Remah Harian

PEMBERIAN YANG MURAH HATI

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Sabtu, 10 Juni 2023, Sabtu Pekan Biasa IX
Bacaan: Tb. 12: 1,5-15,20; MT Tb. 13:2,6,7,8; Mrk. 12:38-44.

“Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit.
…..  Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”

(Mrk 12: 42 – 44)

Dalam masyarakat Yahudi, seorang perempuan, khususnya janda, adalah orang yang tidak memiliki siapa-siapa. Janda adalah salah satu orang yang dieksploitasi dan dimiskinkan karena dia bukan istri atau ibu bagi siapa pun; dia tidak memiliki keluarga sendiri; dianggap menjadi masalah masyarakat; kehilangan suami berarti kehilangan identitas sehingga tidak ada yang bisa memberinya identitas. Dengan kata lain, seorang janda pada saat itu adalah simbol kemiskinan dan ketidakberdayaan.

Bacaan Injil hari ini menampilkan seorang perempuan miskin dan tak berdaya, seorang janda. Namun ia menjadi teladan kemurahan hati. Injil menunjukkan kepada kita betapa murah hatinya perempuan itu karena ia tidak takut untuk tidak memiliki apa-apa. Ia memberikan dua keping uang tembaga kecilnya yang terakhir, semua yang dimilikinya, kepada perbendaharaan Bait Allah. Dia bisa saja menyimpan salah satunya dan memberikan yang lain, tetapi dia memilih untuk memberikan keduanya bahkan dalam keadaan miskin seperti itu. Dia mempercayai Tuhan sepenuhnya atas rezekinya dan tidak takut untuk tidak punya apa-apa. Inilah yang kita sebut sebagai kemurahan hati dalam Roh. Itulah sebabnya Yesus sangat menghargai kemurahan hati yang begitu ekstrem ini dan menjadikannya teladan bagi murid-murid-Nya. Bukan orang-orang kaya yang juga memberikan persembahan Yesus memberikan pujian. Hal ini karena memberi dari kelebihan mereka. Banyak orang yang berharap untuk dirayakan dan dipuji atas pemberian mereka. Namun justru orang miskin seperti janda dalam Injil hari ini, memberi dengan berlimpah dan tak mengharapkan imbalan.

Oleh karena itu, kemurahan hati tidak diukur dari jumlah persembahan kita, tetapi dari kualitas pemberian kita. Di mata Tuhan, yang paling penting bukanlah seberapa banyak kita memberi, melainkan seberapa murni niat kita saat memberi; bukan seberapa banyak yang kita lakukan, melainkan seberapa besar kita mencintai apa yang kita lakukan.

Apa yang diajarkan oleh Yesus kepada kita tentang kemurahan hati melalui teladan janda miskin ini? Pertama, kemurahan hati adalah memberi  “Tanpa pamrih.” Yesus mengatakan kepada kita bahwa kemurahan hati kita haruslah tanpa pamrih. Banyak dari kita yang tampaknya mencari balasan dan pengakuan atas apa yang kita lakukan, sehingga kita terikat pada kasih kita kepada Tuhan dan sesama. Dalam Injil Lukas, kita dapat menemukan beberapa ajaran-Nya tentang hal ini: “Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali . … jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? … Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu?  … Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu?” (6:27-38). Cinta sejati tidak mengharapkan imbalan apa pun. Yang ingin dilakukan oleh kasih adalah memberi. Apakah kita mengasihi seperti ini? Apakah kita mengasihi dengan pamrih?

Kedua, lakukanlah, bahkan hal-hal kecil sekalipun, dengan cinta. Saya yakin Anda masih ingat St Theresia dari Lisieux. Salah satu ayat Kitab Suci favoritnya adalah Kitab Amsal 9:4, yang mengatakan: “Siapa yang kecil, hendaklah ia datang kepada-Ku.” Dia adalah orang suci yang populer bukan karena hal-hal besar yang dia lakukan tetapi karena hal-hal kecil yang dia lakukan dengan cinta. Dia percaya bahwa panggilannya adalah panggilan untuk mencintai. Kadang-kadang hal-hal kecil ini dapat berupa senyuman, tepukan bahu, mendengarkan orang lain atau hanya menerima “gangguan” orang lain dengan sukacita. Yang penting bukanlah jumlah dari tindakan kita, tetapi kasih yang kita berikan kepada mereka, yang selalu menuntun kita untuk bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan.

Kapan terakhir kali kita memberikan persembahan yang paling berharga atau milik yang paling berharga bagi Yesus? Kapan terakhir kita membuat pengorbanan tertinggi bagi Yesus? Harus kita akui bahwa ada bagian dari kehidupan kita, aktivitas kita sehari-hari, atau bagian dari diri kita yang tidak kita serahkan sepenuhnya kepada Yesus.

Biarlah si janda miskin menunjukkan kepada kita bagaimana memberi tanpa menghitung-hitung, memberi dengan cinta, untuk berbagi apa pun yang kita butuhkan, dan memberi yang terbaik meskipun itu menyakitkan. Bukankah Yesus juga telah “mengosongkan diri”, memberikan hidup-Nya agar kita hidup?

Tuhan Yesus, semua yang aku miliki adalah milik-Mu. Ambillah hidupku, hartaku, waktuku dan semua yang kumiliki dan gunakanlah semua itu untuk kemuliaan-Mu. Amin.

Author

Write A Comment