Sabda Hidup
Selasa, 26 Maret 2024, Selasa dalam Pekan Suci
Bacaan: Yes. 49:1-6; Mzm. 71:1-2,3-4a,5-6ab,15,17; Yoh. 13:21-33,36-38.
Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.”…. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.”
YOH 13: 21. 28
Dalam Injil hari ini, kita menyaksikan pengkhianatan ganda. Yang satu adalah pengkhianatan yang diperhitungkan, dan yang lain adalah pengkhianatan yang bersifat impulsif. Dengan mempertimbangkan narasi ini, Paus Fransiskus dalam salah satu permenungannya menawarkan beberapa pelajaran yang berguna bagi cara kita menjalani hidup.
Yudas, salah satu dari Keduabelas Rasul, menyimpan kegelapan di dalam dirinya, dan ia bersekongkol untuk mengkhianati Yesus. Paus Fransiskus mengingatkan kita bahwa pengkhianatan sering kali dimulai dengan cara yang halus – kompromi di sini, rasionalisasi di sana. Pengkhianatan itu membusuk sampai kita memeluk kegelapan sepenuhnya. Kita harus memeriksa hati kita: Apakah kita membiarkan keinginan-keinginan untuk mementingkan diri sendiri mengalahkan kesetiaan kita kepada Kristus?
Petrus, di sisi lain, adalah seorang yang impulsif dan penuh semangat. Ia dengan gagah berani menyatakan kesetiaannya yang tak tergoyahkan kepada Yesus. Namun, rasa takut dan kelemahan menguasainya. Ia telah bersumpah untuk mengikut Tuhan bahkan sampai mati, tetapi imannya goyah, dan ia menyangkal Tuhannya tiga kali. Namun, itu bukanlah akhir dari kisah Petrus. Paus Fransiskus menekankan belas kasihan bagi mereka yang telah jatuh. Penyangkalan Petrus tidak menetukan akhir dirinya; sebaliknya, penebusan Tuhan menunggunya. Seperti Petrus, kita tersandung. Iman kita goyah, dan kita menyangkal Kristus melalui tindakan-tindakan kita atau bahkan dalam diam. Tetapi kasih karunia ilahi memanggil kita kembali.
Kita akan selalu menghadapi saat-saat pengambilan keputusan ketika kesetiaan kita kepada Kristus diuji. Apakah kita akan memilih jalan Yudas atau Petrus? Marilah kita dengan rendah hati mengakui kelemahan-kelemahan kita dengan cara yang sama seperti Petrus. Carilah pengampunan dan kesembuhan. Ayam berkokok mengingatkan Petrus akan penyangkalannya, tetapi juga menandakan harapan baginya. Pertobatannya membawa kepada pemulihan, dan ia menjadi batu karang bagi Gereja. Pengkhianatan tidak perlu menjadi kata akhir bagi kita. Yesus, dengan kasih-Nya yang tak terbatas, mengundang kita untuk bangkit dari penyangkalan kita dan melayani misi-Nya.
Tuhan, saat kami jatuh, tegakkan kami lagi. Amin.

1 Comment
bagus