Sabda Hidup
Jumat 27 Oktober 2023, Jumat Pekan Biasa XXIX
Bacaan: Rm. 7:18-25a; Mzm. 119:66,68,76,77,93.94; Luk. 12:54-59.
Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?”
(Luk 12: 54 – 56).
Para petani dan nelayan Palestina mempelajari langit, mengamati warna dan bentuk awan, arah dan kekuatan angin, dan seterusnya, untuk meramalkan cuaca. Angin dari barat datang dari Laut Mediterania dan membawa hujan. Angin dari selatan bertiup dari padang pasir dan membawa cuaca panas. “Tanda-tanda zaman” adalah penampakan paling awal dari berbagai peristiwa.
Berdasarkan pada kebiasaan itu, Yesus mengkritik para pendengarNya dari kalangan Yahudi, terutama di antara para pemimpin, yang tidak memiliki niat baik dan niat yang tulus untuk mendengarkan dan percaya. Oleh karena itu, mereka menutup mata terhadap terang Injil yang diberitakan oleh Yesus. Mereka mengetahui tanda-tanda kedatangan Mesias yang telah diberitakan oleh para nabi. Bahkan, mereka telah mendengar khotbah Yesus dan menyaksikan mukjizat-mukjizat-Nya. Namun, kesombongan dan prasangka mereka menghalangi mereka untuk sampai pada kesimpulan logis bahwa Yesus adalah Mesias. Oleh karena itu, dalam Injil hari ini, dengan menggunakan ilustrasi yang jelas dari ramalan cuaca Palestina pada abad pertama, Yesus menunjukkan urgensi untuk segera berbenah diri sebelum terlambat. Yesus menantang para pendengar-Nya untuk membaca tanda-tanda zaman Mesianik dalam khotbah dan pelayanan penyembuhan-Nya, dan kemudian bertindak sesuai dengan itu.
Jesus bertanya kepada para pendengarnya, jika mereka dengan bagus dapat membaca tanda-tanda cuaca, mengapa mereka tidak dapat membaca dengan bagus pula, tanda-tanda yang terjadi di depan mata mereka? Yesus telah melakukan tanda demi tanda dengan mengajar, dengan menyembuhkan orang sait, dengan memberi makan yang lapar, dengan menenangkan angin ribut, dengan membebaskan orang-orang dari kuasa roh jahat….. Namun, mereka nampaknya tidak melihat Allah yang bekerja dalam diri-Nya. Mereka terheran-heran, terkagum-kagum dan mengikutinya, namun sebatas itu saja. Sangat sedikit yang memberikan dirinya menjadi murid-murid-Nya.
Allah menyatakan kasih-Nya dalam hidup kita atas pelbagai cara. Melalu sesama di sekitar kita, melalui peristiwa-peristiwa hidup, melalui hujan, melalui panas matahari. Ia mencurahkan berkat-Nya jauh melebihi yang kita pikirkan. Namun, masih sering kita bertanya: “Mengapa Tuhan tidak mengasihi saya?” “Tuhan, Engkau di mana?” Atau kitalah yang tidak peka? Atau kitalah yang buta dan tuli terhadap kebaikan Allah?
Mari, kita buka mata, buka telinga, buka hati bagi kebaikan Tuhan, di mana saja, melalui apa saja dan siapa saja dalam hidup kita.
Tuhan Yesus, penuhi hati kami dengan cinta-Mu dan bebaskan kami dari apa saja yang menghambat kami mengenal kasih-Mu. Ubahlah hati dan pikiran kami agar dapat mengenal dan memilih yang baik dan benar sesuai kehendak-Mu. Amin.
