudara-saudara seiman yang mendapat tantangan dari kaum Arian yang sesat.
