Sabda Hidup
Kamis, 4 Mei 2023, Kamis Pekan Paskah IV
Bacaan: Kis. 13:13-25; Mzm. 89:2-3,21-22,25,27; Yoh. 13:16-20.
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya. Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku. Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya, bahwa Akulah Dia. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku.
YOH 13: 16 – 20
Bagaimana anda memperlakukan mereka yang menyebabkan anda bersedih atau melukai anda, apalagi mereka itu adalah orang-orang dekat anda? Dalam pengajaran-Nya saat perjamuan terakhir, Yesus berbicara tentang kesetiaan dan ketidaksetiaan dalam sebuah relasi. Yesus sudah mengetahui sebelumnya bahwa salah satu murid-Nya akan mengkhianati-Nya. Pengetahuan seperti itu bisa dengan mudah membuat Yesus menjauhkan diri dari orang seperti itu dan melindungi diri-Nya sendiri dari bahaya. Sebaliknya, Yesus mengungkapkan kasih, persahabatan, dan kesetiaan-Nya kepada orang-orang yang adalah milik-Nya, bahkan kepada orang yang Dia tahu akan “menikam-Nya dari belakang” ketika ia mendapat kesempatan. Yesus menggunakan kutipan dari Mazmur 41:9 yang menggambarkan sebuah pengkhianatan yang dilakukan oleh sahabat terdekat. Dalam budaya pada zaman Yesus, makan roti bersama dengan seseorang merupakan tanda persahabatan dan kepercayaan. Yesus menunjukkan persahabatan seperti itu kepada Yudas tepat pada saat Yudas bersekongkol untuk mengkhianati Dia. Ungkapan “mengangkat tumitnya terhadap Aku” menegaskan kejamnya suatu pengkhianatan.
Yesus mengasihi murid-murid-Nya sampai akhir dan membuktikan kesetiaan-Nya kepada mereka itu bahkan sampai mati di kayu salib. Melalui wafat dan kebangkitan-Nya, Yesus membuka jalan baru dalam hubungan dan persahabatan dengan Allah. Yesus mengatakan kepada murid-muridnya bahwa jika mereka menerima-Nya, mereka juga menerima Bapa yang mengutus-Nya. Prinsip ini berlaku untuk semua orang yang menjadi milik Kristus dan yang berbicara dalam nama-Nya. Menerima utusan Tuhan berarti menerima Yesus sendiri. Kehormatan dan tanggung jawab besar yang dimiliki oleh seorang Kristen adalah untuk berdiri di dunia bagi Yesus Kristus. Sebagai murid-murid dan duta-duta-Nya (2 Korintus 5:20), kita dipanggil untuk berbicara bagi-Nya dan bertindak atas nama-Nya.
Apakah Anda siap untuk hidup bagi Yesus meski penuh dengan penghinaan, penolakan, pertentangan, dan penderitaan? Apakah anda tetap setia kepada-Nya apapun yang terjadi?
Allah yang kekal, Engkaulah terang bagi budi yang mengenal-Mu, sukacita bagi hati yang mengasihi-Mu, dan kekuatan bagi kehendak yang melayani-Mu; berilah kami kemampuan untuk mengenal-Mu, agar kami dapat sungguh-sungguh mengasihi-Mu, dan mengasihi-Mu agar kami dapat melayani-Mu sepenuhnya, yang melayani-Mu adalah kebebasan yang sempurna, di dalam Yesus, Tuhan kami.
(Santo Agustinus)
