Sabda Hidup
Minggu, 20 November 2022, Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam
Bacaan: 2Sam. 5:1-3; Mzm. 122:1-2,4-5; Kol. 1:12-20; Luk. 23:35-43.
“Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.”
(Luk 23: 42)
Hari ini adalah Hari Minggu Biasa ke-34 dalam Kalender Gereja, Minggu terakhir dalam masa biasa. Minggu depan sudah kita masuki Minggu Advent yang pertama dan kita masuki Kalender Liturgi yang baru. Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam ditetapkan oleh Paus Pius XI pada tahun 1925. Ketika itu perayaannya selalu jatuh pada Minggu terakhir bulan Oktober, menjelang Hari Raya Semua Orang Kudus. Penetapan ini ditegaskan dengan Ensiklik Quas Primas. Salah satu tujuan penetapan ini adalah menentang atheisme dan sekularisme dengan menegaskan bahwa Kristus lebih tinggi dari segala kekuatan dunia. Sejak 1970 perayaan ini mengalami perubahan penekanan: Kristus lebih bercorak kosmis dan eskatologis. Oleh karena itu penempatan tanggalnya pun berubah menjadi Hari Minggu Biasa XXXIV atau satu minggu sebelum Adventus. Dengan penetapan ini, Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam menandai dua momentum sekaligus yakni akhir tahun liturgi dan awal tahun liturgi gereja. Hal ini menegaskan bahwa Kristuslah Alfa dan Omega, awal dan akhir.
Ketika anda membayangkan seorang raja, apa yang ada di benak anda? Kemungkinan besar baju atau jubah yang mahal, mahkota, tahta, para pengawal, tentara, dan sekeliling yang mewah.
Akan tetapi Injil kita hari ini menampilkan seorang Raja yang berbeda dari gambaran kita. Kita mendengar tentang Kristus Raja yang dipaku di kayu salib bersama dengan dua orang penjahat. Lho, Raja koq gitu? Raja koq dicemooh? Raja koq diolok-olok? Seorang Raja yang seharusnya berada di istana, duduk di atas tahta dan dikelilingi seluruh punggawa kerajaan dan ribuan balatentara di sini justru direndahkan dan disalibkan! Kita jumpai Kristus tergantung di salib dan tak seorangpun memandang-Nya. Semua pengikut-Nya lari meninggalkan-Nya. Mereka juga takut jangan-jangan mereka juga akan disalibkan. Mereka takut bahaya. Ah, payah… mereka gak komit! Orang-orang yang dan tentara yang ada di sana jusru mengolok-olok Dia sebab apa yang mereka bayangkan tentang seorang raja juga tidak mereka dapatkan dalam diri Yesus. Mereka frustrasi. Mereka mengharapkan seorang Mesias yang akan membebaskan mereka dari penindasan kuasa asing, tetapi di sini Yesus justru direndahkan.
Yesus justru melakukan kebalikan dari semua yang mereka harapkan. Ia memutarbalikkan gambaran mereka tentang Juruselamat. Ia menunjukkan kepada mereka seorang Raja yang berbeda – seorang yang rendah hati, Raja yang menjadi hamba! Sebab Ia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya untuk keselamatan banyak orang. Tanggapan Yesus terhadap mereka yang menganiaya, menghina dan mengolok-olok justru sebuah pengampunan: “Bapa ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Wow……. Dan ketika salah satu penjahat yang disalibkan bersama-Nya memohon agar Yesus mengingat dia jika Ia memerintah sebagai Raja, Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”
Inilah Yesus yang sama, Anak Allah, yang kita puji dan sembah hari ini. Apakah anda merasa bahwa anda adalah bagian dari Kerajaan-Nya? Mungkin ada yang menjawab, “Yah… saya rasa tak beda juga dengan setiap orang yang lain! Saya rasa sama saja…. Saya rasa biasa-biasa saja…” Akan tetapi ingat, bedanya adalah pengakuan terhadap apa yang Ia wartakan: KEBENARAN. Itulah yang membuat kita masing-masing berbeda dari yang lain. Kita percaya akan kebenaran yang sama yang Ia wartakan lebih dari 2000 tahun yang lalu. Kita percaya akan keselamatan kekal, kita percaya akan perintah-perintah-Nya, kita percaya akan dosa, akan tetapi kita juga percaya akan pengampunan-Nya. Dan terlebih kita percaya bahwa apa yang Ia katakan adalah KEBENARAN. Itulah sebabnya kita hidup menurut apa yang Ia ajarkan.
Milik-Nyalah Kerajaan dimana kita menjadi warganya. Apakah kita akan diselamatkan? Tentu saja. Tetapi tidak otomatis! Jawabnya ada dalam diri kita masing-masing. Tak seorangpun dapat menjawabnya. Jawaban akhir tidak ditentukan oleh berapa besar rekening kita, juga tidak oleh banyaknya mobil di garasi kita, tidak oleh besarnya prestise atau kuasa kita, popularistas kita…..
Bukan itu! Menjadi warga Kerajaan-Nya kita harus percaya dan bertindak menurut “Hukum-hukum”-Nya. Dan hukum-Nya, perintah-Nya itu sederhana: “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, segenap jiwamu, segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.” Jika engkau mengasihi Aku, kamu akan melakukan perintah-Ku, sabda-Nya.
Orang mungkin akan berkata, “Ah… tunggu dulu! Koq jadi rumit? Saya pikir menjadi warga Kerajaan-Nya itu akan mendapatkan keuntungan. Koq sekarang kita malah berbicara tentang tugas dan kewajiban?”
Apakah Kerajaan-Nya benar-benar berbeda dari masyarakat mana pun di dunia saat ini? Demokrasi, negara-negara yang dikendalikan oleh diktator dan bahkan di beberapa negara di mana seorang raja memimpin, semuanya memiliki hukum. Apakah itu masuk akal? Apakah hukum itu tidak menghalangi individualitas seseorang? Tentu saja tidak. Tidak ada masyarakat yang bisa tetap eksis tanpa hukum. Jadi, ketika kita berbicara tentang perintah-perintah-Nya, kita akan berkata, “Masuk akal. Setiap organisasi, komunitas, masyarakat, harus memiliki hukum atau aturan.”
Maka hari ini, saat kita merenungkan Kerajaan ini, di mana Kristus memerintah, tepatlah jika kita menyembah-Nya. Kita tidak menyembahnya dengan sikap hormat seperti tentara, tak ada tembakan salvo. Hidup kita dalam Kerajaan-Nya sama dengan keseharian kita, dalam dunia yang sementara, dalam masyarakat kita. Bedanya, cara kita menghidupi keseharian kita itu. Menghidupi keseharian kita menurut perintah-Nya, menurut hukum-Nya.
Percayalah, hanya Kerajaan-Nya dapat memberikan keselamatan kekal kepada warganya. Hanya Kerajaan-Nya dapat memberikan hidup sejati. Hanya Kerajaan-Nya dapat memberikan kebahagiaan yang abadi!
Selamat Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam!
