Remah Harian

POSISI ATAU OPOSISI: DEMI MISI

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Minggu, 30 Januari 2022, Minggu Biasa IV Tahun C
Bacaan: Yer 1:4-5.17-19Mzm 71:1-2.3-4a.5-6ab.15ab.171Kor 12:31-13:13Luk 4:21-30.

“Semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: “Bukankah Ia ini anak Yusuf?” Maka berkatalah Ia kepada mereka: “Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!” Dan kata-Nya lagi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.”

(Luk 4: 22 – 24)

Sahabat-sahabat, mengawali permenungan kita, saya ingat akan sebuah litani serba salah seorang Pastor. Litani itu berbunyi seperti ini:

Kalau pastornya muda, dibilang masih anak-anak koq jadi pastor…
Kalau pastornya tua, sebaiknya pensiun saja….

Kalau pastor pu muka ganteng, dibilang… dia pu bodo apa… ganteng-ganteng jadi pastor…Kalau wajah kurang mendukung, dibilang…. patah hati kaapa… mungkin de tra laku….

Kalau khotbah terlalu panjang, dibilang ah… bikin ngantuk…
Kalau khotbahnya pendek, singkat amat… trada persiapan ya?

Kalau mulai misa tepat waktu, dibilang kaku.
Kalau terlambat, “Pelee…, pastor pu malas saja…”.

Kalau di kamar pengakuan menasehati, dibilang “ah Pastor banyak bicara…macam de tahu semua-semua…”
Kalau sebaliknya, dibilang trada kepekaan….

Kalau mengikuti pendapat umat, dibilang tra punya pendirian.
Kalau mengikuti pendapat sendiri, dibilang “Pastor diktator”.

Kalau keuangan paroki minim, dibilang pastor tra tau usaha.
Kalau bicara soal uang, dibilang “Pastor mata duitan….”

Kalau rajin bikin misa lingkungan, dibilang tra pernah kunjungan keluarga.
Kalau mengunjungi keluarga, “Kapan pastornya misa lingkungan?”

Kalau pastor tak ada di pastoran, dibilang “Pastor kaki baminyak…”
Tapi kalau selalu ada di pastoran, dibilang “Pastor kurang pergaulan….”

Kalau memperhatikan anak-anak, dibilang “Masa kecil kurang bahagia”.
Kalau memperhatikan orang-orang muda, giliran orang banyak cerita….gossip….

Kalau pastor nonton TV, dibilang “Pelee… pastor terlalu banyak santai….”
Kalau tidak nonton TV, dibilang “Pastor tra ikut perkembangan jaman….”

TAPI, KALAU PASTORNYA MATI, SIAPA MO GANTI?

Dalam hidup, kita tidak dapat menyenangkan hati setiap orang. Dan memang seharusnya kita tidak berusaha untuk itu. Kalau kita lakukan, maka kita tidak akan memuaskan siapa pun. Begitu kita mengambil suatu posisi, segera ada oposisi. Jadi hal terbaik untuk dilakukan adalah mengambil sikap dan menghadapi konsekuensi dari keputusan kita. Pada akhirnya, semoga kita tidak menyesal karena hanya ingin memuaskan orang lain atau menyenangkan diri sendiri, lalu ternyata kita tidak melakukan apa yang dikehendaki oleh Allah.

Apa pun posisi atau oposisi yang kita ambil adalah untuk sebuah misi. Sebuah misi selalu menunjuk pada sesuatu atau seseorang yang lebih besar dari diri kita. Para nabi adalah mereka yang menunjuk kepada sesuatu atau seseorang di luar diri mereka, yaitu Allah. Apakah Anda melakukan peran Anda sebagai seorang nabi, atau Anda hanya melihat keuntungan? Apakah anda berani mengatakan kebenaran? Atau hanya ingin menyenangkan setiap orang sehingga berkompromi terhadap yang salah?

Yesus, kalau hanya ingin menyenangkan hati orang-orang sekampung-Nya, tentu Ia akan berbuat sesuatu yang hebat sehingga semua orang bilang “wow…!” Jika ingin mencari popularitas, tentu ia akan begitu bangga dengan pujian… Tetapi ia adalah seorang Nabi yang mau mengatakan bahwa cinta Allah itu untuk semua, bukan milik istimewa orang Yahudi saja. Kasih Allah bukan milik ekslusif bangsa tertentu. Makanya orang-orang sekampungnya tersinggung ketika Yesus menyebutkan bahwa “Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorangpun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu.”

Kita bersyukur bahwa kita tercipta sebagai anak-anak Allah. Mempunyai hak penuh juga atas cinta kasih-Nya, seperti yang diwartakan oleh Yesus. Namun, apakah kita juga memperlakukan orang lain juga sebagai anak-anak Allah dengan martabat yang sama? Yang mempunyai hak yang sama atas kasih-Nya? Atau hati kita dipenuhi dengan iri dan dengki, serta kebencian dan kemarahan tanpa akhir? Masih dendamkah?

Hal lain yang dapat kita renungkan adalah bahwa kita pasti sudah menerima Kristus. Kalau tidak, tentu kita tidak ada di sini. Akan tetapi, jika kita menerima Kristus berarti kita juga harus punya usaha lebih untuk menghidupi apa yang Ia ajarkan dalam hidup kita sehari-hari. Semoga kita semakin hari semakin hidup sebagai anak-anak Allah sejati, dan semakin serupa dengan Kristus.

Author

Write A Comment