Remah Mingguan

SABAR MENANTIKAN TUHAN

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Minggu, 11 Desember 2022, Minggu Advent III
Bacaan: Yes. 35:1-6a,10Mzm. 146:7,8-9a,9bc-10Yak. 5:7-10Mat. 11:2-11.

“Di dalam penjara Yohanes mendengar tentang pekerjaan Kristus, lalu menyuruh murid-muridnya bertanya kepada-Nya: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” Yesus menjawab mereka: “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.”

 (Mat 11: 2 – 6)

Minggu Ketiga Advent biasa disebut “Minggu Gaudete.” Ketika Hari Natal semakin dekat, kita juga semakin bersemangat dan gembira. Namun, bacaan hari ini tidak hanya menekankan sukacita, tetapi juga menunjukkan sikap yang perlu untuk mempersiapkan diri bagi kedatangan Tuhan.

Dalam Bacaan Pertama, kita mendengar nabi Yesaya berkata, “Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!” (Yes 35: 4). Dan mereka yang akan ditebus oleh Tuhan akan dimahkotai dengan sukacita abadi. Kita, orang Kristen, diselamatkan di dalam dan oleh Kristus. Tawaran keselamatannya adalah hadiah yang harus diakui dengan sukacita. Tapi kegembiraan ini tampaknya telah menghilang sekarang. Kekristenan dan keselamatan tidak lagi dirasakan sebagai anugerah Tuhan, tetapi merupakan beban. Kita perlu mengembalikan sukacita yang dibawa oleh keselamatan yang ditawarkan kepada kita oleh Kristus.

Dalam Bacaan Kedua, Surat Yakobus memberi tahu kita tentang sikap lain yang merupakan kesabaran. “Bersabarlah … sampai kedatangan Tuhan.” Karena kita tidak tahu waktu pasti kedatangan Tuhan (yang kedua), tidak ada salahnya untuk menantikannya dengan lebih sabar. Tetapi nilai ini bertentangan dengan yang diajarkan dunia saat ini yang menawarkan semuanya yang serba instant. Hal-hal yang datang kepada kita secara instan dan cepat dianggap baik. Tetapi hal-hal yang datang terlalu lambat dianggap buruk dan tidak berguna. Ini bisa berdampak pada sikap kita terhadap kedatangan Tuhan karena kita harus sabar menunggu.

Dalam Injil, kita mendengar tentang Yohanes yang tampaknya meragukan apakah Yesus adalah orang yang ia dan murid-muridnya harapkan. Yohanes memiliki alasan untuk berpikir atau merasa seperti itu karena ia mungkin lebih mengharapkan Mesias yang “berapi-api”. Tetapi Yohanes dengan sabar berusaha untuk merenung dan melihat apakah Yesus benar-benar Mesias. Pada akhirnya, ia mengakui bahwa memang demikianlah Yesus.

Di dunia sekarang ini, jumlah orang yang ragu-ragu meningkat. Bahkan, semakin banyak orang ingin memisahkan Kristus dari perayaan Natal. Mereka ingin menunjukkan bahwa apa yang kita lakukan selama masa Natal hanyalah hari libur saja, tanpa Kristus. Tetapi kita orang-orang Kristen sangat sadar bahwa kita tidak dapat memisahkan Kristus dari Natal. Adalah kelahiran-Nya yang kita kenangkan di hari-hari yang menggembirakan ini.

Bacaan-bacaan hari ini menunjukkan kepada kita sikap yang pantas dalam menantikan kedatangan Tuhan. Kita menantikan seseorang yang sangat penting yang menawarkan kepada kita hadiah yang paling berharga, yaitu, keselamatan. Dan dengan demikian kita tidak dapat melupakan dan meragukannya. Dia pantas ditunggu dengan sukacita dan kesabaran.

Author

Write A Comment