Sabda Hidup
Jumat, 22 September 2023, Jumat Pekan Biasa XXIV
Bacaan: 1Tim. 6:2c-12; Mzm. 49:6-7,8-9,17-18-20; Luk. 8:1-3.
Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.”
(Luk 8: 1 – 3)
Dalam Gereja Katolik, salah satu hal yang saya amati, adalah jumlah perempuan yang terlibat dalam kegiatan Gereja. Seringkali, jumlah perempuan jauh melebihi jumlah laki-laki yang hadir pada Misa, kelompok doa dan rekoleksi, seminar, dsb. Perempuan tampaknya lebih tertarik untuk membantu ketika harus mengatur urusan Gereja. Pernahkah Anda memperhatikan ini juga?
Lukas melaporkan kepada kita tentang hari-hari biasa dalam kehidupan Yesus, berkeliling ke desa-desa dan kota-kota – berkhotbah, mengajar dan menyembuhkan. Dia menyebutkan bahwa beberapa perempuan menyertai-Nya sepanjang jalan. Yohanes menceritakan kepada kita tentang perempuan yang berdiri di kaki salib Yesus, tentang perempuan yang tersentuh oleh pelayanan Yesus yang merasa pantas untuk melayani dan menawarkan bantuan kepada-Nya. Tuhan menerima kemurahan hati mereka, yang merupakan pernyataan yang sangat besar di mata masyarakat di mana perempuan dipandang rendah dan dipinggirkan oleh rekan laki-laki mereka. Bahkan di banyak masyarakat saat ini, perempuan dipandang sebagai warga negara kelas dua. Banyak Paus dan penulis telah mengecam sikap ini dan berusaha memperbarui nilai dan martabat perempuan dalam kehidupan Gereja dan masyarakat pada umumnya.
Memang, Gereja kita sebagian besar bercorak patriarkal. Laki-laki memimpin Gereja melalui para Kardinal, Uskup dan Imam. Laki-laki dipanggil untuk imamat dalam pribadi dan nama Kristus yang adalah seorang laki-laki. Laki-laki sering terlihat di posisi teratas, tetapi sekarang ini ada banyak perempuan yang mengambil posisi penting dalam kehidupan Gereja dan dunia.
Dalam kepemipinan Paus Fransiskus, perempuan juga mempunyai peran yang lebih besar. Belum lama ini, Paus Fransiskus menunjuk tiga perempuan untuk menjadi anggota Dikasteri para Uskup, kantor Vatikan yang bertanggung jawab untuk mengevaluasi anggota baru hierarki Gereja Katolik. Mereka adalah Suster Raffaella Petrini, Suster Yvonne Reungoat dan Maria Lia Zervino. Suster Raffaella Petrini adalah seorang Fransiskan, yang telah menjadi sekretaris jenderal kegubernuran Vatikan, posisi kedua dalam pemerintahan Negara Kota Vatikan, sejak November 2021. Suster Yvonne Reungoat, pemimpin umum Puteri Maria Penolong Umat Kristiani, salah satu kongregasi cabang Salesian, menjadi salah satu dari tujuh perempuan pertama yang ditunjuk sebagai anggota departemen Vatikan untuk Hidup Bakti, sejak 2019. Maria Lia Zervino, seorang anggota dari Asosiasi Perawan-Perawan yang Disucikan “Servidoras,” adalah presiden dari Persatuan Organisasi Wanita Katolik Dunia. Dia juga seorang konsultan Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama.
Banyak pemimpin dunia sekarang ini yang adalah perempuan. Saya percaya ini adalah hal yang baik. Perempuan membawa warna tertentu, perhatian yang tulus, intuisi, dan keteguhan saat berurusan dengan orang lain. Mereka melengkapi laki-laki dan memainkan peran penting dalam pembentukan dan pemenuhan kebutuhan hidup. Lagi pula, tidak ada dari kita yang akan ada di bumi jika bukan karena seorang perempuan yang kita sebut ibu.
Bagaimanakah anda menghayati kesetaraan laki-laki dan perempuan? Apakah Anda menjunjung tinggi martabat laki-laki dan perempuan yang diciptakan menurut gambar Allah?
Tuhan, beri kami rahmat untuk menghormati dan mencintai semua orang, yang Kaucipta dalam cintaMu. Amin.
