Sabda Hidup
Senin 8 April 2024, Hari Raya Kabar Sukacita
Bacaan: Yes 7:10-14; 8:10; Mzm 40:7-8a,8b-9,10,11; Ibr 10:4-10; Luk 1:26-38.
Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”
LUK 1: 38
Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Kabar Sukacita, suatu peristiwa yang mengubah perjalanan sejarah manusia secara tak terduga. Sejatinya Hari Raya Kabar Sukacita jatuh pada tanggal 25 Maret, tetapi pada tahun ini tanggal 25 Maret ada dalam Pekan Suci. Itulah sebabnya kita baru rayakan hari ini.
Dalam peristiwa Kabar Sukacita ini, kita melihat dalam diri Maria, seorang Perempuan yang Diam dan Patuh. Santo Yohanes Paulus II dengan tepat mengidentifikasi Maria sebagai “Perempuan yang diam”. Dia mewujudkan penerimaan yang mendalam, kesediaan untuk mendengarkan, dan ketaatan pada kehendak Bapa.
Ketika malaikat Gabriel menampakkan diri, Maria merespons dengan iman yang tak tergoyahkan: “Jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Kesiapannya untuk memenuhi kehendak Tuhan menggemakan ucapan bahagia yang dinyatakan oleh Yesus: “Berbahagialah orang yang mendengar Firman Allah dan melakukannya!” (Lukas 11:28).
Setelah dia berserah diri kepada rencana Tuhan, seperti suaminya, Santo Yosef, dia tetap berdiam diri dalam Injil. Keheningan Maria bukanlah kehampaan; itu adalah penerimaan Firman, sebuah ruang untuk merenungkan misteri Kristus yang mendalam, seperti sering dikatakan bahwa ia “menyimpan segala perkara itu dalam hati dan merenungkannya.”
Sementara dunia dipenuhi dengan pesan-pesan hiruk pikuk duniawi, kesaksian Maria mengundang kita untuk menikmati kekayaan keheningan rohani. Dalam dunia yang sibuk dan penuh dengan informasi, teladan Maria menjadi semakin relevan. Keheningannya mengajak kita untuk berada dalam persekutuan yang mendalam dengan Allah yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Dalam keheningan inilah kita benar-benar mendengar, menyerap, dan menghayati Sabda Ilahi.
Gereja, dibimbing oleh teladan Maria, belajar untuk menghargai keheningan. Keheningan bukanlah sekadar ketiadaan suara; keheningan adalah sebuah ruang suci di mana Allah berbicara, hati mendengarkan, dan transformasi terjadi. Keheningan Maria menjadi model bagi kita, mengundang kita untuk berhenti sejenak, berefleksi, dan berjumpa dengan Sabda secara baru.
Ketika kita menempuh perjalanan melalui kebisingan kehidupan, semoga kebijaksanaan diam Maria menginspirasi kita untuk merangkul Firman, merenungkan misteri Kristus, dan menemukan kenyamanan dan penghiburan di kedalaman jiwa kita.
Allah dan Bapa kami yang setia, Engkau sungguh adalah “Allah yang bersama kami”. Putra-Mu telah menjadi salah satu dari kami, manusia, lahir dari Roh Kudus dan Perawan Maria. Dia datang untuk melayani. Semoga kami sadar, bahwa keselamatan dimulai dengan pelayanan. Buatlah kami siap untuk melayani dalam kasih, seperti yang dilakukan oleh Maria, bersama dengan Yesus Kristus, PuteraMu. Amin.
