Remah Mingguan

PENGADILAN SANG RAJA KASIH

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Minggu, 26 November 2023, Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam Tahun A
Bacaan: Yeh. 34:11-12,15-17Mzm. 23:1-2a,2b-3,5-61Kor. 15:20-26,28Mat. 25:31-46.

(Mat 25: 40)

Ada seorang tukang sepatu yang sudah tua. Ia bermimpi bahwa Yesus akan datang mengunjunginya esok hari. Ketika ia bangun dari tidur keesokan harinya, ia membuka jendela rumahnya dan memperhatikan orang-orang yang lewat di depan rumahnya. Ia melihat seorang perempuan bersama dengan anaknya. Perempuan itu sedang berputus asa dan kehilangan harapan dan berencana hendak bunuh diri. Ia meminta perempuan bersama anaknya itu singgah ke rumahnya, kemudian menghiburnya dan sedapat mungkin membantunya. Tak lama kemudian seorang yang sedang dalam perjalanan mengetuk pintunya. Ia Nampak lelah dan kedinginan. Tukang sepatu itu mempersilahkan orang itu beristirahat di rumahnya yang kecil, menghangatkan diri dan makan. Demikianlah sepanjang hari ia membantu sesamanya yang menderita, walau hanya atas cara sederhana.

Hingga malam tiba, tukang sepatu itu masih menunggu, kapan Yesus datang mengunjunginya. Sampai tengah malam, Tuhan Yesus belum nampak juga. Ia sudah bosan menunggu sampai akhirnya ia mengantuk dan hendak tidur. Ia mempunyai kebiasaan membaca Kitab Suci sebelum ia tidur. Saat ia membuka Kitab Suci dan membaca, ia menemukan ayat ini: “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku,” (Mat 25: 40). Saat membaca itu, hatinya terasa hangat dan baru menyadari, Tuhan Yesus telah mengunjunginya sepanjang hari.

Menutup tahun liturgi, hari ini kita rayakan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam. Bacaan Injil hari ini menampilkan Kristus sebagai Raja yang akan mengadili umat manusia. Dan ternyata ia mengadili kita bukan atas dasar pengetahuan dan gelar kita, bukan atas dasar ketenaran kita, bukan atas dasar kesuksesan kita, bukan atas dasar tinggi atau rendahnya jabatan, bukan atas dasar kecantikan dan ketampanan, bukan atas dasar banyaknya harta benda yang kita miliki, tetapi atas dasar kasih kita kepada sesama, terutama mereka yang hilang, yang terkecil, yang terakhir. Paling tidak ada tiga hal yang dapat kita renungkan.

Pertama, kasih kita kepada sesama itu sederhana. Memberi makan kepada yang lapar, memberi minum kepada yang haus, memberi tumpangan kepada orang asing, memberi pakaian kepada yang telanjang, mengunjungi orang sakit dan orang yang dipenjara adalah tindakan-tindakan sederhana. Semua dapat melakukannya dan untuk itu tidak perlu namanya tertulis di plakat atau dipublikasikan di media masa.

Kedua, kasih itu “tidak pakai hitung-hitungan”. Dalam membantu sesama kita tidak pernah berpikir bahwa kita membantu Tuhan sendiri dan dengan demikian kita mengumpulkan pahala surga. Kita membantu bukan untuk mendulang suara untuk pemilu. Kita membantu bukan untuk mendapatkan puja-puji. Kita membantu karena kodrat kita adalah mengasihi.

Ketiga, kita belajar seperti tukang sepatu tadi: “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku,” (Mat 25: 40); dan segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku,” (Mat 25: 45).

Tuhan, Raja-Ku, tuntunlah aku untuk melayani -Mu dengan sungguh-sungguh, sepenuh hati, dengan rendah hati dan sukacita. Amin.

Author

Write A Comment