Remah Harian

PERJALANAN KEMURIDAN ST. ANDREAS

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Kamis, 30 November 2023, Pesta St. Andreas Rasul
Bacaan: Rm. 10:9-18Mzm. 19:2-3,4-5Mat. 4:18-22.

(Mat 4: 18 – 20)

Santo Andreas, salah satu dari Dua Belas Rasul, kemungkinan besar dilahirkan di Betsaida, di sebelah utara Laut Galilea, di tempat yang sekarang disebut Dataran Tinggi Golan. Sebagai seorang pemuda, ia dan saudaranya, Petrus, bekerja sebagai nelayan di Laut Galilea. Injil Yohanes mengungkapkan bahwa Andreas adalah murid Yohanes Pembaptis sebelum pertemuannya dengan Yesus. Hal ini menunjukkan bahwa Andreas mencari dan menghayati imannya dengan serius. Seperti yang dicatat dalam Yohanes 1:35-42, Andreas dan seorang murid lainnya sedang mendengarkan Yohanes berkhotbah di padang gurun. Ketika mereka sedang mendengarkannya, Yohanes Pembaptis melihat Yesus dari kejauhan dan berseru dengan penuh nubuat, “Lihatlah Anak Domba Allah.” Setelah Andreas dan murid-murid yang lain bertanya kepada Yesus di mana Dia tinggal, Yesus mengundang mereka untuk mengikuti Dia dengan berkata, “Marilah, dan kamu akan melihat.” Mereka kemudian menghabiskan sisa hari itu bersama Yesus. Oleh karena itu, Andreas adalah yang pertama dari para Rasul yang dipanggil dan merespons panggilan itu. Karena alasan itu, Gereja Yunani menyebut Andreas sebagai “Protokletos,” yang berarti “yang pertama dipanggil.”

Tidak lama setelah perjumpaan ini, Andreas menjadi rasul bagi saudaranya, Simon Petrus. Dia berkata kepada Simon, “Kami telah menemukan Mesias.” Pernyataan ini menunjukkan banyak hal tentang kepekaan spiritual Andreas. Pertama, ia memahami dengan jelas bahwa pelayanan Yohanes Pembaptis sangat istimewa. Andreas mengikuti Yohanes Pembaptis, karena ia memahami bahwa ia adalah seorang nabi. Ketika Yohanes menunjukkan Yesus kepada Andreas, ia segera mengikuti-Nya, melibatkan diri dengan-Nya, dan percaya kepada-Nya. Ini jelas merupakan suatu tindakan pewahyuan [sentuhan batin] yang memampukan Andreas untuk menyatakan imannya kepada Yesus sebagai Mesias dalam waktu satu hari setelah bertemu dengan-Nya. Dan fakta bahwa ia ingin saudaranya berbagi dalam penemuan ini menunjukkan bahwa ia begitu tersentuh oleh kasih karunia yang dialami dalam perjumpaannya dengan Yesus.

Injil Matius dan Markus menceritakan pertemuan pertama Yesus dengan Andreas dan Petrus dengan cara yang sedikit berbeda, meskipun ayat-ayat tersebut tidak bertentangan. “Ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia,” (Markus 1:16-18). Ada kemungkinan bahwa setelah pertemuan pertama Andreas dan Petrus dengan Yesus, mereka membiarkan penemuan mereka akan Mesias bertumbuh di dalam hati mereka, melanjutkan pekerjaan mereka sebagai nelayan, dan menantikan panggilan definitif dari Yesus. Dalam perikop ini, Yesus memberikan panggilan yang pasti, dan kedua saudara ini tidak ragu-ragu untuk meninggalkan pekerjaan mereka untuk menjadi murid-murid-Nya sepenuh waktu.

Petrus dan Andreas tampaknya tinggal di Kapernaum pada waktu itu, sebuah desa nelayan kecil di ujung utara Laut Galilea. “Setelah meninggalkan rumah ibadat, Yesus pergi ke rumah Simon dan Andreas bersama-sama dengan Yakobus dan Yohanes” (Markus 1:29). Ketika memasuki rumah Simon dan Andreas, Yesus menyembuhkan ibu mertua Simon yang sedang sakit demam. Rumah di Kapernaum itu kemudian menjadi basis pelayanan Yesus di seluruh Galilea.

Dalam Markus 13:3-4, Andreas adalah salah satu dari para Rasul yang secara pribadi bertanya apa yang Yesus maksudkan ketika Dia menubuatkan kehancuran Bait Allah. Yesus menjawab dengan memberikan sabda tentang penganiayaan yang akan datang dan akhir zaman. Yohanes bab 6 dimulai dengan Yesus yang sedang naik ke sebuah gunung di sebelah utara Danau Galilea dengan diikuti oleh orang banyak. Dia bertanya kepada Filipus di mana mereka bisa mendapatkan makanan yang cukup untuk semua orang. Filipus menjawab, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja,” (Yohanes 6:7). Namun, Andreas merespons dengan percik iman, dengan mengatakan, “Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?” (Yohanes 6:9). Tampaknya iman yang kecil ini, yang mengalir dengan sedikit pengharapan bahwa lima roti jelai dan dua ikan itu dapat berguna, cukup bagi Yesus untuk melakukan mukjizat Perbanyakan Roti dan Ikan.

Dalam Yohanes 12:20-22, Andreas dan Filipus menjadi perantara permohonan orang Yunani kepada Yesus. Orang-orang Yunani ingin melihat Yesus, sehingga Filipus dan Andreas – yang mungkin mengerti bahasa Yunani – menjadi perantara untuk menyampaikan permintaan ini kepada Tuhan. Ini adalah gambaran dari peran mereka dalam memediasi Firman Tuhan kepada dunia, termasuk bangsa-bangsa lain. Keakraban Andreas dengan bahasa dan budaya Yunani juga dibuktikan dengan fakta bahwa namanya berasal dari bahasa Yunani, bukan bahasa Ibrani.

Selain ayat-ayat tersebut, Andreas hanya disebutkan beberapa kali dalam Perjanjian Baru, termasuk dalam daftar para Rasul (Matius 10:2; Markus 3:18; Lukas 6:14). Kisah Para Rasul menceritakan bahwa Andreas termasuk di antara mereka yang, setelah kenaikan Yesus, pergi ke Yerusalem, masuk ke sebuah ruangan atas di sebuah rumah, dan “dengan sehati dan sejiwa mereka berdoa bersama-sama dengan beberapa orang perempuan, Maria ibu Yesus dan saudara-saudara-Nya” (Kisah Para Rasul 1:14). Andreas kemudian terlibat dalam pemilihan Matias sebagai pengganti Yudas dan hadir di ruang atas yang sama pada hari Pentakosta. Aktivitas Petrus setelah Pentakosta didokumentasikan dengan baik dalam Kisah Para Rasul, dan dapat diperkirakan bahwa saudaranya, Andreas, juga aktif.

Meskipun karya misi Andreas setelah Pentakosta tidak dicatat dalam Perjanjian Baru, tradisi-tradisi yang muncul kemudian berasal dari akhir abad kedua atau awal abad ketiga. Menurut tradisi-tradisi tersebut, Andreas melakukan perjalanan ke Skitia, sebuah wilayah yang saat ini menjadi bagian dari Ukraina, Rusia selatan, dan sebagian Kazakhstan. Dia juga diyakini telah mendirikan Gereja di Byzantium, yang kemudian dikenal sebagai Konstantinopel ketika Kaisar Konstantinus menjadikannya sebagai ibu kota Kekaisaran Romawi. Saat ini, kota tersebut adalah kota Istanbul, Turkiye. Bizantium-Konstantinopel menjadi pusat Gereja bagi orang-orang Timur, yaitu orang-orang Yunani. Banyak yang menganggap penting bahwa Petrus mendirikan Gereja Roma di Barat, dan saudaranya mendirikan Gereja di Timur, yang mengungkapkan kesatuan Timur dan Barat. Selain legenda lain bahwa Andreas berkhotbah di Asia Kecil dan wilayah Laut Hitam, hidupnya dikatakan berakhir di kota Patras, Yunani, di mana ia disalibkan di atas salib berbentuk X. Petrus diyakini telah meminta untuk disalibkan secara terbalik karena dia merasa dirinya tak layak mati di kayu salib seperti Yesus. Andreas dikatakan telah meminta salib berbentuk X untuk alasan yang sama.

Menurut tradisi tersebut, yang kita ketahui dari sebuah dokumen abad kedua yang disebut Kisah Para Rasul, Prokonsul Ægeates mengunjungi kota Patras, tempat Andreas berkhotbah. Ægeates berusaha untuk menumpas agama Kristen yang baru dan meyakinkan orang-orang Kristen untuk menghormati dewa-dewa Romawi dan mempersembahkan kurban kepada mereka. Ketika Andreas mendengar hal ini, ia berlari menemui Ægeates dan memberitahukan kepadanya bahwa Anak Allah “datang untuk menyelamatkan manusia.” Tentang dewa-dewa Romawi, ia berkata, “… berhala-berhala ini bukan hanya bukan dewa, tetapi juga setan-setan yang sangat memalukan, dan memusuhi umat manusia…” Ægeates sangat marah dan melakukan dialog panjang di mana ia bertanya tentang kematian Yesus di kayu salib, dan menyatakan bahwa kematian Yesus adalah hal yang bodoh dan karena ajaran Yesus yang salah. Akan tetapi, Andreas menyatakan kepadanya misteri Salib yang sebenarnya di mana Kristus memeluknya dengan bebas sehingga Dia dapat memenangkan keselamatan bagi mereka yang mau percaya kepada-Nya. Di akhir percakapan mereka, Ægeates memerintahkan penyaliban Andreas. Santo Andreas tidak melihat Salib Kristus sebagai alat penyiksaan dan kematian, tetapi sebagai sarana yang mulia untuk keselamatan kekal. Ia melihat penderitaan dan kematiannya sendiri sebagai bagian tidak hanya dalam penderitaan Kristus tetapi juga dalam penebusan Kristus. Oleh karena itu, ia berlari menuju salib itu dan memeluknya dengan sepenuh hati.

Ketika kita menghormati Rasul Kristus ini, renungkanlah bukan hanya legenda-legenda tentang hari-hari terakhirnya, tetapi terutama pertobatan awalnya. Seperti Santo Andreas, kita harus selalu mencari, seperti yang ia lakukan ketika ia mengikuti Yohanes Pembaptis. Seperti Santo Andreas, kita juga harus mengenali Kristus sebagai Mesias setiap kali Dia datang kepada kita melalui pelbagai anugerah. Tanggapan kita kepada-Nya haruslah segera dan dengan sepenuh hati, siap untuk pergi ke mana pun Dia memimpin.

Santo Andreas Rasul, Allah memanggilmu, dan engkau mendengarkan dan menanggapinya. Setelah menanggapi panggilan itu, Putra Allah membentukmu, mengajarimu, dan mempersiapkanmu untuk misi yang dipercayakan-Nya kepadamu. Tolong doakanlah aku, agar aku dapat lebih sepenuhnya meniru kerelaanmu untuk menerima Kristus dalam hidupku, sehingga aku dapat lebih sepenuhnya dibentuk oleh-Nya dan digunakan oleh-Nya untuk menjadi alat-Nya yang menyelamatkan bagi dunia. Santo Andreas, doakanlah aku.

Author

Write A Comment