Sabda Hidup
Selasa, 26 Januari 2022, Peringatan Wajib St. Timotius dan Titus
Bacaan: 2Tim 1:1-8 atau Tit. 1:1-5; Mzm. 96:1-22b-3.7-8a.10; Luk. 10:1-9
“Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapapun selama dalam perjalanan.”
(Luk 10: 3 – 4)
Hari ini kita peringati St. Timotius dan Titus. Kedua orang kudus ini merupakan murid dan teman kesayangan Santo Paulus. Timotius lahir di Lystra, sebuah kota kecil di Asia Kecil. Ia dibaptis oleh Paulus pada saat ia mengunjungi Likanoia (2 Tim 1: 5). Ia pun berkembang menjadi seorang pemuda yang aktif, saleh dan bersemangat rasul. Ia juga dikenal sebagai seorang yang bersama Paulus menulis sepucuk surat bagi komunitas-komunitas Kristen yang pernah dikunjungi Paulus. Setelah Paulus dilepaskan dari penjara, ia mengangkat Timotius menjadi Uskup di Efesus. Selain Timoteus, Titus juga adalah rekan seperjalanan Paulus. Ia berasal dari Antiokhia di Asia Kecil. Karena pewartaan Paulus, Titus yang adalah seorang kafir bertobat dan menjadi seorang Kristen yang aktif dalam karya pewartaan Injil. Ia menemani Paulus untuk menghadiri Konsili di Yerusalem dan turut andil dalam pemecahan masalah orang-orang Kristen di Korintus. Karena jasa dan semangatnya, Paulus mengangkat dia menjadi uskup di Kreta. Ia pun menghabiskan hidupnya dengan melayani umat di Kreta.
Bacaan Injil hari ini mengisahkan Yesus yang mengutus 70 murid-Nya. Mereka diutus berdua-dua, dengan instruksi: “Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut,” (Luk 10: 4).
Kita pasti pernah merasakan betapa beratnya ketika kita mengadakan perjalanan dengan banyak barang bawaan. Apalagi kalau kita membawa barang terlarang. Bebannya akan berlipat-lipat sebab kita bukan hanya lelah tetapi juga cemas dan takut, jangan-jangan nanti disita oleh petugas, atau kita ditangkap.
Mengapa para murid “dilarang” membawa pundi-pundi atau bekal? Para murid diharapkan lebih fokus untuk membawa Kristus daripada hal-hal “tambahan” yang lain. Demikian juga, dalam perjalanan hidup, kita diperintahkan untuk membawa Tuhan dalam perjalanan kita. Ada begitu banyak orang yang dalam hidup tangannya penuh tetapi hatinya kosong, sebab mereka membawa diri mereka sendiri, bukan Tuhan. Kita harus belajar untuk meletakkan agenda pribadi kita, rencana-rencana kita, dan menjadikan Kerajaan Allah prioritas utama dalam perjalanan kita. Jika anda silap mata karena harta dan lupa salib, maka hidup anda akan kosong dan kecewa dalam peziarahan hidup.
Berikutnya, seperti para murid kita diperintahkan untuk berjalan berdua-dua dan melaksanakan tugas perutusan bersama. Kita diutus dan mewartakan damai dan memaklumkan Kerajaan Allah sebagai team. Lupakan keinginan untuk menjadi selebriti dan superstar di jalan. Tuhan yang kita abdi, bukan diri sendiri!
Akhirnya kita diperintahkan oleh Yesus agar berjalan dengan sukacita. Kita dibekali dengan karunia-karunia untuk melaksanakan pelayanan kita, tetapi sukacita terbesar kita adalah bahwa “nama kita tercatat di surga”. Adalah hal yang menggembirakan saat kita tahu bahwa hidup kita bermakna dan ada karunia yang menanti bukan hanya di perjalanan tetapi juga di akhir perjalanan. Hal yang perlu kita ingat bahwa tangan kita harus terbuka, kita pakai untuk bekerja, melayani dan berbagi dan hati kita dipenuhi oleh Tuhan sendiri.
Tuhan ingatkan kami untuk mengutamakan Dikau, untuk berjalan bersama sesama dan berjalan dalam sukacita dalam peziarahan hidup kami. Amin.
