Sabda Hidup
Jumat, 1 September 2023, Jumat Pekan Biasa XXI
Bacaan: 1Tes. 4:1-8; Mzm. 97:1-2b,5-6,10,11-12; Mat. 25:1-13.
Tuan,tuan, bukakanlah kami pintu! Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.”
(Matius 25:11b-12)
Perumpamaan dalam Injil hari ini dikisahkan dalam konteks tradisi perkawinan setempat pada waktu itu. Pada akhir masa pertunangan, mempelai pria, bersama dengan sahabat-sahabatnya akan melaksanakan prosesi ke rumah mempelai perempuan. Kemudian, mempelai wanita, bersama dengan sahabat-sahabatnya akan bergabung dalam prosesi kembali ke rumah mempelai pria untuk perjamuan nikah. Ketika petang hari tiba, lampu-lampu atau pelita amatlah penting. Masalah terjadi ketika lima dari sepuluh gadis yang bertugas menyongsong mempelai laki-laki tidak membawa persediaan minyak yang cukup untuk pelita mereka. Maka, di waktu yang mendesak itu, mereka tergopoh-gopoh meninggalkan rombongan untuk membeli tambahan minyak. Malang bagi mereka, karena mereka terlambat untuk menjemput mempelai pria dan tertinggal. Pintu sudah dikunci, dan akibatnya, mereka tidak dapat masuk dalam perjamuan nikah itu.
Yesus menceritakan perumpamaan ini, untuk mengingatkan kita agar siap sedia untuk Dia setiap saat. Bagaimana kita memastikan bahwa kita siap sedia? Kita siap ketika kita memiliki banyak “minyak” untuk pelita kita. Apakah “minyak” itu untuk kita? Minyak tersebut terutama melambangkan kasih dalam hidup kita. Jadi, pertanyaan sederhana untuk direnungkan adalah ini: “Apakah saya memiliki kasih yang cukup dalam hidup saya?”
Kasih lebih dari sekadar emosi manusiawi. Mungkin seringkali kita mengerti kasih manusiawi sebagai sebuah emosi, perasaan, ketertarikan, dll. Kita dapat merasakan hal ini terhadap orang lain, terhadap suatu kegiatan atau terhadap banyak hal dalam hidup. Kita dapat “mencintai” olahraga, atau menonton film, dll.
Namun, kasih kristiani jauh lebih dari itu. Itu berarti kita mengasihi dengan hati Kristus. Itu berarti bahwa Yesus telah menempatkan hati-Nya yang penuh belas kasih di dalam hati kita dan kita mengasihi dengan kasih-Nya. Kasih adalah karunia dari Allah yang memampukan kita untuk menjangkau dan memperhatikan orang lain dengan cara-cara yang jauh melampaui kemampuan kita sendiri. Kasih itu adalah tindakan ilahi dalam hidup kita dan diperlukan jika kita ingin disambut di dalam pesta perjamuan Surga bersama Sang Mempelai.
Renungkanlah hari ini, apakah Anda dapat melihat hati Yesus hidup di dalam hati Anda sendiri. Dapatkah Anda melihat Dia bertindak di dalam diri Anda, mendorong Anda untuk menjangkau orang lain bahkan ketika itu sulit? Apakah Anda mengatakan dan melakukan hal-hal yang membantu orang lain bertumbuh dalam kekudusan? Apakah Tuhan bertindak di dalam Anda dan melalui Anda untuk membuat perbedaan di dunia? Jika jawabannya “Ya” untuk pertanyaan-pertanyaan ini, maka pelita kasih pasti menyala dalam hidup Anda.
Tuhan, jadikanlah hatiku tempat tinggal yang layak bagi hati ilahi-Mu. Biarlah hatiku berdetak dengan kasih-Mu dan biarlah perkataan dan tindakanku merupakan bagianku dalam kepedulian-Mu yang sempurna terhadap orang lain. Amin.
