Sabda Hidup
Senin, 17 Juli 2023, Senin Pekan Biasa XV
Bacaan: Kel. 1:8-14,22; Mzm. 124:1-3,4-6,7-8; Mat. 10:34 – 11:1.
Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.”
(Mat 10: 34)
Pesan Injil hari ini terdengar seperti kontradiksi. Dalam satu bagian dari Kitab Suci, Kristus menjanjikan damai: “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu,” (Yoh 14: 27). Tetapi dalam Injil hari ini Ia mengatakan: “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.” Lho, koq gitu?
Yesus memang membawa damai. Tetapi, “Damai yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu,” (Yoh 14: 27). Damai yang Ia berikan bukanlah “damai” karena kompromi dengan kejahatan dan mentoleransi ketidakadilan dan kesalahan. Seorang pengikut Kristus harus memberi contoh damai seperti yang diharapkan Yesus, kendati dengan mengorbankan relasi yang terdekat sekalipun.
Ada sebuah contoh. Thomas More (1477 – 1535) adalah seorang pengacara yang brilian. Ia diangkat menjadi High Chancellor of England oleh Raja Henry VIII. Pada suatu saat dalam hidupnya, ia harus memilih antara persahabatan dan ketaatan terhadap raja atau keyakinan dan hati nuraninya. Ia memegang teguh kebenaran sesuai dengan hati nuraninya dan menentang keinginan Raja Henry VIII menceraikan Ratu Katarina dan menikahi Anne Boleyn serta menolak mengakuinya sebagai kepala tertinggi Gereja Inggris.
Karena itu ia pun dijatuhi hukuman mati. Saat keputusan hukuman dibacakan, Thomas mengampuni para hakim. Ia bahkan mengatakan bahwa ia berharap untuk berjumpa dengan mereka di surga nanti. Dan ia sungguh bermaksud demikian. Di tempat pelaksanaan hukuman mati, saat ia akan dipancung, Thomas mencium pipi algojo. Kemudian ia bergurau pada sang algojo agar berhati-hati supaya janggutnya jangan sampai terpotong sebab janggutnya itu tidak bersalah pada raja. Kata-kata terakhir sebelum ia wafat adalah: “Saya mati sebagai hamba raja yang baik, tetapi Tuhan tetap menjadi yang pertama.”
Akan ada situasi dalam kehidupan kita, mungkin tidak sedramatis Thomas More, ketika kita, juga, menolak damai palsu, menolak berkompromi dengan kejahatan dan kesalahan. “Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!” seru nabi Yesaya (Yes 1: 16 – 17).
Berjuanglah untuk damai sejati.
Tuhan, berikanlah aku hikmat dan keberanian yang aku perlukan untuk menerima semua yang Engkau nyatakan. Tolonglah aku untuk mengasihi Engkau di atas segalanya dan untuk menerima apa pun konsekuensi dalam mengikut Engkau. Amin.
