Sabda Hidup
Sabtu, 21 Januari 2023, Sabtu Pekan Biasa II, Peringatan Wajib St. Agnes
Bacaan: Ibr. 9:2-3,11-14; Mzm. 47:2-3,6-7,8-9; Mrk. 3:20-21;
Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makanpun mereka tidak dapat. Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.
(Mrk 3: 20 – 21)
Andaikan salah satu anak anda mengatakan kepada anda bahwa ia ingin pergi ke suatu daerah pelosok yang miskin dan terpencil untuk bermisi, dan membantu orang-orang di sana meningkatkan taraf hidup mereka serta membagikan cinta Yesus kepada mereka, apa yang akan menjadi reaksi anda?
Apapun reaksi anda, mungkin anda akan bertanya-tanya. Tidak dapatkah kamu melakukan sesuatu yang kurang lebih “normal” seperti orang-orang yang lain? Coba lihat orang-orang yang mengejar karier, mengejar keberhasilan (materi). Lalu apa yang akan diperoleh dengan semua itu? Bagaimana masa depanmu? Apa yang akan orang bilang?
Barangkali itu juga yang dipikirkan oleh kerabat Yesus. Mengapa tidak mencari kehidupan yang lebih jelas sebagai tukang kayu saja? Mengapa Ia memilih orang-orang seperti itu untuk menyertai Dia? Mengapa Ia selalu melawan otoritas agama? Mengapa justru menjadi pengkotbah miskin seperti itu? Jangan-jangan Ia nanti akan dianggap pemberontak dan akan ditangkap oleh pemerintah. Mengapa tidak cari yang aman-aman saja….?
Sahabat-sahabat, mengikuti Yesus tentu mengandung risiko. Barangkali kita harus membuang rasa aman superfisial kita, harus tegar dengan pendirian dan nilai-nilai yang kita pegang, harus berani melawan apa yang menjadi arus umum. Misalnya, dalam budaya korupsi, seorang wakil rakyat atau aparat yang jujur, cerdas dan mau berkorban adalah penyimpangan dan mengandung risiko. Di masyarakat yang malas, curang, tidak jujur, seorang yang serius, pekerja keras dan jujur akan dianggap “gila”.
Ketika Lucy Agnes, anak pemilik restoran Ayam Bulungan, keponakan Bos Djarum memutuskan untuk meninggalkan kekayaannya yang berlimpah dan memilih bergabung dengan Kongregasi Misionaris Cinta Kasih yang diririkan oleh Ibu Teresa dari Calcutta mungkin dianggap “tidak waras” atau “gila”.
Beranikah anda menjadi “orang-orang gila” seperti Yesus yang berbelas kasih kepada orang miskin dan berdosa, gila seperti Zakheus yang berani mengembalikan harta kekayaannya yang diperoleh dari kecurangannya, gila seperti St Paulus yang menyerukan keadilan dan kebenaran, gila seperti Ibu Teresa yang mengabdikan hidupnya untuk orang-orang terbuang?
St. Agnes dari Roma

Perawan dan Martir
Hari ini kita peringati St. Agnes yang hidup pada masa Gereja Perdana, yaitu masa ketika orang-orang Kristen mengalami penindasan serta penganiayaan yang kejam dalam pemerintahan bangsa Romawi. Ia wafat sebagai martir sekitar tahun 304 – 305 dalam pemerintahan Kaisar Diocletianus. Usia Agnes pada waktu itu baru 13 tahun. Meskipun tidak banyak catatan sejarah yang ada mengenai St. Agnes, ia amat populer. Hal ini terutama karena St. Ambrosius serta para kudus Gereja lainnya banyak menulis tentangnya.
Agnes seorang gadis remaja yang cantik jelita dan berasal dari keluarga kaya. Banyak pemuda bangsawan Romawi terpikat padanya; mereka saling bersaing agar dapat memperisteri Agnes. Tetapi Agnes menolak mereka semua dengan halus dan mengatakan bahwa ia telah mengikatkan diri pada seorang Kekasih yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Procop, putera Gubernur Romawi, termasuk salah seorang di antara para pemuda yang amat marah dan merasa terhina oleh penolakan Agnes. Mereka melaporkan Agnes kepada Gubernur dengan tuduhan pengikut Kristus.
Pada mulanya Gubernur bersikap ramah serta lembut kepadanya. Ia menjanjikan harta serta kedudukan jika saja Agnes mau menyangkal imannya dan menikah dengan Procop. Agnes menolak, berkali-kali diulanginya pernyataannya bahwa ia tidak dapat memiliki mempelai lain selain dari Yesus Kristus. Karena pernyataannya itu, Agnes diseret ke depan mezbah berhala dan diperintahkan untuk menyembahnya. Bukannya menyembah berhala, Agnes malahan mengulurkan tangannya dan membuat Tanda Salib, tanda kemenangan Kristus. Gubernur kemudian memperlihatkan kepadanya api penyiksaan, kait besi, serta segala macam alat penyiksa lainnya, tetapi gadis muda itu tetap tabah dan tidak gentar sedikit pun.
Karena Agnes tetap keras kepala, Gubernur mengancam akan mengirim Agnes ke rumah pelacuran. Tetapi Agnes menjawab, “Yesus Kristus amat pencemburu, Ia tidak akan membiarkan kemurnian para mempelainya dicemarkan seperti itu. Ia akan melindungi dan menyelamatkan mereka.”
Katanya lagi, “Kalian dapat menodai pedang kalian dengan darahku, tetapi kalian tidak akan pernah dapat menodai kesucian tubuhku yang telah kupersembahkan kepada Kristus.”
Gubernur amat marah mendengar perkataannya itu. Ia memerintahkan agar Agnes, saat itu juga, dikirim ke rumah pelacuran dengan perintah bahwa semua orang berhak menganiayanya sesuka hati mereka.
Orang banyak datang untuk menyaksikan peristiwa itu. Tetapi, ketika melihat pancaran sinar wajah Agnes yang kudus dan agung serta sikapnya yang tenang, penuh kepercayaan kepada Kristus yang melindunginya, orang banyak itu takut dan tidak berani mendekat. Seorang pemuda tampil dan berusaha mengganggu Agnes. Pada saat itu juga, dengan kilat yang dari surga, pemuda itu tiba-tiba menjadi buta dan jatuh ke tanah dengan tubuh gemetar. Teman-temannya dengan ketakutan membopongnya serta membawanya kepada Agnes yang kemudian menyanyikan lagu puji-pujian kepada Kritus, sehingga pemuda itu dapat melihat serta sehat kembali.
Gubernur amat murka dan menjatuhkan hukuman mati pada Agnes. Algojo mendapat perintah rahasia untuk dengan segala cara membujuk Agnes, tetapi Agnes menjawab bahwa ia tidak akan pernah menyakiti hati Mempelai Surgawi-nya. Orang banyak menangis menyaksikan seorang dara yang lembut dan jelita dengan belenggu dan rantai yang terlalu besar bagi ukuran tubuhnya yang kecil, digiring ke tempat hukuman mati. Ia terlalu muda untuk memahami arti kematian, namun demikian ia siap menghadapinya tanpa gentar sedikit pun. Sesungguhnya, Agnes diliputi sukacita yang besar karena ia akan segera diperkenankan menyongsong mempelainya. Sama sekali tidak dihiraukannya ratap tangis mereka yang memohonnya untuk menyelamatkan nyawanya.
“Aku tidak akan mengkhianati Mempelai-ku dengan menuruti keinginan kalian,” katanya, “Ia telah memilihku dan aku adalah milik-Nya.” Kemudian Agnes berdoa, membungkukkan badannya untuk menyembah Tuhan, dan segera menerima hunjaman pedang yang menghantarkan jiwanya yang suci kepada kekasihnya. Agnes telah mempertahankan kemurniannya dan memperoleh mahkota martir di surga.
