Sabda Hidup
Jumat, 22 Maret 2024, Jumat Pekan Prapaskah V
Bacaan: Yer. 20:10-13; Mzm. 18:2-3a,3bc-4,5-6,7; Yoh. 10:31-42.
Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?”
YOH 10: 32
Yesus mengingatkan orang-orang Yahudi bahwa Dia telah melakukan banyak pekerjaan baik di antara mereka, selain memberitakan roh dari Hukum Taurat. Ia menyembuhkan banyak orang yang lumpuh dan buta, mentahirkan sejumlah besar orang kusta yang dikucilkan, memulihkan orang-orang berdosa dengan hidup yang dibaharui. Tetapi Ia tidak mendapatkan kepercayaan dan keyakinan mereka. Maka Ia menantang mereka: “Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?”
Bahkan di zaman kita sekarang ini, perbuatan baik yang dilakukan dengan niat yang baik tidak selalu berbuah penerimaan dan penghargaan. Itu terjadi karena beberapa alasan:
Perbuatan baik dapat menjadi ancaman bagi kebaikan orang lain. Kebaikan bisa dilakukan tanpa pamrih. Tapi kebaikan juga bisa dibuat karena ada motif tersembunyi. Kebaikan tanpa pamrih demi kesejahteraan orang lain dapat dipandang sebagai ancaman bagi orang-orang yang melakukan kebaikan untuk kemuliaan diri dan ambisi pribadi.
Perbuatan baik dapat membongkar rencana jahat orang lain. Inilah peperangan rohani. Tentu saja, kejahatan akan selalu membenci kebaikan. Kejahatan tidak dapat menerima sesuatu yang baik karena hal itu merupakan penghinaan baginya.
Perbuatan baik merusak politik yang buruk. Orang-orang yang ingin melanggengkan diri dalam otoritas dan kekuasaan dapat membuat orang lain dirugikan, menempatkan orang lain dalam kebutuhan, ketidaktahuan, dalam ketergantungan dan perbudakan. Setiap usaha dan niat baik untuk membebaskan orang lain, untuk membawa orang lain kepada terang, atau untuk membebaskan mereka dari segala bentuk perbudakan tidak akan pernah dipandang dengan baik oleh orang-orang yang melakukan segala sesuatu dengan jalan ketidakadilan.
Oleh karena itu, berbuat baik, menuruti perkataan dan teladan Yesus, adalah sebuah jalan kemartiran. Kemartiran secara harfiah berarti “bersaksi” – sebuah kesaksian yang dapat menyebabkan penganiayaan dan penyaliban.
Ingatlah kembali kejadian-kejadian ketika perbuatan baik dan niat baik Anda justru mendatangkan masalah dan kesulitan bagi Anda. Menurut Anda mengapa hal-hal seperti itu terjadi? Ingatlah juga kejadian-kejadian ketika Anda merasa terancam oleh kebaikan orang lain. Mengapa? Apakah Anda tetap berbuat baik meski mengalami penolakan dan ancaman?
Ya Tuhan, semoga aku tetap berbuat baik meskipun orang lain tidak menghargai perbuatanku. Amin.
