Remah Harian

PEMBERI ATAU PENGHANCUR HIDUP?

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Rabu, 18 Januari 2023, Rabu Pekan Biasa II, Pembukaan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani
Bacaan: Ibr. 7:1-3,15-17Mzm. 110:1,2,3,4Mrk. 3:1-6.

“Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” Tetapi mereka itu diam saja. Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka lalu Ia berkata kepada orang itu: “Ulurkanlah tanganmu!” Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu.

(Mrk 3: 1 – 5)

Dalam Injil hari ini, Yesus dihadapkan pada suatu dilemma. Di hadapan-Nya berdiri seorang yang mati sebelah tangannya. Namun hari itu adalah hari Sabat. Haruskah Ia menunda untuk menyembuhkan orang itu? Apakah belas kasih harus dinyatakan segera pada saat itu juga? Apakah dasar dari keputusan kita untuk berbuat baik, meski aturan harus dilanggar?

Yesus menghadapkan kepada kita pertanyaan ini: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” (Mrk 3: 4).  Kemudian kepada orang yang mati sebelah tangannya itu Ia berkata: “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. (Mrk 3: 5). Bagi Yesus, perbuatan baik tidak boleh ditunda. Kita harus meringankan sakit dan penderitaan sesegera mungkin, kecuali memang ada alasan yang sahih untuk itu. Tak seorangpun harus menderita berkepanjangan tanpa alasan. Kita dipanggil untuk memulihkan martabat dan kehidupan setiap orang.

Sebaliknya, ada para ahli Taurat dan kaum Farisi berusaha untuk mengamat-amati, kalau-kalau Yesus akan melanggar hukum. “Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. (Mrk 3: 2). Perhatian mereka bukanlah orang yang menderita itu. Orang yang mati sebelah tangannya itu hanyalah umpan untuk menangkap Yesus melanggar hukum. Bagi para pemimpin Yahudi, penerapan hukum Musa dengan secermat-cermatnya bertujuan untuk memisahkan diri mereka dari orang-orang lain pada umumnya. Rakyat jelata tidak akan pernah dapat menepati hukum karena mereka terlalu miskin untuk menaati hukum-hukum itu. Jadi hukum diterapkan untuk menaikkan status mereka dan menempatkan diri mereka di atas yang lain. Memang “Farisi” berarti yang terpisah (dari yang lain). Mereka bukan pemberi hidup tetapi penghancur kehidupan. Suatu Ironi, bahwa mereka berusaha keras untuk menaati hukum Sabat, dan pada saat yang sama mereka ingin membunuh. “Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Dia,” (Mrk 3: 6).

Apakah saya sering menunda untuk berbuat baik? Untuk apa saya berbuat baik? Apakah saya seorang pemberi kehidupan atau penghancur kehidupan?

Author

Write A Comment